Harapan Orang Tua

Akhir-akhir ini pertanyaan tentang kapan lulus jadi kian sering frekuensinya. Bukan dari teman-teman, dari teman-teman juga iya sebenarnya, namun yang saya maksud bukan itu. Pertanyaan ini datang dari mamah dan bapak.

Wajar juga sih, karena saya sudah sangat ngaret untuk lulus. Teman-teman satu angkatan saya hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berjuang membereskan skripsi atau tinggal hanya sidang. Ditambah lagi ketika dulu-dulu ditanya kira-kira kapan akan sidang saya menjawab bulan anu, realisasinya tidak. Dalam hal ini saya merasa sangat bersalah.

Salah satu motivasi yang dibicarakan oleh keduanya agar saya cepat lulus adalah karena menunda sidang skripsi adalah ada konsekuensi berupa biaya hidup dan pendidikan yang membengkak. 

Padahal, bila sudah rampung kuliah, uang tersebut bisa digunakan untuk lanjut kuliah atau untuk les bahasa inggris atau kebutuhan lain. Bapak dan mamah sangat ingin anaknya ini untuk berpendidikan tinggi. Alhamdulillah, keduanya guru sehingga masalah pendidikan bagi anak-anaknya menjadi nomor satu.

Saat ditanya kemana rencana saya kuliah saya selalu menjawab: UIN Yogya. Walau mamah saya lebih mengarahkan agar jangan terlalu jauh. Ke UIN atau UPI Bandung misalnya. Saya masih tetap dengan pendirian pertama. Tapi lagi-lagi problemnya saya belum kunjung lulus. Ini salah saya juga sih yang terlalu malas mengerjakan skripsi.

Mamah selalu menyebutkan bahwa teman-teman yang lain sudah lulus dan bekerja. Ini dikatakan agar saya kembali menekuni skripsi agar cepat beres. Kalau mamah yang bilang seperti itu, saya bisa menerimanya dengan lapang hati. Beda lagi kalau yang lain. Kadang-kadang meski tujuannya baik, penerimaan dari diri saya kurang mengenakkan. Entahlah. Tapi tetap saya merasa kalau saya salah. Bagaimana pun, menunda lulus bila tanpa alasan yang logis tetap tak dibenarkan.

Bapak pun ikut menyayangkan keterlambatan saya. Katanya kalau lulus cum laude, kesempatan mendapat beasiswa akan lebih terbuka. Kuliah tanpa biaya akan sangat memudahkan sekali. Dan saya sudah pasti tak cum laude. Duh, sayang sekali. Padahal IPK mah memenuhi.

. . .

Selain pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saya kerap menyebut-nyebut Islamic Studies UI. Saya masih tetap dengan kampus impian itu meski akan sangat berat jika tanpa bantuan beasiswa. SPP nya itu lho, mahal pisan. Ditambah pula kendalanya program studi itu tak linear dengan program studi S1 saya, Ilmu Pendidikan Agama Islam.

Tapi saya tetap berencana S2 lagi jika S2 dengan biaya dari orang tua saya memang jadinya di salah satu kampus di Bandung atau di Yogyakarta. Tentu harus dengan biaya sendiri. Insya Allah, mudah-mudahan bisa jadi kenyataan.

Saya pun jadi menyerempet menyebut Ilkom UI (jurusan yang sampai saat ini masih saya idamkan) entah dari mana nyimpang nya. Bapak bernada tak sepakat. Bukan berarti tak rida saya masuk ke jurusan itu. Kalau dulu saya diterima di sana, mamah dan bapak pasti oke-oke saja. Kenyataannya saja tak lolos dan pada akhirnya kuliah di UPI, di jurusan yang dulu menjadi jurusan kuliah mamah dan bapak juga, ya terang mereka lebih setuju saya di jurusan yang sekarang.

“Bapak mah lebih setuju ngafal Qur’an. Biar jadi keluarga Allah. Semahal apa pun akan diusahakan. Apalagi kalau sampai mesantren. Harus ada pegangan minimal untuk diri sendiri. Buat bawaeun nanti. Di kampus mah banyak paham-paham aneh.” Tegas bapak tadi sore menjelang magrib.

Begitu kurang lebih keinginan bapak yang akan sangat bahagia sepertinya kalau saya dan adik memenuhinya. Kebetulan di dekat saya dan bapak pun ada adik yang sekarang sedang mesantren juga sambil bersekolah di SMA 1 Tasikmalaya.

Sepulang dari silaturahim dari salah satu kerabat pun, saat di dalam mobil, bapak membicarakan tentang mimpi agar salah satu anaknya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Harapan bapak itu jadi terngiang-ngiang di pikiran saya.

Saya pun jadi teringat dengan perkataan teman saya yang sekarang sudah hafal 30 juz bahwa berbakti kepada orang tua yang paling tinggi adalah lewat menghafal Al-Qur’an. Itu bentuk berterima kasih yang akan sangat disyukuri oleh setiap orang tua bila anaknya memutuskan untuk menunaikan ibadah mulia yang sangat dicintai Allah itu.

Dulu di awal-awal semester kuliah, saya sempat setoran hafal di Darut Tauhid diajak teman saya yang hafiz tadi. Lumayan juz 30 yang ketika di pesantren dulu tidak hafal-hafal, setelah ikut setoran ke ustaz Dadan (alumni Fisika UPI) di DT saya jadi hafal.

Lalu semenjak saya sakit diperparah dengan penyakit hati berupa kemalasan serta godaan “gemerlap”nya dunia mahasiswa—enggak senegatif yang dibayangkan kok. Ya paling maen-maen ngobrol ngalor-ngidul dan semacamnya—saya tidak melanjutkan setoran di sana.

Bapak sangat menyayangkan ketika tahu kalau saya berhenti menghafal secara intensif lagi. Padahal mungkin itu menjadi salah satu jalan terwujudnya cita-cita bapak memiliki anak yang hafal Al-Qur’an yang kian menguat setelah menonton acara hafiz qur’an di salah satu stasiun televisi swasta saat Ramadhan kemarin. Bahwa para penghafal Al-Qur’an memang memiliki banyak keistimewaan dan kemuliaan. Bapak jelas saja sungguh tergiur.

. . .

Saya kira apa yang selalu diutarakan bapak berasal dari lubuk hatinya paling dasar, tulus sekali. Sungguh ini sebuah anugerah. Saya pun pasti akan hidup tak tenang bila tak berupaya membuatnya jadi nyata. Untuk sebuah jalan menuju ditunaikannya kebaikan memang sangat aneh kalau tak ada rintangan.

Dulu saya menargetkan ingin mondok tahfiz di DT di semester 5 kuliah, tapi ketakutan-ketakutan dan keraguan menenggelamkan rencana baik itu. Sekarang pun rintangan itu belum sepenuhnya sirna. Masih membayangi diri saya.

Semoga dengan do’a diam-diam dan terang-terangan dari bapak dan mamah saya, serta keinginan dari saya pribadi yang saya jaga, keinginan mondok di pesantren tahfiz Al-Qur’an bisa terlaksana.

Ketika melihat secara langsung anak-anak kecil bersyal biru di masjid DT sedang menghafal dan muraja’ah Al-Qur’an hati saya tersayat-sayat, jiwa saya tergetar. Itu naluri yang tak bisa dibohongi. “Ayo Fan ngafal Al-Qur’an!” itu bisikan dari dalam diri saya sendiri. Jahat sekali kalau sampai dinafikan.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 14 Juli 2017

photo creditLutfhy M.H. (adik)

Advertisements
Harapan Orang Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s