Ramadhan #27: Di Perjalanan Menuju Rumah

Saya habis shalat ashar di salah satu masjid di daerah Garut ketika memulai menulis jurnal ini. Saya memang sedang dalam safar, mudik menuju Tasikmalaya. Awalnya sempat untuk bolong dulu dan dibayar esok hari, tapi dipikir-pikir lagi sayang banget. Soalnya emang di rumah seperti saya ceritakan sebelumnya, enggak ada jaringan internet  untuk memosting tulisan.

Sembari istirahat sebelum kembali melanjutkan perjalan, ya sudah deh mending nulis jurnal dulu meskipun seadanya karena buru-buru biar enggak terlalu malam sampai rumah. Hanya tinggal beberapa judul lagi untuk menuntaskan misi nulis selama 30 hari sepanjang Ramadhan tahun ini. Meskipun karena saya mah independen dengan jurnal Ilmyah, setelah itu saya akan kembali menulis—mudah-mudahan—tiap hari.

. . .

Saya mudik menggunakan sepeda motor. Sendirian. Seperti mudik pada tahun lalu, masih sendiri. Tapi, sendiri dan tidak tak terlalu masalah juga sih. Cuma enggak ada teman ngobrol saja. Awalnya saya memutuskan untuk pulang menggunakan bus dan motor dititip di teman yang rumahnya di Bandung. Capek juga soalnya berlama-lama naik motor, cangkeul.  Tapi dengan pertimbangan pasti bakal macet, dan saya sangat benci kemacetan, jadinya pakai motor aja. Bisa sulap-selip di antara mobil-mobil yang terjebak. Selain itu, saya pun bisa bebas berhenti untuk sekadar buang air kecil atau mendokumentasikan setiap momen yang saya temui di jalan.

Lalu lintas mudik di H-3 ini sudah kian padat. Masih dari Bandung hingga tempat saya sekarang menulis jurnal ini—Garut—motor dan mobil tak henti-hentinya saling susul menyusul. Terutama memang yang menuju ke arah Tasikmalaya, Ciamis, Jawa Tengah dan seterusnya. Untuk arah sebaliknya cenderung santai sih.

Seperti tulisan terbarunya teh @novieocktavia  berjudul Perjalanan yang salah satu petikannya bahwa “semua orang melakukan perjalanan, menelusuri setiap lengkung perjalanan demi sampai di masing-masing tujuan” memang betul adanya. Orang-orang yang sebelumnya mencari nafkah dan berkegiatan di daerah perkotaan, menjelang lebaran dan liburan sekarang ini mereka akan kembali ke tempat tinggalnya atau sekadar berkunjung ke kerabat-kerabat.

Entahlah, sebagian dari mereka mungkin akan ada juga yang menetap di kampung tidak kembali lagi ke kota karena merasa bosan dan karena beragam alasan bersifat personal lainnya. Yang jelas, perjalanan mudik biasanya memang makin ramai ketika mendekati hari H lebaran tiba. Ini dikarenakan aturan-aturan di tempat kerja, terkait jadwal sekolah anak dan pertimbangan lain.

Lalu tumpah ruah lah manusia di jalan-jalan untuk menunaikan ibadah bertemu dengan keluarga yang telah ditinggal lama, untuk saling meminta maaf dan kembali bersua melepas rindu yang tertahan dalam waktu tak sebentar. Mereka seakan-akan janjian untuk membanjiri jalan menjelang saat-saat takbir tahunan itu dibacakan sepanjang malam.

Di sepanjang jalan barusan saya menemukan banyak hal. Saya melihat bapak polisi berseragam hijau muda yang sedang menunaikan tugasnya mengatur lalu lintas agar kemacetan bisa sedikit diantisipasi. Ada pula bapak sopir bus yang sedang menjalankan amanahnya mengantarkan para penumpang ke tujuannya masing-masing. Jangan ditanya kalau para pedagang dadakan yang membuka lapaknya di sepanjang jalan. Saya tak tahu jumlah tepatnya berapa. Banyak pisan.

Para wartawan yang tiap tahun mengabarkan informasi mudik terlihat sibuk dengan mikrofon ditemani kameraman berjibaku dengan laporan terkini dari tempatnya bertugas. Para sukarelawan yang membantu pak polisi (anak-anak pramuka, santri SSG DT, dll), orang-orang dermawan yang bersiap-siap membagikan makanan pembuka puasa bagi mereka yang sedang berpuasa meskipun sedang dalam perjalanan dan banyak yang lainnya.

Orang-orang itu sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Saya mengamatinya semua itu sambil mengendarai motor sembari juga merenungkannya. Mudah-mudahan mereka yang sedang berlelah-lelah dengan kontribusi di bidangnya masing-masing itu memperoleh pahala atasnya, dan tak sekadar mendapatkan letih juga bayaran berupa materi saja. Lebih dari itu semoga tugas yang ditunaikan menjadi jalan terkumpulnya pundi-pundi pahala yang kelak berguna pada masa hari akhirat tiba.

Saya hanya menyayangkan saja kepada mereka yang tak berpuasa di bulan suci ini. Terlepas mereka tak tahu hukum bagi yang sengaja membatalkan puasa atau karena alasan lain. Saya melihat tak sedikit yang sedang merokok di warung-warung pinggir jalan atau minum dan makan-makan (tidak) ganteng.

Bagi yang memenuhi syarat untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit, tidak memungkinkan berpuasa karena perjalanan yang ditempuh sangat jauh dan lain-lain tak ada alasan bagi saya untuk mengomentarinya. Bagi mereka ada rukhsahuntuk meninggalkan puasa meski nanti tetap harus diganti. Tapi ini bagi mereka yang sama sekali tak ada uzur namun sengaja saja tidak berpuasa. Nauzubillahsemoga kita mah menjaga diri dari melalaikan perintah Allah yang salah satunya puasa di bulan Ramadhan ini. Aamiin.

Tepat jam 4.37 sore jurnal ini selesai ditulis (meski belum diedit sih). Makasih sudah baca. Saya mau melanjutkan perjalanan. Sampai jumpa di jurnal esok hari (insya Allah). Minta do’anya semoga selamat sampai tujuan. Tujuannya rumah saya bukan hati kamu yah. He.

Muhammad Irfan Ilmy | Garut, 22 Juni 2017/ 27 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #27: Di Perjalanan Menuju Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s