Ramadhan #19: Mereka yang Kita Sebut Teman

Baru saja berakhir

Hujan di sore itu

Menyisakan keajaiban

Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan

Dan tetap mengaguminya

Kesempatan seperti ini

Tak akan bisa dibeli

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna

Sayang untuk mengakhirinya

Sahabat Kecil, Ipang

Dari mulai hari Kamis minggu lalu saya membereskan kontrakan lama karena masa sewanya habis. Saya dibantu Reyza (adik tingkat saya) untuk bebenah. Karena kontrakan ini sebelumnya dihuni juga oleh beberapa orang, banyak barang-barang printilan yang sebenarnya tak terpakai menjadi dilema kalau saya buang. Mau dimasukkan ke trashbag takut dipakai, namun dibiarkan juga malah makan tempat. Serba salah.

Saya juga pindah ke kamar kos si ibu pemilik rumah kontrakan yang sebelumnya dihuni kakak tingkat. Jadi lumayan tak usah sewa menyewa mobil pick up untuk membawa barang-barang. Lagian juga barang-barang saya enggak terlalu banyak. Tapi proses beres-beres ini ternyata tidak sebentar.

Saya butuh total sekitar 3 hari untuk membereskannya. Itu pun di hari ketiga (Sabtu), bapak dan ibu kosan membantu saya. Tak tanggung-tanggung, pekerjaan yang dilakukan mereka berdua, ditambah satu anak perempuannya bahkan lebih ekstra ketimbang saya. Saya paling hanya mengamankan barang-barang milik saya sendiri, dan barang-barang yang dititipkan teman untuk jangan dulu dibuang.

“Wah ieu mah lamun teu dibantuan jigana moal beres-beres.” Kata ibu kosan. Nuhun bu. Tepat di hari Sabtu itu, siang harinya saya langsung pulang ke Tasik. Awalnya mah mau pulang dari awal-awal minggu itu, tapi apa daya, beberesnya juga belum selesai. Salah satu kendalanya sih PW. Sudah betah di kontrakan sebelumnya. Andai saja ada beberapa teman lagi yang mau ngontrak rumah itu, mungkin saya akan tetap ada di sana sampai skripsi rampung dikerjakan.

Saat saya memilah beberapa barang milik teman-teman saya (Acep, Ogi, Agus) tapi lupa di hari apa, saya tetiba jadi terkenang mereka, teringat kebersamaan berbulan-bulan tinggal bersama mereka di bawah atap yang sama. Mungkin ada momen juga emosi saya tersentuh. Kalau tak ditahan, sepertinya air mata saya hendak menitik. Tapi saya tak mengizinkannya membasahi lantai rumah itu. Ah, tidak.

Rumah itu juga pernah menampung orang-orang yang menginap bahkan mengantarkan teman saya yang sering ngendong untuk menuntaskan skripsinya. Sebut saja Imron. Pernah juga teman-teman Planet Antariksa setelah syukuran wisudaan mondok di sana. Ucup, Panji, Dhafa, Widi, Wildan, Fajar dan beberapa yang lain pernah bermalam dan wudu, kencing  juga mandi di kamar mandinya.

Haru mulai menyelimuti daerah sekitar pelupuk mata saya. Mendesak air di dalam kelopaknya untuk berpisah dari tempatnya. Teman-teman saya ternyata satu persatu mulai pergi menyongsong masa depan mereka selanjutnya. Teman-teman saya ternyata sudah lebih dulu masuk ke fase hidup berikutnya. Saya saja yang masih belum. Iya, belum. Nanti juga akan segera menyusul.

Benda-benda yang ada di dalam rumah, dinding kamar berwarna biru, kasur yang dipenuhi banyak pulau, karpet yang beberapa kali terbasahi air hujan yang masuk lewat atap yang bocor., terminal listrik yang dipakai banyak orang untuk mengisi ulang baterai HP nya, televisi yang sering kami gunakan untuk nonton naruto dan sepakbola bareng juga piring-piring dan gelas juga yang lainnya seolah-seolah  mampu merekam setiap kenangan di antara kami.

Semua benda itu semacam punya kekuatan untuk mengabadikan momen-momen kebersamaan. Benda-benda itu seakan-akan mampu memutar ulang canda tawa kami yang sering membercandakan soal banyak hal, jodoh salah satunya dan paling sering jadi topik pembicaraan. Hal-hal itu yang akan kami rindukan kembali adanya. Semoga suatu saat kami bisa mengulangnya lagi.

Teman barangkali merupakan kebutuhan setiap manusia selain juga makan-minum, bernafas, dan juga pakaian. Karena tanpa teman berbagi, hidup seseorang akan –meminjam puisinya Chairil Anwar—mampus dikoyak-koyak sepi.

Teman meskipun kadang sesekali menyebalkan sebagaian tingkah lakunya namun mereka lah yang akan membantu kita tatkala kesulitan datang menerpa. Terlebih lagi bagi mereka yang sedang berada di rantau dan jauh dari rumah. Teman-teman juga bisa jadi tempat minta tolong kalau kita sedang kesusahan. Pinjam uang misalnya karena saldo uang di ATM sudah tak lagi bisa diambil. Teman tempat kita berbagi cerita. Bukankah manusia suka sekali bercerita?

Perbanyaklah teman dan hindari sebisa mungkin musuh meskipun itu hanya satu orang. Karena sebagaimana diabadikan sebuah pepatah “musuh satu terlalu banyak, teman seribu masih kurang.” Saya sangat sepakat. Musuh meskipun hanya satu membuat hidup kita tidak tentram dan hati kita tidak tenang. Serasa ada yang mengejar-ngejar di belakang diri kita.

Selain tetangga, teman-teman adalah mereka yang kelak akan menjenguk kita ketika sakit. Mereka yang juga nanti akan datang ke pemakaman kita. Mereka pula yang dengan rela hati mengirimkan do’a agar dosa-dosa kita dikurangi bahkan diampuni. Ah, sebagaimana Tsubatasa bilang kalau bola itu teman, kalau saya bilang teman adalah teman. Mereka adalah salah satu harta berharga selain keluarga, sahabat, dan juga pasangan (bagi yang sudah punya), bagi yang belum mah sabar we yah! He.

Teman-teman, di mana pun sekarang berada dan sedang sibuk apa, semoga keselamatan dan kesehatan serta rahmat Allah selalu hadir di melingkupi kalian. Mudah-mudahan ingatan masa lalu tentang kebersamaan kita tak dengan gampangnya dilupakan. Semoga kebersamaan kita sewaktu muda menjadi beberapa halaman indah di buku catatan hidup kalian.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 14 Juni 2017/ 19 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #19: Mereka yang Kita Sebut Teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s