Mensyukuri Setiap Pilihan di Masa Lalu

tumblr_inline_os7p3evtkl1t773pi_500

Tahun 2011 ketika saya pertama kali mengunjungi Purwokerto untuk kuliah di sana, saya merasakan satu perasaan yang asing. Awalnya saya memang sendiri datang ke sana naik travel dari Tasikmalaya diantar bapak. Di kota kecil itu sudah ada kakak sepupu saya yang kuliah di UNSOED, Ilmu Hukum 2010. Beberapa hari saya menginap di kosannya A Arif (nama sepupu saya itu).

Lalu, setelah mendapatkan kosan, mendekati aktif kuliah, bapak dan adik saya mengantarkan dan sebelumnya memang membantu membawa baju-baju dan beberapa barang. Bahkan kalau saya tak salah bapak juga adik sempat menginap semalam di sana. Untungnya setelah kamar kosan di sana rata-rata sudah ada isinya (lemari, meja kecil, dan ranjang plus kasurnya) beda dengan di Bandung.

Menjelang siang keesokan harinya, mereka pulang ke rumah. Saya sempat diserang perasaan asing yang sebelumnya saya sebut di paragraf sebelumnya. Sebelumnya padahal saya sempat 3 tahun tinggal cukup jauh dengan keluarga sewaktu di pesantren. Namun, tiba-tiba pengalaman itu seolah tak menyumbang apa pun bagi saya saat kuliah di jawa tengah sana.

Menjadi sendiri di daerah orang dengan tanpa ada kenalan membuat sebagian dari kita akan merasa kesepian. Makanya keberadaan teman-teman untuk berbagi kesulitan, minta bantuan dan sebagainya sangat penting. Setidaknya sebagai tempat untuk ngutang kalau uang kiriman ternyata habis.

Setelah sebelumnya saya minta dido’akan agar studi lancar, dan minta petuah lain dari bapak, mereka telah tak ada lagi di kamar kos yang saya (kalau betah) akan bertahan setahun di sana. Mereka mungkin sudah dekat ke terminal dan segera akan menaiki bis untuk pulang lagi ke Tasikmalaya. Orang tua mana yang juga ingin berpisah jauh dari anak-anaknya? Namun, demi kebaikan anaknya, mereka menyembunyikan tangis duka atas perpisahannya itu. Mereka membayar keberhasilan anaknya dengan kesedihan yang ditahan-tahan.

Tepat di hari itu dan keesokan harinya kesepian yang sangat dan menyengat-nyengat itu meruntuhkan keinginan saya untuk berkuliah. Saya sempat mengurung diri di kamar karena bingung mau ngelakuin apa. Mungkin juga saat itu saya menangis tapi tidak sesenggukan seperti saat masa kana-kanak dulu. Ini nangis hanya bercucuran air mata tanda sedih. He.

Entah tepat di hari ketika bapak dan adik pulang, atau keesokan harinya, saya menelpon teteh yang saat itu memang sudah kuliah tingkat 3. Saya bilang dengan tanpa pertimbangan apa-apa bahwa saya ingin pulang saja dan tak jadi mau kuliah.

Teteh saya meyakinkan adiknya ini bahwa pergi ke Purwokerto adalah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Biaya tidak sedikit sudah dikeluarkan  untuk membayar kosan, kampus, serta pakaian dan ongkos pergi ke kota Satria itu. Entah bagaimana caranya saya jadi sedikit lega dengan nasihat yang dirasakan lembut dari teteh.

Untung saja saya ada teman sekelas SMA yang juga kuliah di sana tapi beda jurusan. Saya ikut menginap di sana selama masa Ospek Universitas. Kabar burung tentang kabar tidak-tidak tentang ospek akan sangat menakutkan kalau harus dilalui sendirian oleh mahasiswa baru. Dengan mengumpulkan dan membuat persyaratan bersama-sama membuat kebingungan dan rasa lelah bisa sedikit diminimalisir.

