Sahabat

gusqur

Tak mudah untuk kita
Hadapi perbedaan yang berarti
Tak mudah untuk kita
Lewati rintangan silih berganti

Kau masih berdiri
Kita masih di sini
Tunjukkan pada dunia
Arti sahabat
Kau teman sehati
Kita teman sejati
Hadapilah dunia
Genggam tanganku 

Nidji, Arti Sahabat

Menemukan sahabat itu sulitnya minta ampun. Ini bukan sesuatu yang berdasar sebenarnya. Bukan berasal dari sebuah penelitian, apalagi. Jadi memang subjektif saya saja.

Pernyataan tentang sulit ini hanya asal bunyi saya sebutkan. Bagaimana mungkin saya berhak menyebut sulit sementara saya tak meniti tangga untuk menggapainya? Saya merasa tak pernah mencari sahabat soalnya. Saya bingung bagaimana cara memulai prosesi agung pencarian kitab suci ini, eh sahabat sejati dan sehati  maksudnya.

Seperti proses perjalanan Biksu Tong dengan murid-muridnya mencari kitab suci ke Barat yang dipenuhi onak dan duri, barangkali memang begitu pula sulitnya mencari sahabat yang menurut Abi Quraish Shihab merupakan sosok diri kita di dalam diri orang lain.

Sahabat sejauh ini di pikiran saya bisa didapat dari tahapan mencari ke dalam diri kita sendiri. Dekat tapi memang tak mudah menemukannya. Mencari ke dalam diri maksudnya menemukan terlebih dahulu bagaimana dan seperti apa diri kita? Berusaha jujur dengan keadaan yang menjadi ciri khas kita baik itu buruk maupun baik. Jadi maksudnya jangan terlalu terobsesi bertemu dengan sahabat yang segalanya wah, sementara kita pun tak memperbaiki diri untuk menjadi wah di hadapan calon sahabat kita.

Kok jadi persis konsep pasangan hidup yah? Mungkin sahabat dan pasangan sama-sama berada dalam satu konsep yang serupa, menjadi cerminan atas diri kita sendiri dan memiliki prinsip saling menemukan. Ada upaya berbalas mencari, bukan hanya usaha menemukan dari satu pihak saja. Bisa dong membedakan hubungan antar sesama sahabat dan antara pasangan hidup?

Walau sama-sama ada care di sana, ada cinta yang dicurahkan, ada kesalingan dalam mengetahui kekurangan antara dua pihak tapi memilih menyimpannya tak diumbar-umbar, tapi tentu perbedaan antara keduanya—pasangan hidup dan sahabat—jelas-jelas sangat kentara.

Saya sudah sedari cukup lama ingin menulis tentang sahabat. Tapi tak kunjung jadi karena beberapa hal. Tentu alasan kedua setelah yang pertama malas adalah saya rasa sampai sekarang saya tak memiliki sahabat. Entah jika ada teman saya yang menganggap saya sebagai sahabatnya mah. Kenapa saya sulit mendapatkan sahabat yang saya pisan? Mungkin karena hati saya kurang lapang dan terlalu selektif membuka diri menerima teman-teman yang pernah saya temui untuk saya jadikan sahabat.

Dalam banyak kesempatan, saya menemukan beberapa dari teman saya mempunyai sahabat, bahkan di antaranya ada yang begitu sering berkumpul, berjalan-jalan bersama, mengabadikan momen berbarengan, saling berbagi cerita atau ngobrol dengan intensitas yang sangat tinggi meskipun topiknya kadang enggak jelas.

Sebagian mereka memproklamirkan tentang jalinan persahabatannya seperti yang biasa kita lihat di film-film atau sinetron di televisi. Di samping itu ada juga yang tak dikatakan sebagai sahabat namun dalam keseharian lebih dekat tampak lebih dari sekadar teman. Ini persahabatan yang barangkali memandang sebutan tak terlalu penting namun lebih mengedepankan esensinya itu sendiri.

