Menangkal Terorisme Lewat Mondok di Pesantren

Berita di televisi saat ini didominasi oleh tema-tema seksi semacam bullying, korupsi, narkoba, dan yang tak kalah menjadi sorotan adalah tentang isu radikalisme. Para pakar jadi menerima banyak pekerjaan dadakan untuk mengomentari permasalahan yang dianggap genting itu.

Tak cukup satu kali, segmen untuk membicarakan problem yang mengancam kelangsungan bangsa ini berulang-ulang menjadi opsi tayang karena lumayan memiliki rating tinggi. Bagi industri televisi, tingginya rating menjadi indikator satu konten acara banyak diminati pemirsa. Entah itu bermanfaat atau tidak sebenarnya. Enggak jadi urusan krusial.

Dari sekian tema tersebut, tema radikalisme yang termanifestasi dalam aksi paling brutal berupa keputusan untuk melakukan pemboman di tempat-tempat yang dianggap strategis menarik untuk diperbincangkan. Maksudnya bukan untuk diolok-olok atau dijadikan lelucon.

Saya enggak habis pikir saja dengan mereka yang sangat terobsesi iming-iming jadi pengantin syurga sebagaimana yang sering didoktrinkan petinggi-petinggi ajaran terorisme. Apa enggak ada pintu lain apa untuk masuk syurga mas, mba?

Kasus pemboman yang menggegerkan publik dengan tujuan utama para polisi dan penegak hukum baru-baru ini terang saja menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Bila ini terjadi, salah satu tujuan dari para penebar kerusakan itu sudah mendekati berhasil.

Teror dalam bentuk ancaman lewat media  apa pun termasuk hanya lewat pesan pendek hakikatnya ingin membuat ketidaktenangan. Maka dari itu para pengamat terorisme selalu mengimbau masyarakat untuk tak lekas panik dengan isu-isu semacam ini. Bahkan kalau bisa, kita diharapkan menunjukan ketidakgentaran itu. Walau tentu rasa takut tidak mudah dihilangkan begitu saja. Intinya, propaganda bermuatan ancaman-ancaman dengan tujuan agar suasana tenang berubah jadi tegang mesti dilawan sebisa mungkin, bagaimana pun caranya.

Saya jadi teringat wejangan pimpinan PonPes Al-Ikhwan Cibeureum Tasikmalaya, bapak Prof. KH. Muhsin An Syadilie, saat Silaturahim sekaligus Reuni Alumni Santri pada tanggal 4 Syawal lalu. Katanya Hubbul Wathan minal iman. Ulah aya alumni Al-Ikhwan anu jadi teroris! Teu rido bapak mah. Kajaba neror-neror kedoliman. Eta mah insya Allah bahagia. (Hubbul Wathan minal iman. Jangan ada alumni Al-Ikhwan yang jadi teroris! Bapak sangat tidak rida. Kecuali meneror kezaliman. Itu insya Allah membahagiakan).

Dari sekian banyak upaya preventif penyebaran paham-paham radikalisme yang salah satunya ajaran terorisme ini adalah dengan mempopulerkan kembali Pondok Pesantren. Sebagai seorang (eks) santri, sepengalaman saya tak pernah para ustaz di Pesantren mengajarkan kami, para santrinya, untuk berontak kepada negara apalagi sampai menghancurkan fasilitas-fasilitas yang ada atau juga dengan dalih memerangi kafir—yang padahal tak semua kafir juga harus diperangi, keles— sehingga menghalalkan segala cara atas nama amar ma’ruf nahyi munkar. Dakwah meskipun tujuannya baik, harus disertai dengan cara-cara yang baik pula. Coba deh sesekali datang ke pesantren!

Kami disibukkan dengan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an juga bait-bait kitab ilmu alat –jurmiyah, imrity, alfiyah dan lainnya—hampir setiap hari. Boro-boro sempat merencakan aksi teror di tempat-tempat yang berisi mayoritas non muslim, Bali misalnya, perhatian kami tercuri dengan kantuk yang sangat karena hampir sehari-semalam berkutat dengan kitab-kitab arab gundul yang menanti untuk dikaji. Ditambah lagi tugas piket menanak nasi dan menyapu lingkungan asrama pesantren di tiap pagi dan sore hari.

Kapan kami sempat mempelajari cara-cara pembuatan bom dan skenario meledakkannya di spot-spot yang—katanya—banyak terdapat orang kafirnya itu? Anda kok bercanda. Enggak lucu. 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 20 Juli 2017

Advertisements
Menangkal Terorisme Lewat Mondok di Pesantren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s