Syawal #1: Budaya (Lebaran) Baik di Keluarga Kami

Hari ini tepat 30 hari saya nulis selama Ramadhan. Alhamdulillah. 30 hari plus 1 syawal sih soalnya Ramadhan tahun ini 29 hari. Kalau tahun lalu, resolusi itu hanya kuat sampai 21 hari, ternyata jejak itu memberi spirit tersendiri ketika project yang sama dibuat kembali. Beginilah luar biasanya efek dari pembiasaan. Mudah-mudahan Ramadhan tahun berikutnya bisa kembali nulis dan bisa mengajak teman-teman yang lain. Rame lo, asli. Tentang bagaimana bingungnya mencari ide buat tulisan di hari ini. Tentang semangat yang naik turun, tentang godaan buat libur dulu. Tentang bujukan untuk memilih libur dulu karena terdesak oleh keadaan yang seakan tak memungkinkan untuk menulis: tidak ada sinyal untuk memposting tulisan, sedang sangat sibuk dan lain-lain. Namun bila kendala-kendala itu mampu ditaklukan, kita sedang menang bertarung dengan sisi lain diri kita sendiri yang mengajak untuk jadi seorang pecundang, seseorang yang lemah atas tekanan-tekanan.

. . .

DI tulisan terakhir pada Challenge nulis selama Ramadhan ini saya ingin bercerita tentang beberapa hal rutin yang biasa keluarga saya lakukan saat momen lebaran. Mungkin tak akan terlalu menarik, tapi saya ingin mengabadikannya saja karena hampir setiap tahun polanya selalu seperti itu.

1.    Shalat Sunnah Idul Fitri

Di kampung saya, sangat jarang sekali atau bahkan tidak pernah sama sekali menyelenggarakan shalat id di lapangan seperti yang lazim ditemui di perkotaan. Masjid jami di salah satu rt di kampung saya menjadi tempat shalat setahun sekali ini.

Luas masjid yang tak terlalu besar tak mampu menampung jama’ah yang ketika lebaran tiba, entah kenapa selalu membludak. Hal ini karena banyak orang-orang yang sebelumnya menetap di tempat perantauan, saat momen hari raya, mereka sejenak pulang ke tempatnya tumbuh saat kecil. Ditambah juga banyak sekali yang membawa anggota baru dalam keluarganya: menantu, anak-anaknya dan bahkan mungkin ada pula yang mengajak teman kuliah atau kerjanya. Wajar bila jumlah jamaah saat dan bukan hari lebaran terdapat siginifikansi yang cukup tinggi.

Kalau shalat iednya mulai jam 6.30 dengan konsekuensi masjid bakal luber dan sulit menampung jama’ah, maka kita harus datang lebih awal dari waktu teng dimulai. Telat sedikit, siap-siap untuk sulit dapat posisi di dalam masjid.

Untuk shalat ied fitri tahun ini bapak saya menjadi imam. Bacaan rakaat pertama Q.S. Al-ALa dan yang kedua Al-Ghasiyah bagi saya pribadi sangat merdu untuk didengar. Semoga kelak, apa yang biasa bapak saya lakukan sebagai seorang khatib juga imam shalat jum’at maupun 2 shalat  ied bisa dilanjutkan. Kalau bukan sama anaknya, sama siapa lagi?

Setelah rangkaian shalat beres, jama’ah berebut saling depan untuk bersalaman agar segera rampung dan mungkin ingin segera pulang ke rumah untuk menyantap ketupat dan opor ayam yang sudah siap dari semalam.

2.    Silaturahim dan saling minta maaf ke tetangga

Selepas shalat usai, para jama’ah mumpung momennya sangat baik, langsung saling berjabat tangan untuk mengikrarkan “hapuntena sok kumawantun” atau “hampura nya abi seueur pisan kalepatan” dan pernyataan-pernyataan senada lainnya.

Selain ke sesama jama’ah, keluarga saya pun karena bapak dan mamah sudah menjadi guru sejak lama, banyak murid-muridnya yang juga tetangga kami, akhirnya kami berkeliling ke beberapa rumah untuk bersilaturahim dan saling meminta maat seperti tadi. Namun untuk lebaran kali ini, kebiasaan itu tak dilakukan.

Biasanya euceu-euceu yang memang jarang ketemu dengan saya juga adik karena kami belajar cukup jauh dari rumah, mereka bilang “ih meni jangkung. Ade nyusul si aa”, “meni pangling kieu”. Pernyataannya template banget persis seperti ucapan-ucapan selamat dan permohonan maaf saat hari raya tiba.

