Ramadhan #22: Menyalakan Percik Api Rasa Peduli

tumblr_inline_orp5r5xqfp1t773pi_500

Suatu saat (30 Agustus 2014) saya diajak Jiva (teman satu kosan dan jurusan juga angkatan) untuk mencoba berbagi nasi lewat komunitas dengan nama yang sama dengan aktivitasnya, yaitu berbagi nasi. Mungkin sebelumnya dia sudah mencari informasi terlebih dulu dari twitter gerakan ini.

Setelah mendengar sekilas penuturan tentang apa yang dilakukan berbagi nasi, bagaimana untuk ikut kegiatannya, dan siapa sasarannya, saya cukup tertarik juga untuk ikut. Waktu itu gairah saya untuk terlibat di aktivitas beramal masih sangat biasa kalau tak dibilang apatis atas perkara-perkara semacam itu. Tapi keinginan untuk menceburkan diri di dalamnya mulai sedikit tumbuh.

Dulu acaranya masih seminggu dua kali, yaitu tiap malam Jum’at dan malam minggu. Setahu saya, sekarang mah jadi malam minggu saja (kalau enggak salah). Waktu itu ketika kami masih kuliah tingkat 3 dan kosan masih di Cilimus, Al-Huda, kami pertama kali mencoba melatih urat peduli kami agar tidak kaku.

Saya mengeluarkan modal 20 ribu pun Jiva, untuk kemudian dibelikan 4 bungkus nasi dari Warteg Mughni yang terkenal dengan harganya yang murah. Berarti total ada 8 nasi bungkus yang siap kami berikan kepada calon penerima rezeki malam itu. Padahal tanpa membawa nasi pun di lokasi titik kumpul sudah tersedia ratusan nasi lengkap dengan lauknya yang siap disebar. Konon aktivitas berbagi ini tak pernah sepi dari donatur yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk dibelikan nasi-nasi yang selanjutnya akan dibagi-bagi secara cuma.

Meeting point sebelum pergi melancarkan misi berbagi nasi, para relawan berlokasi di depan bank Danamon dekat kantor Balai Kota. Atau kalau dari BIP tinggal jalan terus beberapa puluh meter ke arah selatan. Biasanya orang-orangnya yang lalu dijuluki pejuang nasi kumpul sekitar jam 9-an kurang lebih. Jam 10 malam setelah sebelumnya diadakan briefing yang berisi penjelasan bagi pejuang nasi yang baru tentang gambaran teknis pembagian nasi. Untuk kelancaran dan keberkahan, tak lupa do’a pun dipanjatkan dengan dipimpin satu orang.

image

Sambil menanti jalannya misi berbagi, para pejuang biasanya berkenalan satu sama lain. Dari perkenalan itu  pula saya bisa tahu kalau mereka yang ikut berbagi nasi ternyata beragam latar belakang profesi dan kesibukan. Ada mahasiswa (dari berbagai kampus), pekerja yang sedang pulang (dulu pas saya ikut, ada yang kerja di Bogor, Bekasi dan sekitarnya), dan mungkin juga ada dari kalangan pelajar. Mereka merasa terpanggil untuk terlibat dalam gerakan positif ini dan tentu dengan dorongan yang berbeda-beda antara satu sama lain.

. . .

Jalur sutra untuk membagi-bagikan nasi start dari halaman depan Bank Danamon, lalu ke jalan Cibadak, sekitaran Asia-Afrika, selanjutnya kawasan Pasar Baru dan berakhir di tempat semula. Nasi sepaket dengan lauk pauk serta air minumnya diangkut dengan mobil. Sementara kami yang menggunakan motor berkonvoi ria membelah jalan-jalan kota kembang.

Saat saya pertama kali ikut, lokasi pertama untuk membagikan nasi adalah di bawah jembatan dekat alun-alun. Itu lho yang ada tulisan ayah Pidi Baiq tentang Bandung. Waktu itu di sana banyak sekali orang yang berdiam diri. Entahlah, mungkin juga tidur di sana karena tidak punya tempat tinggal.

image

Mengetahui ada teman-teman dari berbagi nasi, mereka langsung berkerubut seolah semut yang sesegera mungkin berkumpul tatkala ada yang serba manis. Pertama kali saya menawari ibu-bapak yang tak punya rumah itu masing-masing satu bungkus nasi, perasaan saya campur aduk. Mereka terlihat begitu gembira. Seperti anak kecil yang dibelikan mainan oleh ayahnya. Girang tak terkira.

Ternyata wajah Bandung yang di siang hari begitu cantik dengan pesona wisata belanja dan kuliner yang hampir tak pernah mati, menyimpan wajah lain yang sangat miris sekali. Banyak orang yang tidur di emperan toko, istirahat melepas penat di becaknya sendiri sampai datang pagi hari, hingga harus rela berbagi tempat di dalam sebuah gerobak di saat orang berada lain sibuk dengan mimpinya sendiri-sendiri di rumah atau apartemen mewah.

