Mata yang Sungguh Berharga

Mata merupakan indra yang sangat vital bagi manusia. Apa jadinya bila mata terganggu, faktor penyebabnya sakit mata misalnya, sungguh sama sekali tak nyaman. Saya beberapa bulan lalu menderita sakit mata sekitar satu mingguan. Mata memerah, agak perih, dan sangat tidak enak untuk beraktivitas sehari-hari, ditambah tidak percaya diri ketika beraktivitas di luar kosan karena kelopak matanya membengkak.

Mata menjadi sumber masuknya informasi bagi manusia selain telinga lewat media suara. Keindahan pun hanya bisa dinikmati dengan organ ini. Pemandangan gunung, laut, bukit-bukit, dan citra alam yang menentramkan itu hanya mampu dideteksi keberadaannya menggunakan indra mata. Maka wajar kalau imbauan untuk menjaga kesehatan mata tak boleh dianggap angin lalu.

Mamah dan bapak saya ketika saya dan kakak serta adik masih kecil selalu menegur jika kami menonton tv sambil tiduran juga jaraknya terlalu dekat. Larangan ini merujuk pada pengalaman hidup mereka sepertinya yang didapatkan dari perkataan orang-orang. Larangannya terlihat ribet, namun sebenarnya memang itu benar adanya. Itu salah satu pencegahan agar fungsi mata bisa terjaga.

Orang-orang zaman sekarang sepertinya akan terancam matanya rusak karena pola hidup yang memungkinkan untuk itu. Hampir setiap saat, setiap hari cahaya-cahaya yang sangat terang dari gawai, laptop, personal computer, televisi dikonsumsi mata ini. Kalau boleh jujur, apa yang pertama kali aktivitas kita setelah bangun tidur?

Do’a mungkin iya. Dan alhamdulillah kalau masih ingat dengan do’a bangun tidur sebelum akhirnya membuka smart phone mengecek barangkali ada pesan masuk. Padahal lampu kamar masih belum dinyalakan, yang berarti terangnya cahaya smart phone itu sangat berpotensi merusak fungsi mata.

Bayangkan, hal itu menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Ditambah lagi paling enak kalau sudah memainkannya sambil tiduran, duh. Yang merusak itu memang sesuatu yang dirasa enak ketika melakukannya. Saya selain sedang menyindir pola keseharian sebagian orang-orang tentu sedang membicarakan diri saya sendiri yang kurang lebih seperti itu.

Jadi memang, apa yang menimpa diri kita—penurunan fungsi mata salah satunya—besar sekali andil diri kita sendiri sehingga hal tersebut bisa terjadi. Selain tentu penyebab lain ada pula yang karena penyebab genetik dari orang tuanya. Itu mahlain soal. Bukan fokus utama penyebab kerja mata berkurang yang saya maksud.

Apa jadinya bila kita tak lagi bisa menikmati tayangan menarik di televisi maupun layar monitor lainnya baik film maupun video lain karena mata tak lagi bisa melihat? Atau tak bisa menyaksikan lukisan Allah berupa deretan pohon pinus yang rapi di suatu tempat? Pastilah ada hal yang sangat kurang dalam hidup kita. Bukan ada lagi, malah sangat kurang sekali. Itu ternyata dialami banyak teman-teman kita di luar sana. Sikdam Hasim salah satunya. Ia kini adalah seorang pengajar bahasa Inggris di salah satu Sekolah Swasta di Tangerang. Selain mengajar, ia pun terdorong untuk menyuarakan hak-hak kaum disabitas agar bisa mengakses sarana publik yang sama dengan warga Indonesia lainnya.

Sikdam bukan penderita kebutaan sedari lahir. Ia tidak lagi bisa melihat bermula dari sebuah kecelakaan mobil. Kronologisnya ia sedang dalam sebuah mobil bersama temannya yang menjadi sopir. Nahas, ketika ada polisi tidur yang cukup tinggi, temannya tak memelankan mobilnya dan justru melaju dengan kecepatan seperti biasa. Kepala Sikdam  pun membentur keras pada bagian atas mobil.

