Sudahkah Kita Membaca, Hari Ini?

tumblr_inline_ou9e20yijn1t773pi_500

Semua orang bisa menulis. Atau lebih tepatnya semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk punya kemampuan menulis. Sebagaimana mengerjakan pekerjaan lain, kalau yang bersangkutan berkehendak, ia bisa melakukannya. Sudah pasti bakal mampu. Lain soal bisa kemauan itu nihil dalam dirinya.

Namun saya kira hanya sebagian kecil dari yang menulis itu yang mampu menghasilkan tulisan bagus. Ini persangkaan saya yang mesti ditindaklanjuti dengan penelitian serius. Agar tidak hanya menebak-nebak saja karena saya melihat kasus-kasus tertentu sehingga dengan mudah menggeneralisirnya seolah-olah semuanya seperti itu.

Tulisan berkualitas pun tidak ujug-ujug hadir ke dunia dengan proses instan. Ia tercipta dari akumulasi ketekunan menulis, pengalaman pribadi yang jadi bahan refleksi, dan analisis-analisis tajam di mana ia datang dari kebiasaan membaca dengan penuh sungguh-sungguh. Semuanya berkelindan membentuk satu jalinan. Maka bila salah satunya hilang, jalannya bakal pincang. Tidak normal. Maksudnya akan ada ketersendatan dalam proses memproduksi sebuah tulisan.

Ketiga musabab yang menjadi rahim tulisan bagus bisa lahir sebenarnya mengarah pada satu aktivitas ini, yakni membaca. Hanya saja ada yang objeknya berupa teks, ada juga dalam bentuk konteks. Membaca buku, artikel, jurnal, cerita-cerita pendek di internet, koran, selebaran yang dibagikan orang-orang di tempat umum atau berupa buletin saat shalat jumat, karya tulis ilmiah, dan hal-hal yang bisa dibaca secara langsung lain merupakan bacaan yang sifatnya teks.

Sementara itu, mengamati hal-hal yang terjadi di sekeliling, melihat secara teliti apa-apa yang dirasakan hati, memberikan perhatian lebih terhadap apa-apa yang terjadi dalam hidup di masa lampau, menjadi bagian dari membaca dengan objek berupa konteks. Hingga satu aktivitas lain berupa menulis itu sendiri sebetulnya merupakan kerja membaca.

Menulis hakikatnya kita sedang membaca sesuatu di dalam alam pikiran. Tentu sebelumnya informasi tersebut dimasukan lewat membaca dalam arti yang sesungguhnya, mencerna teks dan konteks tadi secara terfokus. Di dunia ini, lalu apa yang bukan proses membaca?

Penulis Keren adalah Pembaca yang Lahap

Rasa-rasanya semua penulis  besar, dan penulis kecil juga, maksudnya penulis yang belum tenar merupakan para pembaca yang gandrung akan buku dan sumber bacaan lain. Sebab seorang penulis sejati selalu ingin memberikan yang terbaik pada pembacanya lewat sesuatu yang ia tulis. Bila tak ada kebaruan dalam hal penyajian tulisan, sudut pandang anyar tatkala melihat satu ide dasar , sesuatu yang membuat pembaca tergerak dan tercerahkan, maka dapat dipastikan sang penulis belum berhasil menulis dan perlu melakukan evaluasi besar-besaran. Dan membaca memberikan fasilitas itu bagi penulis.

Lewat teks-teks—saya ingin memfokuskannya pada bacaan yang sifatnya konkret—akan didapatkan pemahaman-pemahaman dan perspektif baru sehingga berimplikasi pula pada kualitas tulisan yang dihasilkan. Dan kesadaran bahwa lebih banyak hal yang belum diketahui, maka ia pun terus menerus membaca tanpa henti. Sebuah dorongan yang bersumber dari sikap rendah hati mereka. Sebab jika yang bersangkutan sudah merasa cukup, merasa pintar, maka buat apa mereka membaca? Tapi rata-rata penulis yang baik selalu menyetel dirinya pada mode bersikap tawadu bahwa dirinya membutuhkan informasi dan ilmu-ilmu baru.

Coba baca perjalanan seorang Eka Kurniawan, Aan Mansyur, Acep Zamzam Noor, Zen RS. dan penulis-penulis besar lainnya. Tengok betapa mereka sedari kecil, bahkan sebelum memutuskan di masa depan akan menulis dan menjadi penulis, mereka sudah membaca. Menarik sekali kisah-kisah mereka untuk dijadikan salah satu sumber inspirasi bagi yang ingin menjadi penulis tapi masih bersikap biasa-biasa atau bahkan lebih parahnya enggan membaca sama sekali karena minat untuk melakukannya memang tak ada. Selain tentu penyumbang terbesarnya tak lain dan tak bukan adalah ketaklukan kita akan rasa malas.

Rata-rata memang kebiasaan membaca buku itu distimulus dari lingkungan di sekitar dirinya yang memang memungkinkan untuk itu. Biasanya kakek-nekek, ayah-ibu, dan orang-orang terdekat lain seperti guru di sekolah menanamkan secara langsung maupun tidak, budaya membaca sedari anak-anak.

Saya ingat bahwa seorang Zen RS. terkondisikan membaca sebab di rumahnya yang waktu itu berukuran kecil kertas-kertas dan buku-buku berserakan di sana-sini sebab orang tuanya bekerja sebagai seorang guru. Buku menjadi tidak asing bagi seorang Zen kecil. Hingga akhirnya kenangan masa lalu itu terus hidup lama dan membuat aktivitas membaca bukan sebagaimana dipersangkakan sebagian besar orang Indonesia yang dianggap membosankan, justru membaca menjadi kegiatan mengasyikan.

Hal yang kurang lebih sama pun bisa ditemui dari perjalanan membaca penulis seperti Eka Kurniawan, Aan Mansyur, Acep Zamzam Noor, Pramodya Ananta Toer, dan penulis-penulis lain baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Terakhir, mari kita bertanya pada diri masing-masing! Sebagaimana bersedekah, sudahkah kita membaca, hari ini? 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 6 Agustus 2017

Sumber gambar: Pixabay.com 

Advertisements
Sudahkah Kita Membaca, Hari Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s