Kenapa Saya Suka (Menulis) Puisi?

Saya menulis puisi sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah. Hanya saja memang waktu itu menulis serampangan dengan tanpa tahu puisi yang baik dan tidak itu seperti apa. Saya hanya mengandalkan feeling saja.

Awal-awal ketertarikan pada puisi yaitu saat saya terinspirasi seorang kakak kelas yang menulis puisi di sebuah buku catatan. Buku itu dibungkus rapi dan diisi puisi-puisi karangannya yang ditulis tangan dengan sangat bagus. Mungkin didorong atas dasar rasa sukanya pada seseorang alasan dia bisa seproduktif dan seromantis itu. Saya pun ingin sekali mengikuti jejaknya.

Bermodalkan sedikit pengetahuan di kelas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membahas mengenai puisi, saya pun mengarang-ngarang sendiri beberapa judul puisi dan menuliskannya di sebuah buku catatan.

Saya memberitahukan hal itu ke teman sekelas yang juga menyenangi puisi agar upaya tersebut bisa bertahan lama dan terus semangat untuk dijalani. Sampai saat ini buku kumpulan puisi itu masih ada di rumah. Meski saya lupa menyimpannya di mana. Kebiasaan di masa silam itu akhirnya pada satu ketika membuahkan hasil.

Saya memenangi lomba puisi perjuangan yang diselenggarakan sebuah radio di Ciamis. Saya juara ke-3 saat itu (kelas 8 Madrasah Tsanawiyah) bersanding bersama dua orang dewasa yang sepertinya berpengalaman. Sementara saya hanya anak kemarin sore yang hanya mengandalkan mendengarkan puisi-puisi peserta lomba yang dibacakan tiap malam di radio tersebut untuk dijadikan referensi.

Lalu para pemenang harus membacakan puisinya masing-masing secara on air di radio. Itu pertama kali saya masuk ke ruang siaran. Ternyata ruangannya kecil dan banyak tombol-tombol yang digunakan penyiar dan crew lainnya mengudara menyampaikan pesan-pesan. Tentu pesannya ada yang baik, biasa saja, atau bahkan buruk.

Kebiasaan menulis puisi berlanjut saat saya mondok di Pesantren Al-Ikhwan Cibeurem Tasikmalaya. Saya bersekolah di SMA Negeri 1 Tasikmalaya sambil nyantri di sana. Hanya saja produktivitasnya tak jauh beda dengan saat saya masih di MTs. Tidak ada peningkatan signifikan. Dan itu memang hanya sekadar hobi.

Saat kuliahlah akhirnya minat terhadap puisi kian meninggi. Saya mulai melebarkan jangkauan bacaan buku kumpulan puisi sehingga kualitas puisi saya pun membaik ketimbang sebelumnya.

Beberapa kali saya puisi ke koran-koran seperti Riau Pos, Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dan yang lain. Salah satu redaksi koran tersebut mengirimi saya balasan kalau kualitas puisi saya biasa-biasa saja dan cenderung tidak ada peningkatan. DItambah pula tema-tema puisinya pun kurang ter-eksplore. Saya sempat sedih menerima kenyataan penolakan tersebut meski akhirnya itu jadi bahan evaluasi kedepannya.

Belakangan ini saya iseng mengirim beberapa judul puisi ke Pikiran Rakyat. Saya tak terlalu berekspektasi saat mengirimnya. Ketimbang puisi, saya lebih ingin opini saya yang dimuat. Dan itu pun saya lakukan lebih awal dan lebih sering daripada puisi.

Rubrik Forum Guru sasaran saya dari sejak dulu. Sebab ada kakak tingkat yang sering sekali tulisannya dimuat di rubrik itu. Saya pun sangat terilhami untuk iseng-iseng mencoba mengirim ke sana. Apalagi honornya menggiurkan. Saya membayangkan kalau minimal dalam sebulan tulisan saya dimuat, koleksi buku-buku di kamar kos bisa cepat jadi banyak. He. Mari agak mengesampingkan dulu memikirkan soal honor. Yang penting berkarya dulu dengan serius. Honor mah mengikuti. Pasti.

Lalu di akhir bulan Juli, saat saya sedang iseng-iseng mengetikkan nama di google ternyata ada nama saya di salah satu web yang mengarsipkan sastra di hari Minggu pada beberapa koran. Setelah saya cek di e-paper Pikiran Rakyat, puisi saya benar-benar dimuat. Saya pun tidak jadi mengurungkan niat untuk pergi dari puisi dan mengakrabi menulis (hanya) esai.

Setelah anugrah dimuatnya puisi saya di koran, saya (merasa) semakin produktif menulis puisi dan ingin berkali-kali mengirimkannya meskipun tidak kunjung nongol di koran kembali. Bagi saya tulisan seseorang dimuat di koran merupakan indikator kalau orang itu berpotensi dalam hal menulis. Pernyataan saya ini tidak untuk disetujui. Sangat boleh untuk diperdebatkan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 18 Agustus 2017

nb: Cipasung karya pak Acep Zamzam Noor merupakan salah satu puisi yang membuat saya jatuh cinta sama jenis karya sastra ini.

Advertisements
Kenapa Saya Suka (Menulis) Puisi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s