Membaca dan Warisan yang Layak Disiapkan

tumblr_inline_otgtvk89en1t773pi_500

Membaca salah satu artikel tentang jumlah buku yang dibaca selama setahun oleh seorang anak di Inggris yang di share seorang teman di grup whatsapp prodi saya, membuat saya jadi merenung agak dalam. 1000 buku menGile nggak tuh?

Mungkinkah? Itu respon berupa pertanyaan yang terlontar pertama kali, seolah meragukan fakta yang baru saja saya baca. Pertanyaan itu jika ditilik kembali ternyata kalau boleh jujur adalah sebuah upaya pembelaan dari dalam diri saya.

“Ah itu mah paling juga sekian puluh persennya buku-buku tipis yang sekali duduk juga selesai.” Sisi baik diri saya bilang, “ah tidak. Kamu jangan berpikiran picik kayak gitu!” Bukannya mikir, saya sudah baca berapa buku selama ini—jangan sempit hanya setahun—, saya malah ngeles. Mencari pembenaran.

Anak sekecil itu ternyata mampu anteng menghabiskan hari-harinya untuk duduk manis membaca buku. Saya pun sepakat dengan komentar salah satu anggota grup kepenulisan yang bilang kalau kebiasaan baik si anak itu buah dari keteladanan orang tuanya.

Lalu saya kamana wae? Selama setahun, sudah berapa buku yang habis dibaca plus juga paham dengan isi-isinya? Malu saya, semalu-malunya. Bukankah malu itu sebagian dari iman? Apalagi ini malu karena sadar kalau prestasi kita jauh tertinggal dari orang lain.

Akan sulit sekali si anak memiliki kebiasaan sungguh luar biasa itu jika tak ada contoh dari orang-orang di sekitarnya. Apalagi ini dari orang tuanya. Kita tentu tak akan membantah pepatah bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apa-apa yang dipertontonkan orang tua dalam keseharian akan sangat membekas di memori anak-anak mereka.

Kalau umur saya panjang, saya juga ingin mencontohkan ke anak-anak bahwa membaca itu baik. Apalagi kalau sampai ditindaklanjuti dengan menulis. Kerennya akan jadi bertingkat-tingkat. Maka mau tak mau koleksi buku harus diperbanyak dari sekarang. Koleksi tulisan juga—bahkan kalau bisa mah berupa buku—mesti terus diproduksi.

Buku dan kumpulan tulisan itu walau tak terlalu berdampak secara luas, paling tidak akan sangat berpengaruh buat anak-anak saya nanti. Ternyata salah satu tujuan ayahnya menulis adalah mereka yang unyu-unyu itu. Begitu mungkin apa yang terlintas di benak anak saya kelak.

Buku-buku yang dikumpulkan juga meski belum dibaca semuanya, mudah-mudahan bisa dibaca oleh mereka. Saya pernah bilang, selain ilmu warisan yang baik itu adalah sawah, insya Allah bakal mendatangkan berkah berlimpah.

Saat mengatakannya, waktu itu memang saya sedang di sawah yang merupakan warisan Apa dan Ema (bapak dan mamahnya mamah) ke anak-anaknya. Sekarang saya jadi berpikir bahwa buku-buku pun mestinya jadi warisan yang layak ditinggalkan seseorang bagi yang ditinggalkannya.

Bukuitu salah satu sumber ilmu lho.

Imut-imut, eh amit-amit kalau sampai meninggalkan warisan berupa utang mah.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 21 Juli 2017

sumber gambar: Lonerwolf.com

Advertisements
Membaca dan Warisan yang Layak Disiapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s