Ramadhan #25: Ayo Mondok! (2)

Pesantren itu bukan hotel. Yg segalanya ada, tersedia. Malah bs jd dg izin Allah, cenderung apa adanya. Bahkan tidak jarang, minus. Banyak ga adanya.

Namun, penempaan diri, bermula dari yang begini-begini. Anak jadi ga manja. Jadi tegar. Survive. Ga neko2. Bisa nerima apa adanya. Lbh cepat dewasa. Kuat. Tangguh.

– Ustaz Yusuf Mansyur

Saya tertarik dengan pernyataan Ustaz Yusuf Mansyur di postingan intagramnya pagi tadi. Kata-katanya saya ambil apa adanya sesuai dengan aslinya. Secara umum pondok memang seperti yang digambarkan UYM. Rata-rata memang prinsip kesederhaan selalu dijunjung tinggi, meskipun ada juga pondok modern yang konon ada laundry di dalamnya.

Tak masalah, itu kan sudah lewat pertimbangan matang-matang oleh pengelolanya. Walau menurut saya penting juga prinsip khas pondok ini tetap dilestarikan. Santri harus pula dibiasakan mencuci, menyetrika, dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pribadinya secara mandiri. Ini sangat bermanfaat untuk masa depan mereka sendiri.

Ingatan saya kembali pada satu saat ketika salah satu Ustaz mengingatkan kami tentang makna mondok. Menjadi santri itu banyak kurang di sana-sini, banyak kendalanya. Waktu itu saya tak terlalu ingat momennya sedang bagaimana sehingga pengingat itu dilontarkan. Entah disebabkan ada kelakukan santri yang tidak-tidak, atau karena apa.

“Pondok itu semisal pandai besi. Dan kita sebagai santri tak ubahnya baja dengan kualitas berbeda-beda yang diserahkan oleh pemiliknya (orang tua) untuk ditempa sedemikian rupa agar kelak bisa jadi golok yang tajam dan indah tak terkira.” Begitu kurang lebih perkataan ustaz saya saat itu. Redaksinya tentu tak sepuitis itu. Saya coba ramu saja dengan tanpa menghilangkan esensinya. Maklum sekitaran 6-7 lalu nasihat itu diberikan. Tapi saya masih sangat mengingat poinnya. Belakangan saya sepakat dengan ucapan beliau.

Tentang apa-apa yang saya dapat perihal nilai-nilai kehidupan memang jika dibandingkan antara di SMA dan pondok nampaknya pesan-pesan Ustaz/ah di pondok lebih membekas sampai sekarang. Banyak perkataan yang quoteable dan sangat bermanfaat serta aplikatif berupa prinsip-prinsip menjalani hidup di masa depan.

Saya juga tak tahu persis mengapa bisa seperti itu pengaruhnya. Mungkin suasana emosi dan psikologisnya sangat mendukung untuk menerima nasihat-nasihat itu karena kita selaku santri-santrinya lebih banyak tinggal di pondok ketimbang di sekolah.

Oh iya, jangan dipikir kalau santri di pondok itu semunya orang-orang saleh, semuanya berakhlak mulia, dan tak pernah nakal seperti orang-orang di luar pesantren. Sama saja, mereka juga manusia biasa, remaja pada umumnya, anak-anak yang sedang dalam masa perkembangan yang tak lepas dari keinginan-keinginan dan kecenderungan tertentu. Namun, lingkungan pondok yang sebisa mungkin dikondisikan mendekati ideal dengan aturan-aturan ketat diupayakan untuk meminimalisir melakukan perilaku buruk. Ikhtiar itu dalam rangka membangun kebiasaan dalam beramal dan berakhlak terpuji.

Sama kok, santri itu suka buat yang neko-neko, heureuy, iseng ke temannya, dan perbuatan lain yang nampaknya mustahil untuk mereka lakukan. Akan tetapi, pihak pesantren membuat aturan yang jika itu dilanggar, hukuman ditegakkan dengan tegas  untuk membuat mereka jera dan tak kembali melakukan.

