Ramadhan #18: Kehangatan Keluarga

Ini wefie pas lebaran tahun lalu.

Dua malam di rumah selama Ramadhan tahun nyatanya tak cukup. Sangat singkat terasa. Tadi pagi saya harus ke Bandung lagi setelah sebelumnya pulang dari Bandung hari Sabtu. Hari minggu pagi ketika saya masih di rumah Wildan (teman saya di Cieunteung Tasikmalaya) saya diminta ketua prodi buat menghadapnya hari Senin. Tapi Seninnya saya berencana memperpanjang masa berlaku STNK. Kemungkinan enggak bakal bisa. Lalu katanya Selasa saja. Saya bilang insya Allah saja soalnya bisi enggak ke Bandung lagi sayanya.

Nampaknya perbincangannya akan serius sekali. Saya berkelakar sama teman di mana malam minggunya saya bermalam karena sampai di tasik jam 10 malam. Mungkin mau ngobrolin tentang perjodohan sama anaknya, kata saya. Kami pun bersorak tertawa karena emang itu ide yang konyol dan hampir enggak bakalan mungkin juga. Saya siapa? Baca kitab kuning saya kagak bisa. Sementara kemungkinan standarnya bapak adalah cowok yang ilmu agamanya dalam, membaca kitab barangkali salah satu instrument untuk mengukur kedalamannya. Ah lupakan!

Saya tiba di Bandung jam 2 dan dari rumah berangkat jam 9 an lebih setelah sebelumya tidur pagi dulu, he. Cepet juga ternyata. Ketika saya pergi, saya sendiri di rumah. Bapak, mamah, sama teteh kemungkinan sedang di sekolah berkegiatan seperti biasa. Adik saya juga tak ada soalnya pondok sama sekolahnya belum libur.

Setelah saya ke Bandung dan mengobrol dengan pak Aam menjelang Maghrib, ternyata yang dibicarakan tentang instruksi pembuatan komunitas menulis di prodi saya. Kirain teh apa. Katanya ini bagian dari memaksimalkan potensi anak-anak IPAI dan agar IPAI unggul dalam semua lini. Unggul ini juga bagian dari dakwah, dan saya sepakat.


Saya tak akan cerita banyak tentang permintaan pak Aam tentang pembentukan komunitas menulis ini. Saya hanya ingin bercerita tentang dua malam kemarin di rumah.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada yang berubah dengan tradisi Ramadhan di rumah kami. Mamah masak, saya masih tidur dan hampir pasti dibangunin mamah. Bapak selalu istiqomah shalat malam sampai sekitar jam 4 dan baru makan sahur karena memang sunnahnya diakhirkan. Teteh pun kurang lebih sama kayak bapak.

Saya kadang ikut shalat kadang tidak kalau hoream mah. Lalu TV dinyalakan sambil kami makan sahur. Channel nya Tafsir Al-Misbah pak Quraish Shihab. Oh iya, paling bedanya adik saya enggak ada di rumah karena di Ramadhan ini dia harus menjalani puasa di pondok. Persis seperti saya dan teteh dulu. Kami saling bergiliran menjalani ibadah shaum di pondok tempat masing-masing kami mencari ilmu. Mungkin kami akan kumpul bareng lagi di beberapa hari menjelang lebaran nanti. Semoga.

Untuk buka puasa enggak jauh beda. Jatah 2 butir kurma menjadi ta’jil kami masing-masing. Lalu shalat maghrib dilanjut makan besar bareng lagi. TV hampir selalu dinyalakan juga untuk menghidupkan suasana sambil sesekali kami ngobrolhal-hal yang memang seru untuk diobrolkan. Tak selalu berfaedah sih. Tapi berbincang-bincang dalam sebuah keluarga untuk menambah keharmonisan adalah langkah yang sangat tepat menurut saya. Menjelang isya, kami shalat isya dan tarawih di masjid. Setelah itu, biasanya ada beberapa makanan ringan yang kami makan setelah shalat tarawih usai. Sebelum tidur, kami ngobrol-ngobrol lagi. Kalau ada tugas sekolah yang harus dikerjakan, seperti administrasi dll, bapak pun membereskannya.

Begitulah, keluarga kecil kami bagi saya pribadi adalah anugrah yang harus terus disyukuri dan jangan pernah berhenti. Kesederhanaan di keluarga kami justru kekayaan maha hebat memberikan banyak inspirasi. Kasih sayang anggota keluarganya membuat kami betah untuk terus berada di rumah. Meskipun karena tuntutan menambah kapasitas ilmu, kami selaku anak-anaknya mau tak mau harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Tapi itu untuk kebaikan kami dan mamah juga bapak juga sebagai ikhtiar untuk menjadikan kami anak soleh/ah. Bukankah menjadi seperti itu adalah cita-cita setiap orang tua dan masing-masing anak itu sendiri?

