Ramadhan #16: Kemuliaan Ahli Ilmu

Di jurnal sebelumnya saya menceritakan bahwa di hari ke-5 Ramadhan saya mengikuti acara di mana pak Aam sebagai pematerinya. Informasinya saya tahu beberapa hari sebelum masuk ke bulan suci. Saya niatkan untuk bisa mengikutinya sejak saat itu. Tapi tiba-tiba kelupaan apakah acaranya sudah lewat atau belum. Lalu seperti biasa, ketika saya men-scroll linimasa instagram saya menemukan kalau jadwal beliau tepat di hari itu. Fix, ini mah tanda-tanda kuat kalau saya harus mengikutinya. Mumpung masih di Bandung. Majelis ilmu di mana beliau sebagai pengisinya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Saya pun pergi ke aula masjid Al-Furqon. Acaranya berlangsung di sana.

Sebelum lanjut, saya mengkol dulu ke cerita lain tapi masih berkaitan dengan kekaguman saya pada sosok beliau yang keilmuan dan akhlaknya sangat tinggi. Jadi, topik skripsi saya dulu ketika semester-semester 7 saat kami harus menyetorkan judul, saya ingin fokus pada pesantren karena saya suka tentang topik itu. Namun sampai dekat ke hari pengumpulan judul, saya kurang referensi tentang hal menarik apa yang akan saya ulas ketika memilih pesantren sebagai objek penelitian. Lalu saya pun diam-diam tertarik untuk mengambil skripsi tentang tafsir yang harapannya bisa dibimbing oleh pak Aam. Secara beliau nampaknya yang paling ahli untuk keilmuan ini ketimbang dosen-dosen lain.

Singkat cerita saya mengambil tema cinta dalam Alquran sebagai judul skripsi. Ini pun inspirasinya datang dari seorang adik kelas yang melihat fokus saya membicarakan hal-hal tersebut di media sosial. Setelah saya cari-cari informasinya di google, ternyata masih ada peluang bagi saya untuk mengkajinya. Harapan untuk dibimbing oleh pak Aam pun kian menguat karena saya yakin judulnya akan sangat pas dengan beliau. Namun ternyata pembimbing saya pak Syamsu (dosen filsafat umum dan filsafat Islam) yang setahu saya lebih sering membimbing skripsi tentang pesantren, sekolah, dan untuk tafsir sendiri cukup jarang. Pembimbing 2 nya pak Elan.

Beruntungnya, ketika saya mau bimbingan pertama kali ke pak Syamsu, saya diminta untuk ganti dosen pembimbing ke pak Aam karena beliau dinilai lebih baik secara metodologi tafsir katanya. Hati kecil saya pun bersorak, “pucuk dicinta ulam pun tiba.” Saya mendapatkan apa yang saya inginkan yaitu dibimbing oleh dosen idola saya.

Selain bimbingan secara teknis skripsi, saya pun ingin memperoleh ilmu lain darinya. Dengan menjadi mahasiswa bimbingannya, hal tersebut akan kian dekat untuk terealisasi. Alhamdulillah. Akhirnya, saya pun menyatakan diri untuk dibimbing beliau sambil menyebutkan kalau ini rekomendasi pembimbing sebelumnya yang padahal saya pun sangat mengingingkannya. Allah tahu apa yang dimau dan dibutuhkan hambanya. Itu hanya sekilas cerita tentang interaksi saya dengan pak Aam. Masih banyak yang lainnya sebenarnya.

Lanjut ke cerita saya sebelumnya. Tema yang dibawakan saat itu adalah tentang radikalisme, sekularisme dan liberalisme di kalangan mahasiswa. Saya kira, mahasiswa sebagai insan intelektual dengan berbagai macam referensi awal di dalam dirinya sebelum masuk ke kampus akan menentukan kecenderungannya untuk bergabung mengafiliasikan diri mereka ke lingkaran-lingkaran yang cocok dengannya. Isme-isme tadi sangat mungkin untuk tumbuh subur di tubuh seorang yang katanya agen perubahan berjuluk mahasiswa. Namun, kabar buruknya hal tersebut dinilai akan mengancam eksistensi Islam sendiri karena merongrong dien sempurna ini. Pemikiran-pemikiran tersebut dinilai meresahkan terlebih bagi mereka yang fokus mendakwahkan Islam khususnya di kalangan akademisi.

Saya tak akan secara detail menceritakan ulang pendapat pak Aam tentang ketiga hal ini. Yang jelas beliau sangat tidak mendukung beredarnya pemikiran ini di kalangan mahasiswa. Khusus radikalisme, dengan salah satu ciri menganggap pemahaman sendiri paling benar, mudah menyalah-nyalahkan orang lain yang berbeda sudut pandang, terkesan ekskusif, dan lainnya memang menjadi fokus beliau di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan selama sekian tahun intensif meneliti permasalahan itu di kampus. Berbagai organisasi keislaman beliau mention sebagai gerakan radikal dan sangat membahayakan. Mohon maaf saya tidak bisa menyebutnya. Lupa soalnya. He.

Selama sesi tersebut berlangsung bapak memang lebih fokus membahas tentang radikalismenya sehingga ketika waktu selesai terkait sekularisme dan liberalisme tak tersentuh. Kalau tidak ditanya oleh MC, mungkin beliau tak akan menjelaskannya. Namun dengan pancingan dari MC tersebut akhirnya sedikit disampaikanlah tentang karakteristik gerakan ini, yang mana mereka pun tak kalah berbahayanya dengan paham radikalisme.

Saya tak akan terlalu fokus tentang tema ini. Saya hanya ingin menyampaikan betapa dalam penguasaan ilmu keislaman yang dimiliki beliau. Terlebih lagi kemampuan ilmu alat bahasa arabnya tak usah diragukan lagi.

Saat mengulas beberapa ayat-aya yang suka dipahami secara parsial oleh sempalan-sempalan Islam, saya begitu takjub dengan penuturan beliau yang mengutip pendapat sana-sini sembari juga menyodorkan ayat lain yang hubungannya erat dengan ayat yang dijadikan alat oleh mereka sebagai legitimasi pemikirannya. Saya menjadi sangat kecil bila dibandingkan dengan beliau. Masih banyak lagi contoh yang menunjukan keluasan ilmu dari lulusan S3 Tafsir Al-Qur’an UIN Bandung ini.

Semoga Allah memberikan kebaikan kepada guru saya ini. Aamiin.

Muhammad Irfan Ilmy | Tasikmalaya, 11 Juni 2017/ 16 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #16: Kemuliaan Ahli Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s