Bersua Kembali

image

Selain ketupat dan saling maaf-maafan, momen lebaran di Indonesia khususnya, identik dengan haul keluarga dan halal bihalal. Satu lagi terlewat, reunian di berbagai perkumpulan. Ini juga entah sejak kapan mulai popular. Mengenai yang terakhir ini problem terbesar banyak orang sehingga tak bisa menghadirinya adalah waktu yang kadang berbentrokan. Kan lingkaran kita pun tak hanya satu.

Saya misalnya di hari Rabu kemarin (4 Syawal) hanya bisa mengikuti satu dari dua silaturahim karena waktunya bersamaan: reuni PonPes Al-Ikhwan Cibeurem Tasikmalaya dan Wahana Silaturahmi (WASILAH) Rohis SMAN 1 Tasikmalaya, Gema Babussalam.

Awalnya saya enggak akan datang ke acara-acara silaturahim itu karena sebagaimana saya tulis di jurnal sebelumnya kalau kaki kanan saya sakit. Tapi, pikiran saya berkecamuk dan hati saya terbujuk oleh pikiran itu untuk memaksakan saja untuk pergi ke salah satunya.

Hati saya lebih condong ke reuni pesantren dengan pertimbangan acaranya diselenggarakan 2 tahun sekali. Sementara Wasilah diadakan setahun sekali. Tahun depan mudah-mudahan kalau ada umur saya bisa datang ke Wasilah kembali. Syukur kalau sudah tak sendiri lagi. Apakah ini sejenis kode? Bukan, ini do’a yang tersirat. He.

Dari rumah saya berangkat sekitar jam 09.30. Tiba di Pondok sekitar jam 10.30-an. Untung acara baru saja dimulai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sulit menemukan teman seangkatan saya. Beruntung ada adik kelas yang bisa saja ajak berbincang. Yang lainnya mah rata-rata angkatan kolot atau angkatan yang baru saja keluar. Mana saya kenal?

Konsep reuni tahun sekarang ada kemajuan dari yang sebelumnya. Dulu indoor di madrasah dan tahun ini outdoor di lapang futsal depan kobong santri laki-laki. Saya sepakat dengan apresiasi Ibu bahwa sekarang penyelenggaraannya lebih baik meski kekurangan di sana-sini masih ada. Itulah tanda kalau panitianya manusia, pasti sulit sekali untuk mendekati sempurna.

Kalau untuk konten acaranya seperti biasa, sambutan-sambutan, acara inti berupa pesan-pesan dan tausiyah dari bapak dan ibu, sedikit hiburan berupa mars Al-Ikhwan dari santri perempuan, foto bersama, dilanjut shalat zuhur dan makan siang bareng, dilanjut dengan sharing dari perwakilan angkatan-angkatan baik yang lama maupun baru.

Dari forum ramah tamah berisi sharing itu saya tahu kalau banyak alumni Al-Ikhwan yang sudah jadi orang. Ada yang sudah jadi anggota DPRD, pengusaha sukses, memiliki pondok pesantren, guru dan banyak profesi lainnya.

Terbukti kalau jadi santri itu bisa sekali berkarya aneka lini. Bahkan sangat memungkinkan sekali karena pesan-pesan dari Kyai dan para ustaz akan sangat berpengaruh di jiwa para santri tentang menebar banyak manfaat bagi banyak orang. Karena hal itu diperintahkan dalam agama.

image

Semoga di reuni-reuni kedepannya saya pun bisa lebih baik dari sekarang agar bisa memberi sedikit inspirasi ke mereka yang datang. Soalnya kemarin ketika ditawari untuk mewakili angkatan saya untuk maju ke depan, saya tak menerimanya. Bingung mau ngomong apa karena belum banyak kebaikan yang dilakukan.

image

Pesantren sudah jauh berbenah ketika setahun lalu saya berkunjung ke rumah Ibu. Gedung-gedung baru tertanam kokoh di tanah yayasan. Meski itu perubahan signifikan lebih dominan ke bangunan-bangunan SMK (katanya dapat banyak bantuan dari pemerintah). Untuk pesantren paling ada renovasi kobong santri perempuan dan pembuatan aula Asy-Syifa, kata ibu saat sambutan mah.