Mereka yang tak punya rumah dan selalu bingung dengan pertanyaan “apakah besok bisa makan?” itu ketika sedang lapar-laparnya barangkali lebih memilih tidur sambil mengganjal perutnya dengan sesuatu yang bisa dijadikan pengganjal. Batu misalnya. Sembari berdo’a pada Tuhan agar diberikan mimpi indah bisa makan makanan enak selama tidur  dan berharap esok pagi perut tiba-tiba bisa jadi kenyang. Ah, hal-hal seperti itu nampaknya bukan cuma karangan fiktif. Akan ada saja di dunia nyata.

image

Selain para pemulung yang sehari-hari tidur tanpa kasur empuk dan mereka yang sedang dalam perjalanan namun kehabisan uang untuk menyewa penginapan, sasaran dari berbagi nasi ini adalah mereka yang mencari nafkah saat malam menjelang. Seperti petugas keamanan, penarik becak, petugas parkir dan pekerja malam lainnya.

Bukan pekerja malam yang memiliki makna negatif yah. Tapi saya kira tak ada salahnya juga mereka diberi sebungkus nasi dengan rencang yang sederhana. Mudah-mudahan lewat wasilah nasi itu, hati mereka jadi terketuk. Bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang memiliki beban lebih berat, namun tak sampai “menjual harga diri” mereka ke para lelaki hidung polkadot, eh hidung belang melainkan bertahan sebisa mungkin dengan yang ada. Mengais rezeki halal meskipun yang diperoleh tidak besar.

Dari informasi yang saya peroleh dari hasil bacaan terhadap tulisan tentang pengalaman mengikuti kegiatan ini, Berbagi Nasi enggan disebut komunitas, lebih nyaman digelari gerakan sosial. Mungkin di pikiran mereka, apalah arti sebuah nama jika dampaknya tak ada, hanya buat gaya-gayaan saja. Mereka lebih mementingkan isi ketimbang baju yang membalutnya. Salut buat mereka. Berbagi Nasi kini sudah menyebar di banyak kota di negeri ini. Dan ajaibnya, kabarnya tak ada garis komando khusus. Bagi yang tertarik membuat berbagi nasi di kota nya, tinggal aksi saja tanpa harus ada mekanisme yang bertele-tele.

. . .

Saya sempat bertanya-tanya mengenai pemilihan waktu bergerilya membagikan nasi harus pada malam hari. Menuju larut lagi. Saya sendiri punya kendala dengan jika lewat jam 10 malam, gerbang parkir kosan ditutup, enggak enak kalau harus mengetuk pintu rumah ibu kos. Waktu itu juga motor diparkir di luar. Khawatir jadinya. Nah, kendala mencoba lagi saat ini pun sama, meskipun saya sudah tidak ngekos di tempat yang lama. Soalnya jam 10 sudah digembok juga gerbangnya.

Setelah mencari-cari informasi mengenai berbagai nasi di internet ternyata saya enggak sengaja menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Padahal saya tak sengaja ingin mencari jawaban atas pertanyaan tadi. Informasi tentang alasan dilakukan pada malam hari saya peroleh dari tulisannya kang Dhiora Bintang (juara esai tempo 2011). Tulisan tentang berbagi nasi lainnya bisa dibaca di sini dan di siniTernyata aktivitas berbagi ini dilakukan pada malam hari ada udang di balik batunya alias ada maksud tertentu, yakni agar nasi tepat sasaran diberikan pada orang yang benar-benar membutuhkan.

“Mereka mengambil waktu malam agar leluasa menyortir orang-orang yang benar tidak mampu. Berbagi Nasi tidak ingin kecele oleh mafia pengemis. Di pekat malam mereka melihat sungguhan apa itu kemiskinan. Ibu hamil yang tidur beralaskan jalan trotoar. Kakek renta yang sakit-sakitan. Energi Berbagi Nasi tidak terbuang percuma ketika tampak wajah semringah orang-orang yang tidak mampu.” Tulis kang Dhiora dalam opininya yang dimuat di Media Indonesia ini.

Gerakan ini sangat bagus menurut saya. Apalagi semangat gerakannya diperluas ke berbagi yang lain, pastilah kebaikan-kebaikan akan tersebar dengan cepat. Sebutlah misalnya berbagi mushaf ke masjid-masjid yang koleksi Al-Qur’annya sudah tak lagi bagus. Hal yang sama berlaku pula untuk mukena dan sarung. Atau bisa juga berbagi alas kaki secara rutin ke sekolah-sekolah yang sebagian siswanya memiliki sepatu yang sudah tak lagi baik. Hal yang sama berlaku juga untuk tas sekolah. Atau bisa berbagi buku layak baca ke taman-taman baca yang diprogram secara berkala. Indah sekali sepertinya. Asal jangan sampai berbagi isteri atau suami saja yah! Ini mah biang perpecahan. He.

Saya rasa setiap kita harus mencoba mengalami berbagi nasi ini di kotanya masing-masing. Karena pengaruh setelah mengikutinya sangatlah luar biasa. Setidaknya itu yang saya rasakan. Kita jadi bakal merenung kembali tentang keluhan-keluhan atas keadaan yang rasa-rasanya tak berpihak, padahal di luar sana ada yang lebih kurang beruntung dari kita.

Menyaksikan mereka secara langsung saya pikir akan menimbulkan kesyukuran mendalam bahwa kita masih bernasib baik ketimbang mereka. Dengan begitu, tak akan ada peluang bagi diri kita untuk  mengutuk ketentuan Allah atas diri kita. Semua yang dipilihkan oleh-Nya selalu baik.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 17 Juni 2017/ 22 Ramadhan 1438 

Advertisements
Ramadhan #22: Menyalakan Percik Api Rasa Peduli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s