Waktu itu ia tidak memakai sabuk pengaman. Sementara temannya yang menjadi sopir memakainya sehingga bisa selamat dari benturan itu. Setibanya di rumah, penglihatannya tak lagi berfungsi dengan baik. Semua yang terlihat hanya warna gelap. Itu terjadi sekitar 6 tahun lalu ketika usianya 21 tahun dan baru saja lulus kuliah. Siapa yang tak terpukul menerima kondisi kalau indera penglihatannya diambil?

Menerima kenyataan itu, mimpi-mimpi yang telah dirangkai Sikdam hancur sudah. Cita-cita masa kecilnya untuk menjadi diplomat karena ingin bertemu banyak orang di negara lain terpaksa harus dipendam dalam-dalam. Ia pun menyalahkan Tuhan atas hal yang menimpanya ini. Bahkan saking depresinya, Sikdam sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, berkat dukungan tak henti-henti dari ibunya, ia bisa bangkit kembali. Di saat sekelilingnya mencemooh keadaan diri Sikdam, ibunya selalu membesarkan hati anaknya itu bahwa keputusan Allah selalu baik. Mau buta atau tidak, kondisi dirinya akan sangat tergantung dengan kegigihan untuk berjuang dalam hidup.

Allah tidak akan mengubah keadaanya ketika ia sendiri tak berusaha mengubahnya. Nasihat dari ibunya yang bersumber dari Q.S. Ar-Ra’du ayat 11 ini menjadi salah satu motivasi terbesar Sikdam untuk memandang dengan perspektif lain kebutaan yang dideritanya.

Kini, lewat wasilah tidak bisa melihat, justru mimpi-mimpi Sikdam terwujud. Pada bulan Februari tahun 2014 lalu ia diundang oleh pangeran Pangeran Philip Duke of Edinburgh untuk datang ke istana Kerajaan Inggris untuk menerima penghargaan International Award for Young People  sekaligus memberikan inspirational speechdi hadapan seluruh keluarga kerajaan. Akan sangat rapat sekali kemungkinan untuk bisa datang ke sana jika tak ada sebab tertentu. Inilah cara Allah mewujudkan keinginan seorang seorang hamba. Tak terduga bagaimana tahapan-tahapannya. Sungguh Allah sebagai-baiknya pembuat kejutan.

Masih banyak lagi kesempatan yang diterima Sikdam untuk menyuarakan kepentingan kaum disabilitas ini. Sebut saja seperti  pada Tahun 2013 ia menjadi wakil Indonesia dalam Konferensi Global Pemuda Penyandang Disabilitas di Kenya, Afrika. Serta pada bulan Juli 2015 ia menjadi peserta International Study Program 2015 di Korea Selatan. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Terbukti  bahwa keterbatasan tak menghalangi pendiri Disability Youth Center Indonesia ini untuk berkarya dan berkontribusi.

Tentang seseorang yang diuji dengan melalui penghilatan yang hilang saya mengajak mari bersama-sama merawat mata ini dengan baik. Mengajak bukan berarti saya sudah bisa melakukannya dengan sangat apik. Saya pun tak jarang justru mengarah pada hal-hal yang justru menyumbang terhadap kemungkinan kemampuan mata ini berkurang: salah satunya membaca dengan cahaya ruangan yang redup dan melakukannya sambil tiduran.

Poin selanjutnya tentang memandang ketentuan Allah atas kita yang dirasa sangat merugikan. Ternyata tak sepenuhnya benar persangkaan kita. Sebagai yang membuat dan merawat kita tanpa pernah kita minta, Allah tahu definisi paling paling dari hal-hal yang terbaik bagi ciptaannya ini.

Bila dipikir sampai ke hal paling mendasar dan kita jujur tanpa kebohongan sedikit pun, memang Dia selalu menganugerahkan kebaikan-kebaikan tanpa cacat sedikit pun. Ini pun PR kita bersama untuk mengenyahkan keragu-raguan yang selalu hadir membayangi hati kita hanya karena apa yang kita ingin tak sesuai dengan kenyataannya.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 4 Juli 2017

sumber gambar: Femina.com

Advertisements
Mata yang Sungguh Berharga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s