Perjalanan Menulis

 Saya nya lagi mindahin motor. Jadi enggak ada di foto ini. 

Hari Ahad minggu lalau, saat saya masih di rumah dan sebenarnya agak malas ke Bandung kalau enggak diminta orang tua mah, kang @taufikadan menawari saya untuk jadi mentor di program pelatihan menulis Biblio Forum. Awalnya saya mikir beberapa saat mengingat jadi gampang terdistraksi.

Kalau ada kesibukan lain, bisa-bisa skripsi saya tak ada kemajuan. Padahal bapak minta dengan sangat saya bisa sidang Agustus nanti. Setelah diyakinkan, kalau ini tak terlalu menyita perhatian alias enggak terlalu berat, saya pun mengiyakan. Bismillah saja. Semoga jadi jalan kebaikan buat saya sendiri.

Hari ini rapat perdana terkait program menulis tadi diadakan. Bertempat di Gasibu depan gedung sate, kami para panitia membincangkan cukup banyak hal. Cemsiapa saja yang lolos menjadi peserta pelatihan pada masing-masing bidang: cerpen, puisi, dan esai. Ada juga pembahasan mengenai kurikulum pelatihannya nanti mau seperti apa. Juga mengenai salah satu program Biblio, yaitu Biblio Story.

Saya sendiri mengampu (bahasanya meni mengampu macam dosen saja. Tapi enggak apa, saya juga pengen jadi dosen sih. Mudah-mudahan kesampaian.) maksudnya jadi mentor di bidang esai. Sesuai kemampuan sih. Saya memang sampai saat ini lebih banyak menulis esai ketimbang dua bidang lainnya. Meski cerpen dan puisi tetap saya baca.

Membaca keduanya sangat bermanfaat dalam menulis esai. Dari mulai cara bertutur, pengayaan kosa kata, pengambilan sudut pandang, pendalaman gagasan, hingga peka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Jadi penulis mah ulah pilih-pilih bacaan. Sagala bres pokona mah.

Dan walaupun kemampuan menulis esai saya juga masih sangat terbatas. Tapi, diniatkan saja ini sebagai ajang untuk berbagi. Saya percaya bahwa membagikan sesuatu, hakikatnya justru adalah kesiapan kita untuk menerima lebih banyak. Logikanya, sebagai mentor mau enggak mau harus lebih awal baca, lebih awal nulis, lebih awal diskusi, intinya lebih awal segala-galanya ketimbang yang dimentori. Semoga saja itu jadi jalan bagi saya sendiri untuk meng-improvekapasitas diri kaitannya dalam menulis esai.

. . .

Setelah rampung seluruh agenda pembahasan, masing-masing mentor dan koordinator tiap bidang mendiskusikan draf kasar kurikulum yang ditujukan selama pelatihan nanti berlangsung. Saya sendiri berdua dengan kang Taufik, sang penggagas komunitas ini sekaligus motor penggeraknya. Tina, satu lagi mentor di bidang esai kebetulan berhalangan hadir.

Kami berusaha mencurahkan isi pikiran berkaitan dengan poin apa saja yang mesti ada saat pelatihan kelak. Buku acuan yang kami gunakan adalah Inilah Esai yang ditulis Muhidin M. Dahlan. Bukunya sangat recommended buat dibaca oleh para penikmat dan peminat esai. Saya pun memberi masukan agar peserta membelinya. Entahlah, apakah akan dieksekusi atau tidak untuk yang bagian ini. Takutnya memberatkan.

Saya pun mengusulkan pengantar esai pada pertemuan awal. Ya, ini sebagai penjembatan saja biar peserta terkondisikan. Hal-hal sederhana tapi sesungguhnya sangat berperan besar semacam kenapa memilih esai dihadirkan pada materi pengantar esai ini.

Definisi esai, sejarah, jenis-jenis esai pun menjadi bagian yang mesti disampaikan kepada mereka—si peserta tea. Kang Taufik pun menambahkan tentang pentingnya mengapresiasi esai seperti yang mesti ada pada puisi. Diharapkan dengan begitu para peserta mampu menilai secara subjektif penilaian mereka terhadap esai-esai yang ada. Kami berencana memilihkan esai-esai yang menurut kami bagus.

Materi tentang pembuka esai, sumber-sumber bahan penulisan esai sampai poin-poin lain seperti esais-esais yang mewakili angkatan dan gaya pun kami coba listsebagai bagian dari kurikulum. Untuk bagian ini saya hanya memberi masukan beberapa nama saja. Maklum jelajah bacanya masih minim.

Kang Tau, yang bagian menyebutkan nama-nama itu. Saya hanya menyebut nama Hasyim Muzadi, Bandung Mawardi, dan Seno Gumira Ajidarma. Itu seingat saya. Pengen juga sih nyebut kang Dhiora Bintang sama mba Gigay Citta, tapi nanti aja deh. Bisa juga itu mah secara personal saya kasih tahu ke peserta sebagai referensi. Dan esai-esai mereka juga yang bikin saya jatuh cinta sama esai soalnya.

. . .

Saya senang saat kuliah di Bandung ini banyak bersinggungan dengan teman-teman yang menyukai aktivitas menulis dan membaca. Apa jadinya kalau saya enggak kuliah? Mungkin sedikit hasrat menulis puisi saat MTs. dulu tak akan tersalurkan di tempat yang tepat.

Kekuatan mimpi yang meminjam bahasanya Andrea Hirata, dipeluk oleh Tuhan sangat saya rasakan terkait menulis ini. Dengan terus berupaya menulis, berusaha sebisa mungkin aktif mengikuti forum-forum kepenulisan serta menunjukkan eksistensi lewat media sosial bahwa saya memang suka dengan aktivitas menulis, pintu-pintu yang memang harus saya masuki untuk kian matang menjadi seorang penulis satu-persatu mulai terbuka.

Beberapa kali saya diminta jadi juri esai. Diminta juga untuk sharing pengalaman menulis secara online oleh beberapa grup kepenulisan. Hingga sekarang diminta untuk menjadi seorang mentor. Kejutan apa lagi yang akan saya dapat ketika saya terus konsisten di jalan ini? Saya pun tak tahu. Tapi pasti akan membuat saya kian mendewasa dalam berkarya.

Intinya terus saja bergerak. Itu tiket yang harus dipenuhi. Urusan hasil, saya percaya bahwa itu akan sangat tergantung dengan kualitas kerja dan kebertahanan untuk konsisten atasnya ditambah juga pertolongan Allah yang mencondongkan hati kita untuk melakukannya.

Saya sedang menikmati proses ini. Kelak, kalau saya mengeluarkan beberapa buku baik berupa memoar perjalanan menulis, kumpulan esai, sampai buku popular tentang keislaman dan pendidikan sesuai background kuliah sekarang, saya akan sangat berterima kasih kepada komunitas-komunitas menulis yang saya ikuti, orang-orang yang berinteraksi dengan saya terkait menulis, hingga penulis-penulis keren yang bukunya saya baca.

Bentuk terimakasih itu minimalnya diejawantahkan di pengantar buku. Itu juga kalau saya cukup percaya diri untuk menulis buku. Soalnya jujur, saya masih sangat minder untuk melakukannya. Saya minta doanya saja agar makin hari kemampuan menulis saya kian meningkat baik secara kuantitas dan kualitas. Amit-amit kalau salah satunya berat sebelah.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 16 Juli 2017

photo credit: Pipit

Advertisements
Perjalanan Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s