Ramadhan #28: Berguru Kepada Buya Hamka

“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.”

– Buya Hamka

Salah satu ulama multitalenta yang dimiliki bangsa ini adalah Haji Abdul Malik Karim Amarullah atau akrab dengan sebutan Buya Hamka. Beliau adalah putra pertama pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah. Saya sendiri kalau dipikir-pikir ternyata mulai berinteraksi dengan tulisan-tulisan beliau sejak SMA dan waktu itu sambil mesantren juga. Saat-saat itu tahu lah bagaimana kelakuan sebagian anak-anak muda yang terpapar perkembangan zaman termasuk tentang persoalan asmara. Saya termasuk salah satu dari yang terkena paparan tersebut.

Tulisan-tulisan pendek buya Hamka yang saya dapat dari internet hanya saya koleksi saja di buku binder sebagai teman ketika perasaan-perasaan tidak karuan—belakangan popular dengan kata galau—itu menyerang.

Quotes buya Hamka tentang cinta—tapi bukan hanya tentang soal itu sih—tidak seperti yang lain-lain. Tidak murahan dan menarik juga mencerahkan pokoknya. Coba deh teman-teman googling atau cari kutipan-kutipan inspiratif buya Hamka di instagram dengan tagar buyahamka! Banyak sekali. Saya tak terlalu kepo lebih lanjut tentang siapa beliau itu. Cukup tahu saja kalau ia seorang yang pandai berkata-kata.

Semenjak kuliah dan ada mata kuliah yang harus dikontrak berkali-kali yaitu Tafsir, interaksi saya dengan salah satu karya fenomenal Buya Hamka pun kian intens. Tafsir Al-Azhar yang dikarang sang Buya selama kurang lebih dua ketika di penjara oleh Soekarno dan Buya Hamka sangat berterimakasih atas keputusan presiden RI pertama itu selalu jadi kutipan wajib atas tugas-tugas tafsir mahasiswa di jurusan saya. Meskipun bahasanya cenderung mendayu-dayu dengan ejaan bahasa Indonesia lama, tapi penafsiran-penafsirannya sungguh baik.

Oh, iya, saya kagum sekali pada Buya Hamka yang mampu menuntaskan penulisan tafsir Al-Azhar yang berjilid-jilid itu di tengah keterbatasan ruang penjara. Meski memang waktu luang tanpa ingar bingar dunia luar di sel secara logika memberi kesempatan bekerja fokus dan keluasan masa untuk merenung dan berefleksi.

Saat-saat itulah mungkin yang melatarbelakangi Buya untuk berterimakasih kepada Soekarno atas titahnya untuk memenjarakan Buya karena itu jadi masa-masa produktif untuk menulis. Lalu, yang saya tak habis pikir adalah tentang keterbatasan referensi untuk menunjang penafsiran-penafsirannya. Apakah mungkin Buya hanya memaksimalkan fungsi ingatannya untuk menulis? Dan kalaupun betul seperti itu, berarti jelajah baca sebelum Buya dipenjara serta daya panggil atas ilmunya sungguh luar biasa.

Kalau saya yang berada di posisi buya Hamka, mungkin yang saya akan tulis selama masa ditahan itu paling banter menulis puisi, prosa, atau jurnal dengan konten bebas yang tak mesti wajib mencantumkan pendapat-pendapat kredibel. Begitulah, perbedaan manusia-manusia zaman lampau dengan yang sekarang. Terlebih mungkin kedekatan beliau dengan Allah yang membuat potensi-potensi yang dimiliki jadi makin teroptimalisasi. Allah menolong hambanya yang membela Allah dan agamanya.

. . .

Hamka memang diakui menjadi salah satu ulama kharismatik yang layak dibanggakan oleh bangsa ini. Pendirian, kontribusi serta originalitasnya dalam berpikir serta berpihak pada Islam tercermin dari keberaniannya bersuara atas hal-hal yang dianggapnya tak layak untuk dilakukan. Bahkan baru-baru ini ketika Aksi Bela Islam sedang ramai-ramainya, jagat media sosial diramaikan dengan salah satu pernyataannya yaitu “jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.” Bahkan mungkin viralnya kembali kata-kata itu bisa jadi membuat banyak orang yang tertarik membeli buku-bukunya.

Buya Hamka bagi saya pribadi merupakan ulama sekaligus penulis yang buku-bukunya sangat mesti dikoleksi. Saya sendiri sejauh ini baru punya 2 buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Pribadi Hebat, tapi memang berencana melengkapi buku-buku lainnya. Di rumah teteh saya punya buku Falsafah Hidup. Sementara adik punya buku tentang Hamka tapi yang nulis anaknya, Irfan Hamka.

Cara menulis, rujukan-rujukan yang dijadikan sandaran maupun contoh-contoh untuk mendukung pendapatnya, pemikiran-pemikiran yang merepresentasikan ilmu-ilmunya yang luas dan dalam bisa dipelajari dalam buku-bukunya tersebut. Ah, pokoknya Buya meneladankan dengan nyata kepada kita bahwa seorang ulama bisa pula berdakwah lewat poros-poros lain seperti lewat sastra (penulis novel, penyair), politik (jadi politisi), maupun yang lainnya.  

Barangkali kepiawaiannya menguasai berbagai keahlian merupakan akumulasi dari kerja keras serta ketekunan yang diikhtiarkan secara total. Generasi Indonesia saat ini, terutama intelek muda muslim hendaklah menjadikan keseriusan Hamka dalam berperan bagi kemajuan Islam serta memberikan sumbangsihnya pada negeri tercinta sebagai salah satu role model.

. . .

Tak banyak sosok ulama paket lengkap yang meski tak pernah menamatkan pendidikan formalnya namun memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar seperti Buya Hamka ini. Mungkin banyak juga sih sebenarnya, saya saja yang belum tahu karena malas mencari-cari referensi lantas membacanya. Ah, intinya sih, mari kita do’akan mudah-mudahan Allah merahmati beliau, keluarga dan keturunannya.

Saya membayangkan, betapa ilmu yang telah diamalkan Buya baik melalui mimbar-mimbar ceramah, majelis-majelis ilmu semasa beliau hidup, serta kontribusi pemikiran yang dituangkannya dalam buku-buku yang menginspirasi akan terus mengalir pahalanya kepada beliau karena termasuk salah satu amal yang tak akan putus meskipun dipisah oleh ajal.

Semoga kita pun termasuk orang-orang yang kelak juga memiliki tabungan dari—minimal salah satu—dari 3 amal tersebut: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya.

Muhammad Irfan Ilmy | Rumah (Tasikmalaya) 23 Juni 2017/ 28 Ramadhan 1438 H

sumber gambar: insist.id

Advertisements
Ramadhan #28: Berguru Kepada Buya Hamka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s