Salah Menetapkan Perbandingan

Dulu sehabis membaca sedikit cerpen-cerpennya om Seno saya jadi merasa inferior untuk menulis cerpen. Sekarang juga perasaan itu masih terus membayangi. Saya merasa tak pantas menuliskannya. Menulis cerpen seolah-olah menjadi pekerjaan orang-orang terpilih yang sudah melakukan kerja membaca buku dengan jumlah sangat banyak dan mampu menangkap momen-momen menarik serta mampu menyisipkan kebaruan di tulisannya itu sehingga pembaca betah berlama-lama dengannya. Dan orang seperti saya yang tak pernah belajar secara khusus khaifiyah menulis cerpen haram untuk coba-coba melakukannya.

Sebelumnya beberapa kali saya mencoba membuat cerpen. Tentu kalau diserahkan untuk dikoreksi sama pakar cerpen atau minimal ke orang yang paham seluk beluk cerpen saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib tulisan itu?

Mungkin kalau diserahkan dalam format dokumen word, seperti apa yang dilakukan seorang senior kang Zen RS. terhadap tulisannya, sudah di ctrl+A dan langsung diakhiri dengan menekan tombol delete di keyboard. Bye. Jika sudah di print out, boleh jadi kertas berisi cerpen tersebut disobek-sobek lalu di hamburkan potongan-potongannya ke udara, kalau tidak dibakar dan abunya dilarung ke selokan saking jeleknya kualitas karya saya itu.

Itu bisa sangat menghantui saya karena salah mengambil langkah dalam menentukan standar. Saya anak kemarin pagi, yang baru saja belajar menulis mengkomparasikan kualitas karya dengan SGA, penulis yang berkarya dari kapan tahun. Ya, bakal kabeubeut atuh. Jelas akan menciptakan sisi minder yang dominan dalam mengupayakan sebuah pencapaian tertentu dalam hal menulis cerita pendek.

Saya merasa tersadarkan dengan apa yang ditulis Muhidin M. Dahlan mengenai kewajiban penulis adalah terus menulis, apa pun yang terjadi, termasuk ketika dikritik habis-habisan pembaca atau lebih tinggi oleh seorang kritikus. Tulisannya ditulis berdasarkan pengalaman Gus Muh sendiri karena bukunya banyak dianggap tidak layak atau dipandang kurang berkualitas.

Tapi, karena ia memutuskan untuk terus menapaki jalan kepenulisan ini, ia terus bergerak walau banyak orang yang mungkin mencemooh karena kadar karyanya dinilai biasa-biasa saja. Dengan penuh kesadaran, penulis buku Inilah Esai ini tahu konsekuensi dari menulis akan banyak komentar-komentar, baik yang ditujukan untuk menjatuhkan atau justru cara agar derajat tulisannya terus meningkat.

Di paragraf yang menjelaskan tentang penyebab banyaknya orang-orang yang pamit dari jalan kepenulisan, saya merasa sangat terwakili dan menjadi jalan berubahnya perspektif dalam menulis cerpen. Berikut kutipan sakti yang menguatkan saya agar mengalahkan rasa takut dan malu untuk belajar terus menerus menulis cerita sarat makan pada media yang terbatas jumlah kata:

“Mengapa itu bisa terjadi? Entahlah! Selain karena mentalnya bukan mental petarung, mungkin saja sang (calon) penulis belum apa-apa sudah memosisikan mutu karyanya seperti mutu karya penulis-penulis berkelas ketika buku debutan pertamanya akan terbit. Kalau asumsi yang diternakannya di pikiran begini ini, wajarlah bila karyanya tak kunjung-kunjung lahir. Bahkan karya sederhana sekalipun. Apa sebab? Mereka menggayuti dirinya sendiri yang masih dalam proses memulai dengan patokan standar yang begitu melambung tinggi. Ini yang disebut tidak mengukur kemampuan diri. Karena itu jangan terlalu berharap banyak ada karya yang lahir dari pikiran seperti ini. Sudah mampus sejak dalam pikiran.”

Merasa tak ada apa-apanya dibanding karya orang lain tak sepenuhnya salah. Justru itu membuka kemungkinan kita tak bersikap arogan hanya karena telah membuat satu pencapaian tertentu. Dengan begitu sikap tawadu akan dikedepankan sebab sepenuhnya tahu kalau di atas langit masih ada langit. Namun, jika kasusnya malah lari kepada menghentikan ikhtiar mewujudkan mimpi—dalam hal ini menjadi penulis yang produktif dan melahirkan karya-karya berkualitas—karena merasa rendah diri, ini keliru yang terlalu. Ini nasihat yang dialamatkan untuk diri saya sendiri.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 2 Agustus 2017

Sumber gambar: Maxmonroe.com

Advertisements
Salah Menetapkan Perbandingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s