Kehadiran Mamah

Kaulah ibuku cinta kasihku

Terima kasihku takkan pernah terhenti

Kau bagai matahari yang selalu bersinar

Sinari hidupku dengan kehangatanmu 

Hadad Alwi, Ibu

Dari semenjak lebaran kemarin kaki saya sakit. Ini kali kedua setelah sebelumnya setahun yang lalu tiba-tiba kaki saya sakit tak tertahankan bahkan sampai seminggu lebih lamanya saya diam di kosan enggak ke mana-mana, paling beberapa kali maksa ke masjid. Padahal tidak jatuh tidak apa. Menjelang shalat jum’at ketika sebelumnya saya ketiduran tiba-tiba rasa sakit itu singgah di kaki saya.

Namun ketika ada haul keluarga satu eyang saya tetap ikut karena memang naik mobil, jadi aktivitas jalan-jalannya tidak terlalu dominan. Ketika itu, kaki yang sebelumnya hanya sedikit sakit, tiba-tiba mulai berlipat-lipat kali sakitnya. Mungkin benar, saya rematik. Ah, tidak, jangan! Kaya orang tua saja.

Malamnya kaki saya kian menjadi-jadi sakitnya. Mamah sampai terbangun dan mencoba menenangkan saya yang sedang didera kesakitan luar biasa. Besok-besoknya saya berharap ada perbaikan di kaki saya karena sudah coba menggunakan parutan jahe untuk kemudian di tempel dan diikat di kaki supaya memberikan sebuah hangat. Ini pula yang dilakukan tetangga kontrakan saya waktu itu—saat kaki saya mulai sakit—yang menjadi wasilah kaki saya sembuh (dan sebelumnya sudah dipijat dua kali sih).

Namun usaha memakai jahe yang diparut tadi itu tak membuahkan hasil berarti. Kaki saya masih sakit dan mulai menjalar ke betis dan paha akibat menahan supaya bagian kaki saya yang sakit tidak ditapakkan ke lantai karena memang sungguh sakit luar biasa.

Tadi sore—ketika tulisan ini mulai ditulis pada hari Selasa kemarin—menjelang ashar mamah saya menawari untuk dipijat sebagai ikhtiar menjemput kesembuhan Allah dijanjikan atas setiap ujian sakit. Awalnya saya emohKebayang pisan nyerina jiga kumaha. Tapi setelah dipikir-pikir, saya pun menerima tawaran itu. Tentang rasa sakit yang mungkin saya alami, gimana nanti saja we.

Sebelum dipijat saya sempat-sempatnya memasak nasi goreng sederhana dengan bumbu alakadarnya berupa garam dan diberi kecap plus saos sedikit. Telor tidak lupa sebagai penambah gurih sekaligus lauknya. Mamah bilang supaya makannya cepat bisi Nini Erum (yang mijat) nya datang.

Sekitar jam 5 sore Ni Erum pun datang. Saya sedang nonton Naruto di Global TV saat itu. Bayangan tentang sakitnya bagian yang sakit dipijat sungguh menyeramkan. Saya langsung rebahan sambil mengganjal dada dengan bantal untuk memberi sedikit rasa nyaman. Sedikit demi sedikit kaki kanan saja dipijit. Awalnya belum sakit karena bagian yang dipijit memang bukan bagian yang sedang sakit. Lama kelamaan bagian yang nyeri mulai disentuh.

Duh, eta nyerina, nyeri pisan. Padahal sebelumnya kaki saya tak jatuh atau hal-hal yang menyebabkan kaki saya jadi sakit. Itu karena kedinginan jadi uratnya murungkut. Dan kata nini Erum, sewaktu kecil memang saya cukup langganan sering diurut gegara sering jatuh di bagian kaki. Urat yang waktu kecil posisinya salah, memang jadi sering (akan) kambuh lagi.

Saya mulai teriak-teriak sebagai ekspresi menderita sakit luar biasa saat dipijat. Asli men, sakit banget. Tapi saya kira kesakitan saya enggak ada apa-apanya dengan sakit yang dialami para ibu ketika melahirkan anak-anaknya. Hormat dan penghargaan saya bagi para ibu. Mamah saya terutama.

