Ramadhan #24: Menulis Ternyata Tidak Mudah

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.”

Seno Gumira Ajidarma

Orang yang memutuskan terus menulis itu harus cerdas. Setidaknya itu hasil bacaan saya atas kemungkinan-kemungkinan di depan nanti saat seseorang secara kontinu memproduksi karya tulis. Hal ini pula yang membuat saya cemas. Saya menyukai aktivitas menulis, tapi saya merasa taraf kecerdasan saya biasa saja.

Potensi kecerdasan mungkin sudah dari sononya begitu. Sulit ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Namun seseorang bisa berubah dengan cara menyaingi orang cerdas ketika ia mau bekerja dua kali lipat darinya.

Cerdas kan urusan pikiran yang tajam. Mungkin bisa tajam dalam arti mudah paham terhadap banyak hal. Mungkin pula tajam yang maknanya responsif menyikapi perkara-perkara di luar dirinya baik yang ia setujui maupun tidak. Atau mungkin juga tajam dengan definisi memiliki pembendaharaan informasi luas dan dalam yang didapat dengan tekun mengusahakannya lewat aktivitas membaca serta banyak diskusi.

Karena di awal saya malas membaca (dan sekarang masih), menulis saya anggap sebagai satu aktivitas yang berdiri sendiri. Dulu saya menulis karena ingin dan suka menulis. Tak sadar kalau terus memproduksi tanpa pernah mengisi ulang mesin produksinya dengan bahan-bahan berkualitas, adalah pangkal dari banyak bencana. Tak ada lagi yang bisa dibuat karena tak ada bahan bakunya. Atau pun kalau memaksakan bisa ada, tulisannya akan gitu-gitu saja. Kalau dalam makanan, mungkin tetap mengenyangkan tapi sama sekali tak menyehatkan.

Namun seiring proses pendewasaan, penambahan informasi dari sana-sini, saya jadi mengerti bahwa menulis itu akumulasi dari banyak proses penghayatan. Sebagaimana disebutkan mba Dee dan kang Fahd bahwa menulis bukan soal urusan duduk berjam-jam di depan laptop atau mesin tik.

Menulis lebih luas pengertiannya daripada itu. Menulis adalah merasa, menulis adalah melakukan, menulis adalah merefleksikan hal-hal yang ditemui di keseharian, menulis merupakan aktivitas mengolah informasi yang didapat dari berbagai sumber: buku salah satunya, menulis juga adalah merangkai satu pemahaman dengan pemahaman lainnya agar lebih mudah dicerna, dan masih banyak lagi makna menulis selain proses mengetiknya sendiri yang bisa dibaca dalam bentuk jadi.

Menulis sekompleks itu ternyata. Pemindahan rupa dari dalam kepala ke bentuk lain berupa jalinan kata-kata tak lebih singkat ketimbang saat-saat proses menulis itu sendiri—riset untuk menginventarisir aset tadi berupa bahan tulisan.

Setelah menemui tulisan-tulisan yang tidak biasa-biasa saja, saya menemukan satu rumus bahwa penulisnya pastilah seorang pembaca yang getol. Agak sulit menemukan penulis yang tulisannya hidup dalam waktu yang lama, tapi malas membuka buku dan melahap isinya. Saya suka malu sendiri, gairah membaca saya masih sangat payah. Bagaimana bisa cerdas? Kalau tidak cerdas, bagaimana mampu menulis dengan baik?

Kita bisa menulis apa saja semau kita. Asal itu untuk dikonsumsi sendiri. Ketika ingin menulis dan berharap dibaca orang, tulisan kita haruslah bergizi tinggi. Kita jangan jadi orang egois. Jangan biarkan mereka menghabiskan waktu dan uang yang berharga hanya sekadar untuk membaca tulisan kita yang apa adanya, akadarnya.

Saya jadi berpikir tentang tak usahlah kita ngotot agar karya kita dihargai. Tinggikan dulu kualitas karya, biar orang yang mau menghargainya setinggi apa pun yang mereka mau. Hidup jangan hanya berpusat pada diri kita. Jadi manusia enggak boleh tanggung, harus bekerja untuk kemaslahatan banyak orang.

Awas, hati-hati juga dengan pujian yang seringkali di dalamnya adalah ujian namun dalam format lain. Tanpa ada kritik terhadap tulisan kita dari orang-orang, bukan berarti semuanya baik-baik saja. Jangan-jangan mereka tak peduli pada tulisan kita. Intinya jangan cepat berpuas diri. Karena berpuas pada apa yang telah dilakukan adalah paus yang bisa memangsa potensi kita.

Lama kelamaan, pembiaran orang atas tulisan-tulisan yang padahal banyak sekali cacat di sana sini baik dari segi teknis penulisan maupun logika-logika sederhana yang berada di tubuh tulisannya akan menjadi bom waktu. Ia bisa meledak kapan saja dan menimbulkan bencana besar yang dapat membunuh penulisnya sendiri.

Hanya tinggal menunggu waktu, suatu saat ia tak akan tahan dengan sesuatu yang dianggapnya sebagai serangan—meskipun tak melulu untuk menjatuhkan—terhadap isi tulisan-tulisannya itu. Karena tak terbiasa dengan masukan dari orang-orang, seolah-olah itu ancaman atas dirinya. Padahal niat mereka baik, ingin agar kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Sering menulis sangat baik, membaca banyak jangan sampai lupa!

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 19 Juni 2017/ 24 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #24: Menulis Ternyata Tidak Mudah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s