Menggeluti Esai

tumblr_inline_osrorsypes1t773pi_500

Menulis esei? Tentu saudara biasa. Asal mau. Yang penting bagi seorang eseis atau kritikus adalah kelihatan pandai. Untuk kelihatan pandai saudara dapat menempuh jalan cepat. Bukankah kita mempunyai kebudayaan cepat mendadak, asal jangan sakit mendadak atau melarat mendadak. (Budi Darma dalam Dahlan, hal. 178)

Sejauh pengalaman saya yang masih sangat minim ini, menulis yang paling nyaman adalah menulis esai. Nyaman di sini disebutkan untuk mewakili proses yang mudah sewaktu melakukannya. Pertama kali belajar menulis dan tentu tanpa guru adalah saat saya MTs. sebenarnya saya menulis puisi.

Lagi-lagi klaim tulisan itu disebut puisi pun hanya oleh diri sendiri. Saya tak tahu persis kalau tulisannya diperlihatkan ke orang lain, apakah penyematan nama puisi itu tepat atau malah tak ada bedanya dengan status alay ala anak remaja sekarang.

Semenjak berkenalan dengan esai di awal kuliah di UPI setelah sebelumnya didahului menulis cerpen (kasusnya sama dengan penyebutan puisi tadi. Hanya mengaku-aku saja itu berjenis kelamin cerpen) saya mulai lebih produktif menulis esai ketimbang puisi dan cerpen. Alasannya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, menulisnya lebih enteng.

Belakangan, saya ternyata keliru. Menulis esai, jika benar-benar itu esai ya susah juga. Walau jika saya membanding-bandingkan proses penulisan ketiganya, menulis esai tetap relatif lebih ringan. Tentu karena porsi membaca esai ketimbang cerpen dan puisi agaknya lebih banyak. Hal ini berimplikasi pada mindset saya sendiri bahwa esai cenderung tak lebih ribet saat menuliskannya.

Lewat perantaraan menulis jurnal, dalam perjalanannya saya dipertemukan dengan esai-esai dan esais yang menulis yang menulis dengan sangat menari. Sangat terlihat sekali sebagian apa yang penulisnya pikirkan dan bagaimana sistem berpikirnya yang sungguh canggih. Saya mulai minder dengan esai-esai yang telah saya buat. Masih sangat jauh dengan punya mereka.

Lalu, kalau menulis esai sudah didera rasa malu karena banyak yang lebih bagus secara kualitas, ditambah pula lebih tak percaya diri menulis puisi dan cerpen, lantas saya harus menulis apa lagi? Masa hanya puas dengan menulis caption dan insta story di Instagram. Kan tidak berkelas, keles. Atau menulis jurnal saja yang definisinya sangat lues dan terserah saya selaku penulisnya. Hmm, jangan itu doang dong, sangat tidak ada tantangannya.

Namun sepertinya saya akan terus menekuni belajar menulis esai meskipun sudah sadar diri sekarang kalau prosesnya tak akan mudah. Berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu, ketika kekuatan hati untuk meraih sesuatu sangat kuat, jalan-jalannya akan terbuka, atau tepatnya dibukakan dengan sendirinya.

Salah satu paling konkret misalnya saya dipertemukan dengan buku how to writing essay yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan. Salah satu kutipan yang dikutip pak Muhidin dari Budi Darma tentang terbuka lebarnya kemungkinan menjadi esais bernada memotivasi sekaligus menyindir di awal tulisan ini salah satu contohnya.

Saya tahu ada buku ini dari salah satu postingan kang @taufikadan di tumblr yang menulis review bukunya yang kemudian saya tahu juga bahwa tulisannya di repostpak Muhidin di blog pribadinya. Keren kang.

Sejak pertemuan pertama kali dengan ulasan mengenai buku Inilah Esai ini, saya jadi kesengsem dan ingin segera menghalalkan buku itu. Tapi tentu tak secara langsung hari itu baca langsung hari itu pula saya ijab qabul dengan penjual bukunya. Baru sekitar kurang lebih sebulanan lalu saya memboyong buku yang berhasil membuat saya penasaran ini dari toko buku online Jual Buku Sastra (JBS) Yogyakarta.

