Ramadhan #26: Bahagia Itu (Tidak Selamanya) Sederhana

“Bahagia itu dekat dengan kita. Ada di dalam diri kita.”

– Buya Hamka

Kutipan ini ada di cover buku Tasawuf Modern nya Buya Hamka. Cukup mengganggu pikiran saya. Betulkah seperti itu? Apakah kebahagiaan tak terletak pada kebutuhan dan keinginan yang dengan mudahnya bisa terpenuhi? Apakah bahagia itu berupa hal yang kita anggap baik mampu kita raih? Apakah bahagia itu ketika kita terhindar dari sakit, dari gagal keterima di jurusan dan tempat kuliah yang kita inginkan sejak lama, dari ditolak dari seseorang yang kita suka? Bahagia memang tak bisa disamaratakan antar satu individu. Kita punya definisi dan standar yang beda tentang bahagia ini.

Saya misalnya, barusan memperoleh salah satu kebahagiaan. Tadi siang saya menulis untuk yang pertama kali di Medium. Buat akunnya mah sudah sedari lama. Lalu barusan banget (sekitar jam 5.30)-an saya iseng-iseng buka medium lagi. Tiba-tiba di sudut kanan ada balon warna hijau yang merupakan notofikasi. Ada 2. Saya membukanya karena—jujur—cukup penasaran. Ternyata penyair favorit saya mem-follow back saya setelah sebelumnya memang saya me-mention nama bung Aan Mansyur (@hurufkecil) sebagai latar belakang atau motivasi saya nulis di medium.com. Bagi saya, ini membahagiakan. Sangat malah. Karena aksi kita dibalas reaksi dari seseorang yang kita kagumi.

Jujur, saya mengagumi bung Aan karena dia yang menulis puisi dengan keren juga karena pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada memberi manfaat bagi banyak orang. Tentang pemikirannya mengenai konsep perpustakaan di mana bukan berfokus pada buku melainkan buku dijadikan semacam media agar interaksi sosial (antar manusia di dalamnya) terjalin dengan baik. Tentang bung Aan memandang aktivitas menulis. Tentang proses berkarya yang berorientasi pada totalitas dan masih banyak hal lainnya. Saya menyukai orang-orang seperti itu dan sedang berusaha sebanyak mungkin untuk menemukannya lalu menulis ulang tentang refleksi saya atas sikap mereka itu. Saya bahagia saja melakukannya.

Saya kira, apa yang saya alami barusan dan saya anggap sebagai bahagia tak akan ditanggapi sama oleh teman-teman saya. Siapa sih Aan Mansyur? Paling mereka bersikap biasa saja dan mengetahui saya bahagia, mereka paling terheran-heran. Ieu si Irfan kunaon? Ya, karena informasi awal tentang sesuatu atau seseorang di memori tiap orang itu berbeda-beda. Jelas, responnya pun tak akan serupa.

Seorang isteri bahagia ketika masakannya dipuji sang suami. Sebaliknya seorang suami bahagia ketika ia bisa diandalkan oleh isterinya. Seorang murid bahagia manakala ia mendapatkan perhatian dan pujian dari gurunya. Sebaliknya, seorang guru bahagia dan bangga tatkala  muridnya jadi orang yang berhasil. Seorang penarik beca bahagia ketika penumpangnya memberikan uang kembaliannya kepadanya karena dengan begitu berarti ia bisa menabung untuk membelikan mainan untuk anaknya. Sebaliknya, penumpangnya juga bahagia karena bisa tiba di satu tempat dengan bawaan yang banyak tanpa harus berlelah-lelah membawa barang-barangnya juga bisa menjadi jalan si emang tukang becak bahagia.Begitulah, definisi bahagia pada tiap-tiap manusia ternyata tak bisa dan tak akan pernah seragam.

Yang saya contohkan adalah bahagia yang jalan mendapatkannya sangat sederhana. Persis seperti perkataan popular di media sosial yang menyebut bahwa “bahagia itu sederhana.” Seperti bisa makan sesuatu yang sudah lama tak di makan misalnya. Atau bisa berkumpul bersama teman-teman baik yang lama atau yang baru. Atau bisa juga mendapatkan hadiah dari teman-teman ketika ulang tahun dan lain-lain.

