Terharu Mengenang (Jasa) Ibu

Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku. Aku akan menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya di halaman belakang untuk makan malam yang lengang. Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku makan tanpa bernafas.

Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum. Aku ingin menyimak seluruh kata yang tidak ia ucapkan. Aku ingin hari-harinya sibuk menebak siapa yang membuatku tiba-tiba suka bernyanyi di kamar mandi.”

M. Aan Mansyur, Pulang ke Dapur Ibu dalam Melihat Api Bekerja

Pagi menuju tadi saya membuka youtube untuk melihat video-video inspiratif. Meski kalau boleh jujur awalnya mah ngetik keyword film cinta romantis sih, he. Lalu ada beberapa video Thailand yang memang berisi iklan namun kontennya mengharukan atau justru menginspirasi. Tibalah saya di video dengan judul agak lebay, Dijamin Nangis Nonton Iklan Thailand Tentang Ibu Ini. Saya klik lah video itu tanpa mikir lama.

Beberapa menit pun berlalu. Dan air mata mulai berjatuhan tan tertahankan. Tentang ibu, atau saya memanggil ibu saya dengan panggilan mamah memang selalu mengundang haru saat mengingat jasa-jasanya. Terlebih banyak hal-hal yang saya pikir tak pantas saya lakukan padanya, termasuk menunda-nunda kelulusan karena alasan tak jelas.

Mamah ingin saya segera lulus agar bisa melanjutkan studi. Katanya biar uangnya bisa tersalurkan pada hal-hal yang semestinya. Kalau sekarang kan kos perbulan harus dibayar, uang kiriman terus diberikan, namun progresnya nihil. Saya pun teringat dengan kenangan-kenangan bersamanya.

Saat kecil dulu ketika saya harus ke dokter beberapa kali, dan mamah selalu ada di samping saya, menemani tanpa mengeluh. Mamah mengajarkan tentang makna mencintai yang lalu diikuti oleh memberi sebanyak-banyaknya tanpa henti bahkan sedari saya belum dewasa.

Ada banyak tayangan yang lewat di ingatan saya saat video itu ditonton. Lalu mata air air mata mendesaknya agar keluar dari sebuah kelopak tempat mata berdiam diri. Saya membenamkan wajah di atas bantal sambil berusaha menahan agar air tak terlalu banyak mengalir.

Mah, sedang apa engkau sekarang? Saat di rumah selain saya selalu minta dipijat dengan alasan pegal, saya pun sesekali memijatinya. Saya ingin terus dekat bersamanya. Bersama ia yang mencintai saya mungkin lebih dari semua orang yang pernah saya jumpai.

Mamah adalah rumah, tempat saya berpulang. Sebab ia selalu memberikan curah cintanya tanpa pernah sekali pun alpa. 

Mamah lah yang selalu mengingatkan hal-hal kecil seperti charger HP dan laptop, hingga barang-barang vital lain seperti flashdisk saat saya hendak kembali merantau ke Bandung. Ia selalu ingin anaknya terhindar dari celaka dan keadaan tak menguntungkan lainnya. Mamah adalah yang alun doanya tak pernah berhenti dari mulut dan hatinya.

Mamah selalu mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati saat mengendarai motor. “Tong ngebut jang mawa motor teh!” katanya ketika mamah saya bonceng atau saat akan pergi juga pulang ke dan dari Bandung. Bodohnya, saya selalu mendebat wanti-wanti dari mamah itu. Padahal itu manifestasi kecintaan dan rasa sayangnya ke saya. Maafkan saya mah!

Untuk semua ibu di seluruh dunia, hormat saya kepada kalian, buat mamah saya terutama. Kami berhutang banyak pada kalian. Semoga kalian dirahmati Tuhan. Selama-lamanya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 21 Agustus 2017

Advertisements
Terharu Mengenang (Jasa) Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s