Pasangan Serasi

tumblr_inline_ot23dikw9c1t773pi_500

Ada banyak buku yang belum saya baca. Baik yang sudah dibeli maupun yang belum namun ingin segera memilikinya. Sejauh ini, minat saya pada buku-buku lebih ke genre biografi dan sastra. Sesekali buku popular tentang islam.

Saya menyukai buku-bukunya pak Quraish Shihab meskipun sampai saat ini hanya baru menuntaskan Membumikan Al-Qur’an. Buku-buku beliau dengan judul senada belum saya baca. Wawasan Al-Qur’an pun belum setengah-setengahnya acan. Saya merasa bersalah juga sebenarnya karena jelajah baca saya di buku-buku agama masih sangat kurang. Padahal saya calon guru agama.

Atau meski bukan pun, seharusnya sebagai seorang muslim, perhatian terhadap pengembangan keilmuan agamanya harus baik. Pelan-pelan akan saya usahakan untuk mengoleksi dan menyeimbangkan antara buku-buku sastra (puisi) dengan buku-buku keislaman.

Saya punya teman satu kontrakan yang sekarang sudah lulus dan baru-baru ini diterima kuliah di pasca sarjana Islamic Studies UI. Kemampuan membacanya sungguh luar biasa. Dia menargetkan membaca 100 halaman perhari. Wajar saja kalau dinamika pemikirannya berkembang secara signifikan. Dari yang di awal-awal kuliah menyenangi tasawuf, mendekati akhir kuliah jadi menyenangi persinggungan agama-agama dan sekarang masih konsisten di sana karena ketertarikannya untuk menjadi seorang peace maker.

Koleksi buku-bukunya paling banyak di kontrakan kami. Di tingkat 4 kuliah, saya dan 4 orang teman ngontrak rumah bersama. Hampir kesemuaannya penyuka buku. Dan buku teman saya tadilah yang jumlahnya paling banyak, dengan koleksi yang beragam. Dari mulai buku-buku Islam popular yang ditulis tokoh-tokoh besar, tafsir (Al-Mishbah), pemikiran, filsafat, sejarah Islam, perbandingan agama, novel dan lain-lain. Yang paling banyak sih buku-bukunya pak Quraish. Karena dia memang fans fanatik ayahnya mba Najwa Shihab ini. Sementara itu, koleksi anggota kontrakan yang lain masih kalah secara jumlah dengannya.

Tak heran kalau kesukaannya terhadap membaca membuat ia sudah menulis 4 buku yang salah satunya diterbitkan penerbit mayor. Sekarang pun dia sedang menulis buku lagi selain belakangan ini pun yang bersangkutan rutin membagikan keresahannya lewat tulisan-tulisan baik di portal literasi online bikinan adik tingkat maupun di blog pribadinya. Sangat produktif.

Saya senang sekali dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap literasi. Ini merupakan anugrah yang sungguh patut disyukuri. Kata Aan Mansyur, membaca itu pekerjaan yang berat.

Maka berkumpul dengan orang-orang yang punya minat membaca tinggi, sedikitnya akan membuat kita terpapar kebiasaan yang konon menentukan kualitas sebuah negara ini. Dampak paling minimalnya, saya cemburu melihat ada yang sedang membaca buku sementara saya sibuk tak berfaedah dengan obrolan yang tak beresensi. Ujung-ujungnya saya pun tergerak untuk membaca juga.

Saya jadi berpikir mengenai kualitas tulisan yang gitu-gitu mulu. Sebab terbesar yang paling berkontribusi pada hal ini tak lain adalah kelemahan saya atas kemalasan dalam hal membaca buku. Bagaimana pun membaca buku lebih baik ketimbang membaca tulisan-tulisan pendek di internet. Meski sama sekali tak salah banyak baca esai-esai, opini dan tulisan lain di media tersebut. Tapi tetap, membaca buku harus lebih banyak. Tidak bisa tidak.

Suatu ketika, saat saya mengikuti pelatihan menulis non fiksi dari Kampus Fiksi Diva Press, pak Edi selaku pemilik penerbitan buku di Yogyakarta ini pernah berujar kaitan membaca buku dan menulis.

Saya tak terlalu ingat redaksi tepatnya seperti apa. Yang jelas bahwa untuk menulis baik itu dan memang seseorang sangat totalitas menggarap bukunya, untuk menulis satu paragraf tulisan di bukunya itu adalah luaran dari proses membaca satu buku.

Bisa dibayangkan dong berapa banyak buku yang mesti dibaca untuk menuntaskan penulisan sebuah buku? Saya tak tahu persis apakah memang benar-benar ada seseorang penulis di dunia ini yang sekeren itu. Atau ini hanya sebuah analogi saja dalam rangka memotivasi seorang penulis bahwa dalam membuat buku itu tak pernah sederhana. Harus mengerahkan segenap keseriusan serta maksimal menempuh jalan-jalan agar karya yang tercipta benar-benar tidak recehan.

Menulis dan membaca ibarat sepasang kekasih. Keduanya merupakan pasangan serasi. Akan ada ruang hampa jika keduanya dipisahkan. Ini sih perumpaan tak penting dari saya. Tapi kurang lebih seperti itu.

Dulu saya sangat ingin buku atas nama saya terbit dengan segera. Tak terlalu peduli caranya seperti apa. Namun sekarang-sekarang saya mulai paham, bahwa buat apa terburu-buru menerbitkan buku kalau hanya sekadar kejar tayang. Panas melihat orang lain karena bukunya sudah ada di toko buku.

Panas boleh, tapi jangan sampai membakar akal sehat dan naluri kita untuk tetap memberikan sesuatu yang bermanfaat. Meski saya sangat sadar kalau alasan ini pun bisa jadi tameng yang sangat kuat untuk jadi excuse bagi diri sendiri untuk nyaman di zona tidak produktif belum menulis satu buku pun.

Menyicil menulis harus terus diperjuangkan. Jangan sampai terjebak di ruang fatamorgana melenakan ini. Maka lagi-lagi saya sepakat dengan bung Aan, tulisan bagus lahir dari sebanyak-banyaknya tulisan jelek. Bagaimana mau mendapatkan tulisan yang berkualitas baik jika jam terbang nulisnya pun rendah?

Terakhir, saya ingin menasihati diri sendiri untuk jangan sampai lebih banyak waktu tersita untuk menulis ketimbang membaca itu sendiri.

Waktu membaca harus lebih banyak dan tak boleh ada toleransi atas hal itu. Barangkali nasihat dari dalam diri lebih nyaman didengar ketimbang nasihat dari orang lain yang seringkali terdengar bernada sumbang. Kendati, jangan sampai pula jadi manusia yang anti kritik dan saran.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 14 Juli 2017

sumber gambar: emagazine.mohe.gov.om

Advertisements
Pasangan Serasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s