Perasaan menjadi seseorang yang terpenjara sepi di beberapa hari sebelumnya pelan-pelan mulai menghilang. Yang seperti itu belakangan saya tahu merupakan sesuatu yang disebut home sick. Perasaan yang biasanya lebih sering menjangkiti orang-orang yang baru tinggal di luar negeri karena ada banyak perbedaan budaya dengan tempat tinggal sebelumnya.

. . .

Saya yakin tak seorang diri merasakan hal perasaan tak karuan ketika pertama kali tinggal di daerah orang dengan kondisi sendiri dan belum banyak orang yang dikenal, teman apalagi belum ada sama sekali. Semua orang perlu menyesuaikan diri dengan tempat tinggal barunya itu untuk menebus sebuah zona yang disebut nyaman.

Tentu tiap pribadi memiliki waktu yang berbeda-beda untuk proses adaptasi tersebut. Ada yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang-orang baru, ada pula yang butuh waktu (sangat) lama untuk bisa menjalin hubungan pertemanan. Saya juga punya beberapa teman dengan karakteristik sulit berinteraksi dengan orang lain. Kalau saya sendiri sih tipikal yang pertengahan meski lebih condong ke mudah berkenalan. Tapi kalau perkara menjatuhkan perasaan, itu soal lain. Sulitnya amit-amit. Eh malah curhat.

Cerita tentang apa yang saya alami beberapa tahun ke belakang ini fokusnya bukan ke tentang pentingnya punya teman dan keahlian mendapatkan teman baru agar tak terpenjara sepi. Ya, meskipun poin tentang itu juga sangat perlu untuk diperhatikan. Saya hanya ingin mengambil pelajaran saja dari keputusan yang untungnya tak jadi saya ambil waktu itu.

Jika saya memilih untuk menyerah pada ketakutan, pada kelemahan diri untuk akhirnya jadi menuruti keinginan sekilas untuk tidak kuliah, mungkin saya tak akan jadi Irfan yang sekarang. Belajar di perguruan tinggi acapkali mengubah pola pikir seseorang. Dan saya bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu di perkuliahan yang memberi fasilitas untuk berpikir tidak berfokus hanya pada diri sendiri.

Emang sekarang sudah jadi seseorang yang bagaimana? Enggak sih, maksudnya seseorang dengan ciri khas suka menulis atau khas diri saya seperti sekarang.

Karena seseorang itu tak terlepas dari pengaruh sesuatu yang ia temui di masa lalu, mau itu baik atau buruk dan membentuk dirinya dengan pemahaman-pemahaman tertentu. Karena memang pelajaran itu tak hanya didapat dari yang dirasa baik-baik saja, melainkan dari hal tidak baik pun pembelajaran bisa kita peroleh. Dan boleh jadi lebih dahsyat pengaruhnya untuk terus diingat.

. . .

Dari apa yang pernah saya jalani di masa lalu tentang perlawanan atas sebuah ajakan untuk mengikuti keinginan sesaat yang seolah terlihat baik, saya ingin mengingatkan saja untuk jangan terlalu tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Terlebih kalau hati kita sedang kalut. Salah-salah bukan perasaan tentram yang didapat, justru penyesalan tak berkesudahan. Mungkin pesan ini cocok bagi mereka para mahasiswa baru. Mudah-mudahan dari kalangan mereka ada yang baca tulisan ini.

Bagi yang sudah melalui masa-masa maba, dan kurang lebih mengalami hal yang sama dengan saya ketika awal-awal berkuliah, hayu jangan lupa bersyukur atas ketetapan hati dan kesiapan anggota tubuh kita untuk menolak ajakannya saat itu. Itu tak lepas dari pertolongan Allah untuk membuat kita cenderung memilih keputusan terbaik dari yang baik atau justru sangat tak baik yang kadang membingungkan. Seolah tampak baik semuanya.

Muhammad Irfan Ilmy, Rumah (Tasikmalaya), 27 Juni 2017

Advertisements
Mensyukuri Setiap Pilihan di Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s