Saya tahu dari teman yang juga mondok bahkan di pesantrennya ada hukuman berupa dimasukkan ke dalam penjara, dibotak, hingga direndam di kolam. Untuk di pondok saya, hukumannya paling dicepret pakai sabuk kalau telat shalat berjama’ah, tidak berjama’ah, tidak mengaji, tidak piket dan pelanggaran lain.

Itu sedikit budaya yang saya kira lazim di pesantren-pesantren terutama pesantren bernuansa tradisional. Untuk yang lebih mengarah ke pesantren yang modern saya kurang tahu kulturnya seperti apa. Tapi pesantren itu secara umum harus memenuhi beberapa rukunnya: Kyai, masjid, kitab (kuning), santri. Itu yang sempat saya baca dari buku pendidikan islam yang di dalamnya ada bahasan tentang pesantren.

. . .

Selama sehari semalam, pondok mendesain programnya dengan ngaji, ngaji, dan ngaji. Ilmu agama menjadi prioritas utama selain tentu penerapannya dalam keseharian juga pembinaan akhlak mulia. Harta berharga bagi santri karena aktivitasnya yang superpadat itu adalah istirahat, tidur.

Uniknya santri, mereka bisa tidur dengan berbagai posisi. Hal ini banyak dijadikan meme di akun IG tentang santri dan pesantren. Memang betul seperti itu. Saya sendiri terkadang mencuri-curi waktu untuk bisa tidur walau itu sekejap saja. Salah satu nikmat yang begitu luar biasa tidur itu buat mereka.

Ini mungkin salah satu hal yang mesti dipersiapkan bagi mereka yang memutuskan untuk mondok. Di awal-awal pasti sangat berat dengan kegiatannya yang seolah tanpa henti ini. Namun seiring waktu dan melalui proses adaptasi, lama-kelamaan akan terbiasa juga. Untuk mendapatkan banyak ilmu dan ilmu tersebut jadi barokah dan bermanfaat memang prosesnya tidak mudah. Pengorbanan dalam banyak hal menjadi harga mahal atas ilmu-ilmu teoretik keagaaman maupun ilmu kehidupan itu.

Makanya saya sepakat dengan apa yang diterangkan secara sekilas mengenai gambaran pondok oleh UYM. Itu realitas tentang pesantren yang setelahnya kita keluar dari sana, hal-hal tersebut adalah yang akan kita kenang kembali suatu saat. Ya, kenangan manis dan pahit yang dipikir-pikir kembali ogah juga kalau harus mengulang untuk kedua kalinya. He.

Enggak tahu sih, saya selalu ingin mengabarkan ke orang-orang yang berpandangan sinis terhadap pesantren bahwa anggapan mereka tentangnya tak sepenuhnya benar. Coba deh buka pandangan bahwa memasukkan anak untuk menimba ilmu dan pengalaman di pondok adalah tindakan tepat. Bukan berarti orang tua memasukkan anaknya ke pondok karena mereka tidak sayang, justru itu bentuk cinta mereka terhadap anak-anaknya yang diharapkan menjadi orang-orang shaleh dan berkarakter tangguh.

Saya mengajak saja untuk siapa pun yang kelak akan menjadi atau bahkan sudah menjadi orang tua untuk menjadikan pondok sebagai opsi tempat menempa karakter anak dengan ilmu agama dan tantangan-tantangan hidup lainnya. Jangan phobia! Banyak sekali pilihan-pilihan pesantren yang kini sudah bagus dan membenahi kekurangannya. Silakan pilih saja pondok yang dirasa sreg dengan suasana yang diprediksi bisa membuat anak-anak (kita) keluar menjadi sosok yang berbeda, lebih baik dari sebelumnya di segala segi. Pondok pesantren tahfiz semacam Darul Qur’an dan sejenisnya bisa juga noh dicoba.

. . .

Tentang pesantren dan segala hal yang berkaitan dengannya sepertinya akan jadi salah satu konten tetap di jurnal Ilmyah. Masih banyak lagi cerita  dan informasi penting soalnya tentang pesantren ini. Sayang kalau hanya disimpan di kepala tanpa dibagi-bagi. Nuhun bagi yang sudah menyempatkan baca. Ditunggu feedback-nya ya!

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 20 Juni 2017/ 25 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #25: Ayo Mondok! (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s