Ramadhan #29: Berakhir Sudah

Hari kemenangan telah tiba. Barusan (menjelang Isya) kementerian agama melalui menteri agama Republik Indonesia, bapak Lukman Hakim Saepudin telah memutuskan bahwa esok hari maghrib sudah tak lagi bulan Ramadhan. Alhamdulillah lebarannya jadi esok hari. Ketupat dan opor ayam tidak jadi basi.

Bulan telah berganti nama menjadi Syawal tepat tanggal satu. Masjid-masjid tak pandang di desa maupun di kota telah memulai kumandang takbir dalam rangka mengagungkan Allah yang kuasanya tiada hingga. Manusia sebagaimana pun—yang menganggap dan dianggap—hebat, tiada akan pernah mampu menandingi kemahakerenannya itu.

Titel kemenangan ini barangkali tak semua orang mendapatkannya. Kemenangan? Ketika kata itu menjadi sangat popular pada momentum hari raya tiba, saya sedikit merenung perihal kemungkinan apakah saya termasuk yang menang itu atau yang biasa saja atau juga bahkan yang tergolong kalah? Nauzubillah jika sampai masuk di kategori ketiga. Semoga tidak.

Apakah memang kita benar-benar unggul atas kompetisi melawan diri sendiri ketika Ramadhan selama sebulan kemarin? Ada sebagian dari kita yang masih berpuasa dengan kualitas alakadarnya. Puasa sebatas menahan diri dari makan dan minum selama seharian, tapi mulut masih diumbar ketajamannya. Mata masih diedarkan pada hal yang tidak-tidak. Ibadah-ibadah pendukung lain hanya seadanya dikerjakan.

Tak lupa sifat boros masih saja bercokol dalam diri. Terbukti dengan antusias luar biasa memborong makanan sebagai arena balas dendam atas lapar luar biasa selama sekian belas jam. Nafsu ini tak kuasa ditahan untuk memenej keuangan untuk membeli benda khas lebaran yang padahal tak terlalu dibutuhkan. Namun, harapan semoga sedikit amal itu bisa diterima, tetap dilayangkan. Allah pun berpesan kepada kita untuk tak boleh berputus asa atas rahmat-Nya. Mudah-mudahan kita tidak terlalu rugi teuing dengan hanya memperoleh lapar dan dahaga semata.

Baju—yang mungkin bersifat—dunia kita memang baru. Baru saja dibeli beberapa hari menjelang lebaran tiba. Kita rela berdesak-desakan berburu diskon yang mencapai 70% besarnya. Namun, diskon pahala besar-besaran dari Allah ketika Ramadhan masih ada, kita abai memperhatikannya. Pandangan kita mungkin terhalang angan-angan atas kehidupan dunia yang terlihat menyilaukan.

Atasan pakaian dipilih yang sebagus mungkin dengan harga yang juga pasti tak murah. Dipasangkan dengan bawahan yang tak kalah matching baik warna maupun modelnya. Sandal dan sepatu menjadi pelengkap agar penampilan di pertemuan-pertemuan keluarga besar bisa saling memperlihatkan satu sama lain. Foto yang dihasilkan juga akan sangat instagramable dengan kostum membanggakan tersebut.

Hal-hal semacam itu walau mungkin wajar saja sebagai bayaran atas kerja keras menahan lapar dan dahaga serta alhamdulillah bisa selesai. Tapi apa beda puasa seperti itu dengan puasa anak-anak yang sangat kegirangan dengan iming-iming hadiah tertentu ketika berhasil menuntaskan puasanya? Kita seharusnya bisa lebih berfokus pada hal-hal immateri yang sangat berguna bagi kehidupan pascamati kita. Dan jangan pula hal-hal itu menghalangi pandangan dari memerhatikan serta mempersiapkan pakaian untuk di akhirat kita kelak. Pakaian itu tak lain adalah pakaian takwa.

. . .

Sejak malam ini, tak ada lagi sahut-sahutan ceramah tarawih dari masjid-masjid. Tiada pula shalat 11 dan 23 rakaat yang dikerjakan sebakda isya. Porsi tilawah Al-Qur’an sudah agak mengendor dari biasanya. Terlebih pulang ke kampung halaman dengan kemacetan tak terbantahkan menyita energi kita dan merampas perhatian atas berlama-lama duduk bersama kitab suci.

Tak ada lagi tajil yang melimpah di masjid menjelang berbuka puasa. Tidak ada lagi sahur dan berbuka puasa bersama keluarga di rumah atau tempat tinggal di perantuan kalau bagi para pelajar dan mahasiswa.  Ramadhan telah pamit membawa berbagai macam keistimewaannya. Yang semula amalan-amalan dilipatgandakan ganjarannya, sejak maghrib tadi penggandaan balasan atas kebajikan-kebajikan itu kembali ke ukuran normal seperti sebelumnya.

Orang-orang tak seragam bergembira atas perginya Ramadhan karim ini. Tak sedikit pula bagi mereka yang paham bahwa Ramadhan itu di sana-sini terdapat keutamaan, tangis duka mewarnai kepergiannya.

Wajar saja, tak pernah ada surat keputusan khusus berisi jaminan bahwa di tahun berikutnya mereka akan menjadi  bagian dari bulan mulia itu. Mudah-mudahan kita secara bertahap menjadi orang yang bersedih dengan kepulangan bulan tarbiyah ini. Bukan malah di setiap tahunnya tak memiliki rasa kehilangan sama sekali atau bahkan selalu girang tatkala bulan Ramadhan habis masa bertamunya.

Latihan kita di—meminjam bahasanya kang Satria—Akademi Ramadhan semoga meninggalkan jejak kebaikan bagi bulan-bulan selainnya yang sungguh menawarkan godaaan-godaan yang sulit ditahan. Mudah-mudahan saja pembiasaan selama 29 hari kemarin mampu menjadi benteng bagi kita agar tak mudah terayu untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji lagi.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya) 24 Juni 2017/ 1 Syawal 1438 H

Advertisements
Ramadhan #29: Berakhir Sudah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s