Seperti biasa, ketika saya pulang, saya selalu minta ke mamah buat dipencetan(dipijat). Saya suka beralasan saja kalau kaki saya pegal, juga punggung dan bagian tubuh lain. Mamah biasanya kadang bilang, “ah tunduh” dan lain-lain, tapi kadang juga langsung saja membawa balsam dan semacamnya untuk memijat saya.

Mohon jangan hanya fokus ke saya yang terkesan menyuruh juga memerintah. Ini cara saya untuk dekat sama mamah, buat mendapat kasih sayangnya. Cara ini selalu ampuh. Bahkan mamah juga bilang, meneruskan obrolan teman gurunya di sekolah,  bahwa ketika seorang anak bermanja-manja sama mamahnya jangan dianggap apa-apa. Itu justru baik. Hubungan anak dan mamahnya berarti tak bermasalah. Kalau justru kagok di antara keduanya, berarti ada problem di sana.

Saya mungkin sudah beranjak dewasa dan bukan anak kecil lagi. Namun, di hadapan orang tua saya, saya tetap akan bersikap sebagai anak kecil. Bukan dalam artian yang sebenarnya tapi. Maksudnya saya akan selalu menjaga kenangan-kenangan masa kecil dulu supaya bisa tumbuh hingga sekarang bahkan nanti ketika saya sudah tak muda lagi.

Saya ingin selalu dekat dengan mereka baik secara fisik maupun secara batin. Saya ingin—meminjam kategorisasi tentang kehadiran menurut dosen Fiqh Munakahat saya—selalu di wilayah present in absen. Meskipun secara fisik mungkin dipenggal jarak, tapi di hati kami, kami saling terikat satu sama lain, merasakan kehadiran masing-masing.


Bagi yang punya hubungan kurang baik dengan mamah dan bapak kalian, ayo segera perbaiki keretakan itu. Rugi pisan. Padahal do’a mereka bagi kesuksesan kita itu sangat dahsyat daya magisnya. Rida Allah terletak pada keridaan keduanya dan sebaliknya berlaku juga untuk kemurkaannya. Begitu kurang lebih inti sebuah hadits Rasul berkaitan dengan keterkaitan antara rida Allah dan rida orang tua yang tak berjarak. Lalu, bagaimana mungkin mereka akan tergerak untuk mendo’akan kita kalau hati mereka terluka oleh sikap dan perkataan kita?

Ayo bagi yang hubungannya tak terlalu mulus, segera muluskan jangan dinanti-nanti sebelum kalian menyesal. Karena hidup tak akan selamanya manis melainkan suatu saat akan mencecap kepahitan. Ya kepahitan itu salah satu bentuknya adalah kehilangan, musibah dan hal-hal senada lainnya. Jika memang sudah terjalin harmonis, teruslah cari cara agar hal tersebut tetap bertahan dan kalau bisa, mampu ditingkatkan lagi dan lagi.

Komunikasi yang baik adalah salah satu cara untuk menjaga kemesraan itu. Untuk menambah kedekatan ke mamah, cara saya di atas bisa juga diikuti. Kalau ke bapak mah, saya pribadi kadang suka ngajak bapak diskusi, ngebantuin pekerjaannya dan lain-lain. Buat mereka nyaman punya anak seperti kita. Kalau nyaman sudah di dapat, apa sih yang enggak bakal mereka berikan? Kalau kepercayaan sudah diraih, mereka tak akan khawatir melepas anaknya untuk pergi ke mana pun. Pergi ke suatu tempat yang jauh ke luar negeri atau daerah terpencil untuk mengikuti sebuah program tertentu misalnya, juga ketika menikah kelak.


“Tos di mana ayeuna?” pesan masuk dari bapak saya pada pukul 18.29.

“Tos dugi tadi jam 2 an.” Balas saya.

“Hun atuh ning teu mekel beas sareng cau?” Bapak bertanya lagi.

“Hilap tadi teh…rusuh.” Kata saya.

Hal-hal seperti simpel seperti ini mungkin terlihat biasa saja. Tapi saya kira tak semua anak mendapatkan demikian dari orang tua mereka. Mari bersyukur kalau kita termasuk anak-anak yang masih sangat dipedulikan oleh orang tuanya! Menanyakan kapan beres skripsi juga bagian dari menunjukkan perhatian ini. He. Semalam saya ditanya kapan sidang soalnya.

Sudah ah. Sudah malam. Besok nulis jurnal lagi insya Allah.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 13 Juni 2017/ 18 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #18: Kehangatan Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s