Taman Kota

Malam minggu. Sebuah malam yang identik dengan anak muda. Tentu penyumbang hal ini menjadi begitu popular karena banyak pengarang lagu yang mengondisikan kalau malam ini sangat tepat bagi sepasang kekasih untuk pergi ke luar rumah atau bahkan di salah satu rumah kekasih itu dengan agenda yang saya tak tahu pasti mereka teh ngapain.

Wong saya mah belum pernah malam mingguan berduaan. Kalaupun iya, biasanya bareng-bareng sama teman sekontrakan yang rata-rata single. Meminjam istilah yang akrab di kalangan para aktivis dakwah, mudah-mudahan saja termasuk yang single nya fi sabilillah. He.

tumblr_inline_osguxc3wz11t773pi_500

Sabtu sore kemarin, saya main tanpa tujuan yang puguh bersama adik ke kota Tasikmalaya. Tiba di sana menjelang maghrib yang berarti mau enggak mau kami jadi malam mingguan di sana. Oh iya, rumah saya masih di wilayah Tasikmalaya. Jadi memang Tasik itu ada kota dan Kabupaten. Nah, saya masuk di Kabupatennya.

Dari rumah ke kota kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 1 jam menggunakan motor. Kalau menggunakan angkutan umum, bisa membengkak sampai 2 jam bahkan lebih. Saya sering melakukannya saat dulu ketika baru banget habis sembuh dari sakit ketika mesantren. Biasanya pasca sakit (dalam masa penyembuhan) saya pulang-pergi kurang lebih selama seminggu sampai dua minggu.

Tempat yang enak untuk istirahat sejenak sekaligus shalat maghrib di daerah kota adalah masjid Agung Tasikmalaya. Kami pun mampir di sana. Tapi sebenarnya sampai jam 8-an sih. Apakah itu masih bisa disebut mampir? Padahal dikatakan mampir itu biasanya menghabiskan waktu yang relatif singkat.

Tepat di depan masjid Agung yang dulunya merupakan gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya (dari tahun 2000, Tasikmalaya mengalami pemekaran menjadi kota dan Kabupaten) berubah menjadi taman kota yang cantik. Konon desainnya dirancang oleh walikota Bandung tercinta kang Emil. Dari sore hingga malam hari di sana masih sangat ramai. Dan sepertinya makin malam makin seru. Menurut adik saya, Taman Kota ini memang beroperasi tiap hari. Walau intensitas pengunjung pasti akan melonjak di akhir pekan.

Setelah shalat maghrib, sambil menunggu adik beli buku catatan baru untuk keperluan sekolah, saya berkeliling di taman yang cantik itu. Semua orang tumpah ruah tak pandang tua maupun muda. Meski sepertinya yang lebih muda mendominasi isi taman itu ketimbang generasi yang lahir lebih dulu. Anak-anak riang gembira bermain sepatu roda, skuter, sepeda Shincan (itu lho yang rodanya 3), dan lain-lain.

Ada pula mereka yang berlarian di rumput-rumput yang padahal tak boleh diinjak. Belakangan ada petugas yang memperingatkan agar tidak beraktivitas di atas rumput itu. Sebagian anak-anak lain bermain di wahana yang disediakan: jungkat-jungkit, ayunan, dan permainan yang terbuat dari besi lainnya.

Saya dan adik kembali lagi ke taman sebentar untuk foto-foto setelah sebelumya shalat isya dan berbincang bersama teman satu almamater sekolah dulu. Ternyata memang para pengunjung kian bertambah ketika malam semakin malam. Sebagian mungkin datang memang menjelang isya.

tumblr_inline_osguwiowqk1t773pi_500

Saya melihat mobil-mobil dengan hiasan lampu berwarna-warni berkilauan memendarkan cahaya yang indah. Di dalamnya banyak sekali anak-anak dan orang tua mereka menemani. Pemandangan yang menentramkan hati dan menyejukkan mata yang melihatnya.