3.    Ziarah kubur ke makam emih (mamahnya bapak)

Emih meninggal di tahun 2011. Sudah 6 tahun berarti mamahnya bapak tiada. Setiap tahun setelah shalat ied, bermaaf-maafan dan makan (kadang makannya nanti sesudah dari makam) kami melangkahkan kaki beberapa meter ke arah tonggoh (atas) untuk mendo’akan emih. Bapak memimpin do’a bersama sambil membaca yasin itu. Mamang beserta bibi, dan dua keponakannya pun turut serta.

Saat bapak saya dengan khusyu bermunajat, saya bangga punya bapak seperti beliau. Kalau mengacu pada hadits tentang terputusnya amal anak adam, bapak saya insya Allah termasuk ke salah satu dari tiga yang amalan ke ahli kubur tetap mengalir. Insya Allah bapak adalah anak sholeh yang mendo’akan almarhum mamahnya (nenek saya). Bapak meneladankan tentang hal-hal yang memang mesti ditiru anak-anaknya. Terimakasih pak.

4.    Silaturahim ke bapak aki (bapaknya bapak yang menikah kembali)

Bapak aki (sebutan kami cucu-cucunya) menikah lagi setelahnya emih meninggal dunia. Sekarang beliau tinggal di desa tetangga yang lokasinya berjarak sekitar 2 km. Sebelum berangkat menuju agenda berikutnya yakni haul keluarga seeyang di desa daerah kelahiran mamah (masih satu kecamatan dengan bapak), kami mampir dulu ke rumah bapak aki.

Seperti biasa, kami saling bersua karena berjumpa tak lagi sering seperti dulu juga saling (kembali) minta maaf. Uwa (kakak perempuannya bapak) pun biasanya berkunjung ke sana. Jadi sekalian bertemu di tempat tinggal bapak aki. Namun untuk tadi, ketika kami tiba di rumah bapak aki, uwa belum ada. Jadi kami singgah sebentar ke rumah uwa.

5.    Ziarah Kubur ke makam apa dan emak (bapak dan mamahnya mamah)

Orang tua mamah lebih dulu dipanggil Allah ketimbang orang tua bapak (emih). Berziarah sembari mendo’akan almarhum Apa dan Emak menjadi rutinitas tahunan juga. Lagi-lagi predikat anak sholeh juga saya kira ada di diri mamah saya. Contohreal dalam membentuk sifat diri anak-anaknya.

6.    Haul keluarga satu Eyang

Tanggal 1 syawal disepakati menjadi pertemuan rutin atau juga disebut haul antar keluarga yang satu eyang. Jadi keluarga emak beserta adik-adiknya yang juga sudah banyak memiliki keturunan berkumpul untuk mempererat tali silaturahim. Konten acaranya membacakan sekilas tentang perjuangan para karuhun kami juga pembacaan silsilah keluarga super besar, do’a bersama, dan makan bareng. Pertanyaan tentang “pangling” kembali terulang di forum ini. Wajar, kami memang jarang sekali berjumpa. Pertemuan setahun sekali ini menjadi wadah positif untuk saling keep in touch.

. . .

Itu kurang lebih kebiasaan tahunan keluarga kecil kami ketika 1 Syawal datang. Ada beberapa hal lain juga sebenarnya seperti silaturahim ke rumah uwa (kakak laki-laki tertua mamah) di daerah Benda Kota Tasikmalaya, dan lain-lain. Saat kecil dulu, saya tak merasakan apa manfaat dari ini semua. Namun, sekarang-sekarang saya mulai paham makna dari kebiasaan-kebiasaan baik di keluarga kami. Ini bisa saya adopsi juga kelak ketika sudah berkeluarga (kecil).

Sudah sih itu saja budaya positif yang mengakar kuat di keluarga saya. Pasti tiap keluarga memiliki kebiasaan yang hampir sama atau bahkan berbeda sama sekali. Tak masalah, semua yang diciptakan di dunia ini memang tak dirancang untuk menjadi seragam. Perbedaan-perbedaan memberikan kesan indah tersendiri. Misalnya pelangi. Kalau warna pelangi hanya satu, mungkin orang-orang tak akan mengaguminya karena tak indah. Misal yang selanjutnya adalah aku dan kamu. Kalau kamu berjenis kelamin sama dengan aku, ah tidak, itu bencana. Kan tidak akan tercita keindahan bukan? He. 

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya) 25 Juni 2017/ 2 Syawal 1438 H

Advertisements
Syawal #1: Budaya (Lebaran) Baik di Keluarga Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s