Mengacu pada hal-hal semacam itu saya pun sepakat bahwa bahagia sangat sederhana, tidak ribet untuk mendapatkannya. Tapi bila dipikir ulang, ternyata tak semua bahagia itu sederhana. Banyak bahagia yang mesti diusahakan dengan ekstra dan tak jarang membuat kita menangis.

. . .

Untuk bisa diterima di kampus dan jurusan yang kita inginkan, seseorang harus mati-matian berjuang dengan belajar tanpa henti, dan mengorbankan kesenangannya main bersama teman-temannya. Setelah itu, harus ada tes yang dilalui. Lalu pada tes itu juga tak ada jaminan nama yang bersangkutan bisa lolos dan akhirnya di terima menjadi mahasiswa kampus dan jurusan tertentu sesuai yang dituju. Pasti sedih, kecewa, bahkan juga boleh jadi menangis karena ternyata usaha selama ini terbentur pada kenyataan yang dirasa tak berpihak padanya.

Hal yang sama dengan prinsip berjuang yang tak kalah hebat juga berlaku bagi mereka yang tengah merampungkan skripsi untuk bisa keluar dari kampus dengan khusnul khatimah. Semua itu dalam rangka apa? Tentu untuk mengejar bahagia. Ini contoh dari bahagia-bahagia yang tak membutuhkan upaya sederhana untuk memperolehnya. Sebaliknya harus mengerahkan ikhtiar yang mewah alias perjuangan sungguh-sungguh agar bahagia jenis ini bisa diraih.

Saya jadi mikir tentang perkataan bahwa “bahagia itu sederhana” memang lahir dari pengamatan dan pengalaman bahwa seringkali orang-orang hanya terfokus pada menggapai bahagia yang saya sebutkan sebelumnya tidak sederhana. Padahal sebagaimana disebutkan Buya Hamka tadi “bahagia itu dekat dengan kita” artinya tak di mana-mana melainkan manunggal dalam diri kita yang dalam kata lain hal-hal sederhana itu juga menenangkan dan tak kalah menentramkan ketimbang bahagia jenis tidak sederhana yang selalu dikejar-kejar itu.

Ya, ini semacam nasihat pengingat saja kalau bahagia itu tidak satu jenis, bukan yang sukar dikejar saja, ada bahagia dengan karakteristik yang cara mendapatkannya relatif mudah. Kalau kata teman saya, sesibuk, selelah, sebanyak tugas apa pun, kita jangan sampai lupa bahagia. Yang ketika saya pikir ulang ternyata perkataan ini bisa ditafsirkan bahwa ketika mengusahakan bahagia yang porsinya besar dan juga membutuhkan kerja yang juga total kita harus menyertakan bahagia-bahagia yang kecil. Agar ketika yang dianggap besar tak didapatkan, kita tak kehilangan bahagia secara keseluruhan, kita tetap mendapatkan kebahagiaan meski dalam bentuk yang lain.

. . .

Sampai sini pasti teman-teman bingung yah? Saya sebagai yang menuliskannya juga. Tapi tak apa, pelan-pelan saja. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa jenis kebahagiaan tidak hanya yang sederhana saja. Ada juga bahagia yang rumit. Agar kita tak menafikan sesuatu yang jelas-jelas ada karena kita egois berfokus pada hal-hal yang mudah didapat saja. Kalau kata Pram, “kita harus adil sejak dalam pikiran.”

Nah, tentang asbabul kalam kenapa Buya Hamka menyebutkan perkataan yang saya kutip di atas, saya tak tahu pasti. Tugas kita untuk mencari tahu alasannya. Mungkin bisa dibaca dulu buku Tasawuf Modern nya. Saya juga belum baca sih. Itu buku temannya teman sekamar saya yang juga adik tingkat saya di kampus. Dan temannya teman saya itu tak lain teman sekelasnya teman sekamar saya yang merupakan adik tingkat saya juga dan kemarin baru lulus sidang skripsi, sementara saya selaku kakak tingkatnya belum kunjung lulus. Ah, bagian terakhir ini tak terlalu penting. Anggap saja tak pernah ditulis. He.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 21 Juni 2017/ 26 Ramadhan 1438 H

sumber gambar: dokumentasi Planet Antariksa (Saepul Rijal)

Advertisements
Ramadhan #26: Bahagia Itu (Tidak Selamanya) Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s