Para pedagang aneka makanan dan minuman, mainan anak-anak, pakaian, memenuhi setiap sisi taman kota menjajakan jualannya. Sudah tentu mereka senang sekali dengan suasana malam minggu yang cerah. Dengan begitu mereka berpeluang meraup untung besar atas dagangannya dan bisa pulang membawa rezeki yang banyak bagi keluarga mereka di rumah.

tumblr_inline_osguvs9y7a1t773pi_500

Pasangan ibu-ibu dan bapak-bapak (yang jelas saya khusnuzan mereka sudah menghalalkan  hubungannya dengan ikatan suci) sebagian bersama anak-anaknya yang sedang bermain-main atau tanpa anak sedang memperbarui cinta mereka. Mereka berbincang-bincang atau melakukan hal lain sebagai ikhtiar kemesraan di antaranya tetap terjaga dan bahkan bisa meningkat.

Anak-anak muda yang tengah dimabuk cinta juga tak kalah ambil peran menghabiskan waktunya di sana. Saya meskipun tak terlalu suka dengan hal itu, tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menyayangkan perbuatan mereka dalam hati. Menegur langsung dengan cara mendatangi mereka, yang ada paling saya digebuki. Melakukan nahyi munkar memang tak lebih mudah daripada amar ma’ruf. Walau melakukan amar ma’ruf juga tak semudah yang dipikirkan. Dan ini sangat tergantung kualitas keimanan kita barangkali.

Contoh paling sederhana adalah ketika kita melihat mereka melakukan sesuatu yang kita tahu itu perbuatan buruk tapi aslina hese pisan kan buat mengingatkan mereka. Semoga kita pelan-pelan bisa membiasakan diri menegakkan nahyi munkar. Tapi tentu dengan cara-cara yang dibenarkan. Kata dosen saya, berdakwah juga perlu pakai metode. Hal ini dikuatkan Gus Mus saat di Mata Najwa Rabu kemarin, bahwa berdakwah yang baik kita perlu datang ke terminal.

Di sana ada banyak calo bis. Mereka “berdakwah” dengan cara yang memesona. Menawarkan bis kepada calon penumpang dengan promosi yang sangat baik: bis ini nyaman, ada AC-nya dan lain-lain. Coba bayangkan kalau ngajaknya seperti ini: ”Ayo masuk-masuk! Kalau enggak, nanti tak tempeleng.” Begitu kurang lebih dimisalkan oleh Kyai Kharismatik pimpinan pondok Raudlatuth Thalibin, Rembang ini.

Taman kota dengan segala keriuhannya menjadikan alternatif tempat berkumpul keluarga setelah hampir seminggu sebagian anggota keluarga beraktivitas masing-masing. Ada yang bekerja, belajar di sekolah, membereskan rumah dan lain-lain. Selain relatif aman, biaya yang diperlukan untuk datang ke sana pun terjangkau.

Saya tak terlalu banyak mengunjungi taman kota selain di Tasikmalaya (yang memang baru-baru ini) dan Bandung. Di kota lain pun pasti pemerintah daerahnya pasti memprioritaskan pembangunan taman kota di wilayahnya. Namun, bila belum ada atau sudah ada tapi belum maksimal pengelolaannya, mudah-mudahan pemerintah yang bersangkutan melirik problem ini dan menanganinya dengan serius.

Taman kota sebagai ruang publik harus menjadi pusat bermain dan berkreativitas yang ramah anak dan menyediakan fasilitas-fasilitas mendukung sebagai alternatif masyarakat untuk menghabiskan waktu baik setiap hari atau minimalnya setiap weekend.

Terpujilah pemerintah yang sudah berinisiatif membuatnya untuk kebutuhan masyarakat. Dan memang itu sudah jadi tugas mereka sih sebenarnya. Mereka dipilih untuk jadi pelayan rakyat.

Bukankah itu hakikat menjadi pemimpin? Menjadi seorang khadimu ummah. Tapi sekarang banyak pemimpin yang salah fokus. Malah menjadikan amanahnya itu sebagai jalan untuk memperkaya diri sendiri. Lihat saja banyak dari mereka yang terjerat kasus korupsi yang beritanya mampang di televisi hampir tiap hari. Memuakkan sekali.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 2 Juli 2017

Advertisements
Taman Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s