Untuk di film, salah satunya ada di film 5 cm yang kelima pemainnya bersahabat sangat dekat: Dan jujur, saya juga termasuk yang ter-influence karena film itu untuk juga bisa memiliki sahabat yang begitu dekat. Film lain mungkin bisa teman-teman tulisan sendiri referensinya di komentar agar bisa ditonton juga oleh yang lainnya.

Oh iya, hubungan persahabatan yang dijalin saya kira lebih banyak pada kaum perempuan ketimbang kaum laki-laki. Kurang tahu juga sih apakah anggapan ini benar atau justru malah mengada-ada. Ini hanya taksiran kasar saya saja.

Teteh saya misalnya, dia punya 2 sahabat sejak mesantren dulu di PonPes Cipasung dan juga satu sekolah di MAN Cipasung yang walau sekarang mereka sudah tak lagi berdekatan secara jarak, namun kedekatan secara emosi sangat nyata saya lihat sampai sekarang.

. . .

Mata Najwa hari Rabu minggu lalu dan Rabu malam kemarin menayangkan episode spesial tentang persahabatan dua orang keren kebanggaan bangsa Indonesia. Mba Nana memanggilnya dengan sebutan Abi Quraish Sihab dan Abah A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Saya pun kemudian akan mengikuti cara mba Najwa Shihab memanggil ayah dan sahabat ayahnya ini.

Tentang perbincangan mengenai hubungan persahabatan kedua orang ‘alim ini memberikan semacam bahan bakar bagi mesin di pikiran dan semangat saya untuk melanjutkan keinginan menulis jurnal tentang sahabat seperti saya ceritakan di awal. Cerita mengenai jalinan persahabatan antara keduanya yang dimulai dari sejak kuliah di Al-Azhar dulu dan bertahan sampai sekarang ketika keduanya sudah berusia lanjut menjadi pemicu bagi pikiran saya tentang untuk merefleksikan makna sahabat.

Dari sekilas jawaban-jawaban atas pertanyaan mba Nana yang diajukan kepada Abi dan Abah, saya melihat kalau persahabatan mereka tulus dan dilandasi dengan kecintaan karena Allah Swt. Mungkin bagi mereka yang semalam menonton tayangannya di Metro TV atau mengetahui dari tayangan-tayangan lain atau di artikel juga buku-buku yang mengulasnya, akan banyak orang pula yang ingin memiliki ikatan persahabatan seperti beliau-beliau ini. Bersahabat di jalan Allah yang barang tentu bukan hanya di dunia, melainkan akan berlanjut hingga akhirat kelak. So sweet lah.

Saya teringat dengan jawaban Abah Gus Mus ketika ditanya resep agar membuat persahabatan bisa “langgeng”. Menurutnya kita harus menganggap sahabat itu sebagai manusia biasa, dan memang begitu kenyataannya.

Dengan begitu, ketika sahabat berbuat kesalahan, kita bisa segera memakluminya dan langkah selanjutnya mungkin kesalahannya itu bisa kita maafkan. Toh, mereka juga bukan malaikat yang bebas dari nafsu untuk berbuat sesuatu yang tercela. Resep ini tak muncul begitu saja, melainkan saripati dari aplikasi perjalanan persahabatan antara pengasuh PonPes Raudatut Thalibin Rembang dengan Pendiri Pusat Studi Qur’an sekaligus penulis tafsir Al-Mishbah ini.

Masih sangat banyak sebenarnya poin-poin penting berkaitan dengan jalan-jalan yang bisa ditempuh untuk membangun sebuah hubungan persahabatan berdasarkan perspektif dan pengalaman Quraish Shihab dan Gus Mus.

Mudah-mudahan ada video rekamannya di youtube dan bisa ditonton kembali. Saya hanya mengutip sebagian yang saya ingat dari talk show inspiratif itu sebagai penguat dari apa yang saya tulis tentang makna sahabat dan hal-hal yang mempunyai kaitan erat dengannya. Kalau benar video itu ada, saya sangat merekomendasikannya untuk teman-teman tonton.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 29 Juni 2017

sumber gambar: Seword.com

Advertisements
Sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s