Ramadhan #21: Cara Brainstorming Ide Tulisan

tumblr_inline_orngd51la91t773pi_500

Bagaimana mungkin ada yang bisa di-brainstorming kalau isi kepalanya nihil? Isi dulu sebanyak-banyaknya baru deh bisa dengan mudah mengeluarkan bahan-bahan untuk dijadikan tulisan.

Saya jadi teringat pengalaman ketika mengikuti pematerian tentang teknik presentasi ketika pengkaderan sebuah UKM Penelitian di kampus.Waktu itu pemateri menginstruksikan kami untuk menyediakan selembar kertas HVS dan pulpen. Dengan waktu sekitar 5 menit, kami diminta untuk menuliskan kata-kata yang berkaitan dengan tema yang diberikan.

Misalnya menulis. Dalam durasi waktu yang singkat itu sebanyak mungkin harus ditulis kata-kata yang dianggap berkaitan dengan tema utama. Terus saja menulis jangan berpikir macam-macam dulu. Nanti ada saatnya untuk membantai apa yang telah ditulis.

Setelah waktu habis, kami diminta untuk membuang kata-kata yang kenyataannya tak hubungan sama sekali atau tidak relevan dengan tema yang ada. Kata-kata yang sudah terseleksi itu menjadi acuan kami dalam membuat slide presentasi sebagai poin-poin untuk membantu presenter menyampaikan gagasannya.

Teknik ini barangkali bisa diterapkan juga untuk memudahkan kita memulai menulis dan mendapatkan ide-ide sebuah tulisan. Ini hanya salah satu cara yang sangat bisa untuk dicoba. Silakan dipraktikkan!

Kalau saya pribadi sih tak punya cara khusus untuk menentukan ide tulisan. Biasa saja. Bahkan teman-teman pun mungkin sering melakukannya. Saya contohkan dalam proses menulis untuk jurnal saja biar lebih mudah. Ada kalanya saya membuat terlebih dulu mind map tentang apa yang hendak ditulis.

Karena memang tak ada rambu-rambu khusus tentang konten jurnal harus tentang apa atau harus seperti apa, saya bisa menulis apa pun yang terlintas hari itu di benak. Terkadang juga suka bingung, ini mau nulis apa, enggak ada inspirasi dan lain-lain. Tapi sebisa mungkin tetap menulis. Karena setelah apa-apa yang lewat di pikiran dipindah ke halaman kosong microsoft word, nyatanya tulisan itu akhirnya rampung juga dan menemukan bentuk terbaiknya.

Selain langsung menulis tanpa ada rancangan khusus harus bagaimana isinya, harus apa yang dibahas, saya juga beberapa kali memberikan panduan bagi saya sendiri lewat membuat poin-poin utamanya di selembar kertas HVS, atau kadang di buku bergaris juga. Tulis saja dulu tema utama atau kata kunci dari tulisan kita. Dari tema itu lalu ditarik garis dan dibuat turunan atau penjabaran atasnya. Bisa pula menggunakan acuan 5W+1H untuk memberi kemudahan.

Setelah mind map kasar maupun sudah halus selesai dibuat, saatnya menulis deh. Mind map hanya akan jadi poin-poin utama dan tak bisa dinikmati banyak orang ketika tak ditransformasikan jadi tulisan utuh. So, tuliskanlah apa pun yang saat menulis terbersit di ingatan.

Setelah ada puluhan kata yang berserak di kertas kosong (kalau ditulis tangan) atau di halaman putih aplikasi untuk mengetik (Ms. Word dan yang lainnya) biasanya alam bawah sadar kita spontan merespon kata-kata yang telah menjelma beberapa kalimat. Tugas kita hanya harus terus bertarung dengan ketakutan yang datang, dengan rasa malas yang menyerang, dengan ketakpercayadirian yang menghadang. Nanti ujung-ujungnya bakal selesai juga.

Selain mind map, saya biasanya punya waktu-waktu tak terduga saat ide datang tanpa pernah diundang. Biasanya momennya sesaat setelah membaca beberapa tulisan atau mengamati satu kejadian atau juga ketika terpikir kenangan di masa silam.

Ketika itu dan memang memungkinkan, saya langsung saja mengambil kertas baik kosong maupun ada isinya tapi menyisakan space untuk menulis dialog singkat atau inti ide yang terlintas di kepala saya. Karena memang biasanya ide yang sama tak pernah berkunjung dua kali. Atau kalau sedang tidak dekat-dekat dengan pulpen dan kertas saya biasanya memanfaatkan smartphone untuk menuliskannya.

Tak melulu harus di aplikasi note dan semacamnya. Saya suka memanfaatkan tumblr, line dan insta story. Kalau status di facebook mah sudah jarang. Entah kenapa kurang nyaman saja berlama-lama di media sosial satu ini selain paling untuk membagikan tulisan dari blog atau sekadar untuk chating.

Beberapa teknik ini sama sekali tak mengandung kebaruan. Sering dipakai banyak penulis atau orang-orang yang menyukai aktivitas ini. Hanya saja barangkali bagi teman-teman yang masih suka kesulitan untuk memulai menulis dan belum tahu informasi ini, semoga cara-cara yang biasa saya lakukan bisa sedikit membantu.

Hal-hal teknis terkait menulis tak lebih penting dari motivasi utama mengapa memutuskan untuk menulis itu sendiri. Perkara ini bisa dengan mudah dibaca dari buku-buku tentang how to writing yang banyak sekali jumlahnya dan kita tinggal memilih. Namun, terkait motivasi utama menulis, kita harus menemukannya sendiri.

Setiap penulis pasti memiliki alasannya sendiri-sendiri dan berpeluang besar berbeda. Tere Liye pernah bilang bahwa carilah sebanyak mungkin alasan tentang mengapa harus menulis. Ketika satu alasan tidak cukup kuat untuk membuat kita bertahan terus menulis, maka masih ada banyak alasan lain yang membikin kita terus setia pada pekerjaan menulis ini.

Saat semangat untuk menulis sudah mengakar dengan kokoh, kendala apa pun menjadi sama sekali tak akan jadi penghalang.

Ayo secepatnya menemukan alasan kamu (harus) menulis! Ini akan jadi bahan bakar yang membuat mesin produktivitas kamu untuk terus berkarya tak pernah berhenti bekerja.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 16 Juni 2017/ 21 Ramadhan 1438 H

sumber gambar: Briantracy.com

Advertisements
Ramadhan #21: Cara Brainstorming Ide Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s