Memang tak salah jika saya merekomendasikan para pecinta esai atau siapa pun yang ingin mengenalinya lebih dekat untuk membaca buku itu. Isinya sangat lengkap. Tak hanya tentang tips teknis menulis esai yang baik dan benar, tapi tersaji juga pondasi-pondasi bagi calon esais. Selain tentu juga disertai contoh-contoh judul esai super keren menurut penulis esai kawakan seperti Bandung Mawardi dan Zen RS.

Bagus sekali kalau sampai dibeli. Untuk beberapa buku yang saya anggap keren, saya memang selalu merekomendasikan agar tidak dibaca hanya dengan meminjam ke orang lain atau perpustakaan. Buku keren mesti dikoleksi. Karena suatu ketika kalau punya mah bisa dipinjamkan lagi ke yang membutuhkan. Kan pusaran kebermanfaatan bisa menyertakan diri kita sendiri di dalamnya.

Buku itu membuka cakrawala saya tentang seluk-beluk per-esaian. Dan makin mengkatalis minat saya untuk lebih mendalami esai. Kalau membaca banyak cerpen yang bagus dari cerpenis semacam Seno Gumira Ajidarma dan cerpenis kompas lainnya saya melempem perihal semangat untuk mencoba menulis cerpen juga, lain halnya dengan esai.

Saya tahu esai sungguh bukan jenis tulisan yang mudah untuk dikerjakan, namun saya tetap ingin bergaul dengannya dan menjadikannya teman baik. Entahlah, apakah ini isyarat dari esai sendiri untuk menjadikan saya sebagai temannya. Seperti prinsip seekor bijuu yang rida menjadikan saya sebagai salah jinchuurikinya, kalau dalam serial Naruto mah.

Tantangan terbesar bagi calon esais barangkali kemalasan dan ketakutan. Malas akan membuat keinginan menjadi penulis esai produktif hanya akan berakhir pada sebatas keinginan saja (mimpi). Sebagaimana yang dipertanyakan om Seno Gumira Ajidarma bahwa “seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?”

Malas membaca, malas bertukar isi pikiran, malas mengamati ketidakberesan lingkungan, hingga akhirnya malas menuliskan buah keresahan dan hasil pembacaan atas teks maupun konteks akan membunuh kemungkinan mewujudkan keinginan mulia menjadi esais tadi.

Begitu pula dengan ketakutan. Takut membela yang lemah lewat beragam peran yang bisa diambil, takut pada komentar para pencibir saat kita memperjuangkan kebenaran yang diyakini, takut menerima amanah karena alasan tidak mutu: enggan terbebani dengan tanggung jawab mengurusi keperluan orang lain, dan takut-takut lainnya menjadi penghambat rasa esai yang dibuat jadi sangat hambar. Yang terakhir ini padahal merupakan kelemahan saya sendiri yang mesti diperbaiki.

Bahan bakar agar esai yang diproduksi jadi renyah saat dikunyah adalah sudut pandang penulisnya yang orisinal dan memiliki nilai beda dengan penulis kebanyakan. Percuma kalau hanya puas dengan latah mengikuti yang lain.

Sementara itu, kemampuan melenturkan sudut pandang serta menyajikan analisis-analisis yang menarik di dalam sebuah tubuh esai didapat dengan proses menentang rasa malas—dalam segala hal, termasuk membaca dan merasa—serta melawan ketakutan dalam mengambil segala kesempatan yang diberikan.

Saya jadi kembali teringat dengan pesan tersirat kang Dhiora Bintang bahwa menulis bukan akhir dari perjuangan melainkan awal dari tuntutan untuk melakukan perjuangan lainnya. “Jangan diam akibat bangga setelah menulis. Kita perlu merebut tindakan dalam kertas-kertas kehidupan.” Tulis pemenang ke-1 Kompetisi Esai Mahasiswa (KEM) Tempo tahun 2011 ini dalam salah satu tulisan di blognya.

Atau senada dengan hal itu, menurut W.S. Rendra menyebut dalam salah petikan puisinya bahwa perjuangan memang adalah kata lain dari pelaksanaan atas kata-kata.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 8 Juli 2017

Advertisements
Menggeluti Esai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s