Lalu mamah yang mendengar teriakan saya menghampiri untuk melarang saya gogorowokan (berteriak-teriak). Katanya takut disangka ada apa-apa. Soalnya pernah suatu ketika, lagi nonton bola, lalu mamah saya geregetan, sampai tak terasa teriak-teriak keras sekali. Lantas ada tetangga yang kebetulan lagi lewat atau bahkan diam di depan rumah kaget dan mengetok pintu. Waktu itu sekitar jam 08.30-09 malam-an. Nah, mungkin kejadian itu membuat mamah berjaga-jaga agar kejadian memalukan seperti itu tak terulang kembali, he.

Mamah jadi diam di dekat saya terus menerus berusaha membuat saya diam. Saya lalu menggenggam erat bantal sambil berteriak ke bantal sembari menutupi mulut saya agar suara keras itu bisa terredam. Kemudian saya mulai tak kuat untuk melampiaskan energi besar dari rasa sakit itu.

Saya memegang tangan mamah, juga sambil mengusapinya pada awalnya. Lalu saya jadi ikut pula memijitinya. Halah, naha saya jadi ikut-ikutan mencetan? Dan ketika sakit mulai kian terasa, saya menggenggam kuat erat tubuh mamah. Mamah mencoba menenangkan sambil sura-seuri. Ieu budak kunaon? Begitu mungkin perkataan yang terlontar di pikirannya. Gerewegan, katanya.

Tapi saya merasakan bahwa saya jadi anak kecil kembali di mana saya dekat sekali dengan mamah. Mamah telaten mengurus anaknya ini. Dan saya mungkin akan tetap jadi seorang anak kecil ketika berada di hadapan mamah sampai kapan pun. Bukan dalam arti saya terus menerus berbuat kekanak-kanakkan, seperti merajuk tak henti-henti ketika ingin dibelikan sesuatu. Saya hanya ingin tetap dekat dengannya baik secara fisik maupun dalam ikatan batin. Semoga mamah senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah dan dipandu untuk mengisi waktu sehatnya untuk menebar sebanyak-banyaknya manfaat.

Mamah mungkin tak piawai menggunakan ponsel yang pintar itu seperti bagaimana anak-anak muda begitu paham betul bagaimana cara memakaianya sampai-sampai lupa waktu mengerjakan hal-hal lainnya. Tapi ia sangat tangkas menggunakan kedua tangannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Mamah mungkin tak pandai memahami bagaimana mengoperasikan laptop dan apa-apa yang dikomputerisasi. Namun ia sangat pandai membaca apa-apa yang dirasakan dan dirisaukan anak-anaknya dalam hati. Ia paham hal-hal yang tersembunyi di lubuk perasaan buah hatinya, karena dalam diri mereka mengalir kuat darah yang sebelumnya bagian dari dirinya.  

. . .

Saya selesai dipijat menjelang maghrib. Subhanallah eta nyerina teu katulungan.Mudah-mudahan enggak kambuh lagi. Karena membayangkan diurut kembali saya ngeri sekali. Linu-linu seger kumaha gitu? Terimakasih mah atas pegangannya. Tangan yang diberikan sebagai tempat untuk menyalurkan energi rasa sakit yang saya rasakan mungkin secara kasat mata tak memberikan pengaruh apa-apa, namun bagi saya pribadi itu sangat menguatkan.

Kehadiran ibu bagi anak-anaknya memang tak pernah tak berpengaruh. Saya beberapa kali menderita sakit saat di pondok dulu, tapi ternyata dengan perawatan dan ketelatenan mamah, alhamdulillah jadi jalan saya bisa sembuh kembali. Mungkin ketika itu saya sedang rindu rumah saja, rindu mamah.

Bagi yang masih ada mamahnya di samping kalian, perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya, jangan sampai hatinya tersakiti! Do’a mereka jangan yang mujarab itu lupa untuk tak dipinta. Bagi yang sudah pergi lebih dahulu, kirimilah mereka dengan do’a-do’a agar Allah memberikan ampunan atasnya. Do’a anak-anak shaleh akan terus mengalir bagi orang tua mereka. Itu bukan kata saya. Rasulullah sudah mengabari kita perihal itu dari jauh-jauh hari.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 28 Juni 2017

Advertisements
Kehadiran Mamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s