Alhamdulillah. Semoga dari tahun ke tahun pondok tercinta kami mengalami kemajuan. Baik di bidang infrastrukturnya terlebih dari kualitas manajemen pesantren dan kualitas santri dalam penguasaan ilmu islam yang diajarkan.

Hal yang selalu jadikan motivasi datang ke reunian pondok selain berharap bisa bernostalgia bersama teman-teman adalah mendengarkan tausiyah bapak. Banyolannya ngangenin dan tentu jangan tanya perihal konten ceramahnya. Selalu mengesankan karena ada petuah-petuah juga yang enggak ngebosenin buat dijamin enggak bakal ngantuk buat didengerin.

Kami—saya sih khususnya—seperti kerbau dicocok hidungnya yang dalam artian manut saja ketika dinasihati. Kita seperti dibuat tak sadar, padahal sedang mendengarkan pesan-pesan kebaikan. Yang jika disampaikan sembarangan orang, tentu kita kadang suka ogah mendengarkannya.

Kemarin keinginan untuk mendapat pencerahan dan ilmu dari bapak akhirnya kesampaian. Bahkan saya sengaja merekamnya agar bisa diputar ulang di rumah. Buat bahan jurnal juga sih. Soalnya diniatkan untuk menulis tentang reunian kemarin.

Sebelum bapak memberikan tausiyahnya, katanya ada bagi tugas, ibu menyampaikan lebih dulu tentang informasi perkembangan pesantren. Maksudnya sebagai tahaduts bin ni’mah yang ditujukan juga agar alumni bangga dengan banyak perkembangan yang terjadi di tempatnya belajar ilmu agama waktu dulu. Tapi rasa bangga itu harus ditindaklanjuti dengan cara mempromosikan pondok ini untuk kelangsungan eksistensinya.

Cara sederhana mem-follow up kebanggaan itu dengan cara mengajak keluarga kita sendiri untuk bisa mondok di sana. Yang punya adik, sepupu, tetangga, atau bahkan anak mungkin (bagi yang sudah menikah dan punya anak) atau yang lainnya.

Itu cara yang tak wacana untuk mencintai pesantren yang berdiri sejak tahun 1989 ini. Dan ulasan-ulasan saya tentang pesantren di beberapa tulisan juga semoga saja termasuk bagian dari ikhtiar memanifestasikan kecintaan terhadapnya. Bukankah cinta lebih menuntut pembuktian daripada alasan? Begitu kata kang Azhar mah.

Ada pesan ibu yang katanya selalu di cantumkan di buku kenangan:

image

Sebelum memberikan pesan kepada para alumni, bapak memberikan sedikit klarisifikasi tentang makna alumni Al-Ikhwan itu seperti apa, juga memandu do’a bersama yang bapak sebut sebagai wisata rohani. Menurut bapak definisi alumni ini tak lain adalah sebagai berikut: “asal pernah mandi jeung nguyup cai Al-Ikhwan bari niat masantren, najan teu tamat, teu lila, itulah alumni.”

Seharusnya hal ini dipegang setiap yang pernah mondok di Al-Ikhwan meski memang tak sampai lulus. Namun, pada kenyataannya tetap saja yang datang ke acara silaturahim alumni setahu saya tetap saja mereka yang sampai selesai. Mungkin malu atau kagok sih kendalanya mah.

Oh iya, bapak berceramah mengacu pada pointer di selebaran yang dibagikan. Ini nih selebaran yang saya maksud:

image

Kalau tertarik mendengar ceramahnya, silakan bisa hubungi saya. Nanti kalau sedang di spot yang ada jaringan internet kenceng, insya Allah saya kirim. Atau bagusnya mah dikirim langsung sih, biar cepet.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya), 30 Juni 2017

Advertisements
Bersua Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s