Ramadhan #15: Menyeru pada Kebaikan

Sebelum saya pulang ke Tasik sore tadi, saya menyempatkan mengikuti pelatihan dakwah yang diselenggarakan UKDM dan Masjid Al-Furqon. Awalnya saya kira sesi pak Aam (narasumber paling favorit bagi saya) sebelum dzuhur, ternyata tidak. Setelah bertanya ke salah satu adik tingkat yang juga panitianya (member IPAI Inspiring Forum) ternyata pak Aam mengisi sebakda zuhur karena katanya sebelum zuhur ada kegiatan di tempat lain. Alhamdulillah.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika saya menjemput motor di kampus karena semalam diinapkan di parkiran depan gallery ATM. Sempat bimbang juga antara mau mengikuti dulu pelatihan atau langsung pulang saja untuk menghindari terlampau larut malam ke rumah. Hati saya lebih berat mengikuti terlebih dulu.

Akhirnya saya di aula masjid Al-Furqon sampai kurang lebih pukul 14.30-an yang berarti saya ikut pelatihan itu. Jujur, ketika pak Aam yang jadi pemateri, sebisa mungkin saya datang. Seperti hari ke- 5 Ramadhan ketika beliau mengisi tentang radikalisme, liberalisme, dan sekularisme yang diadakan UKM Kalam UPI, saya pun ikut.

Saya mungkin sudah tidak aktif kuliah di kelas bersama beliau yang merupakan dosen Tafsir saya, juga dosen Seminar Pendidikan Agama Islam waktu itu. Namun saya selalu ingin mendengar pemaparan ilmu darinya walaupun beberapa sudah saya tahu. Tak ada istilah bosan bagi saya ketika beliau yang menyampaikan. Suka serasa ada tarikan maha kuat ketika beliau berbicara teh. Ada sima an kalau kata orang sunda mah.


Sebelum sampai pada pembahasan tentang tema inti pelatihan yang dibawakan pak Aam, beliau memberikan intro sedikit tentang beberapa hal. Yang saya catat dan nyangkut di telinga saya adalah tentang keistimewaan Ramadhan sebagai bulan yang agung nan mulia. Pada bulan ini, berbagai amalan jadi terasa ringan dilakukan walau kenyataannya tak mudah.

Misalnya saja tentang banyaknya orang-orang yang berbondong-bondong memberikan makanan ta’jil. Meminjam bahasanya pak Aam, “ta’jil melimpah ruah.” Betul juga. Kita hampir tak usah khawatir tak mendapat makanan gratis menjelang bukan puasa asalkan rajin datang lebih awal ke masjid-masjid. Padahal di bulan-bulan lainnya, hal ini akan sulit sekali ditemui. Kedermawanannya tak sehebat ketika bulan suci hadir di tengah-tengah kita.

Lalu tentang shalat tawarih. Banyaknya rakaat, ada yang 11, ada pula yang 23 rakaat, kita kuat melaksanakannya meskipun kadang akibat ulah sendiri yang—maaf—serakah ketika berbuka, akhirnya harus menanggung kantuk yang teramat. Dan masih banyak lagi kecenderungan muslim meningkat gairahnya berbuat kebajikan di bulan ini ketimbang bulan-bulan selainnya. Menurut penuturan beliau, hal ini terjadi karena “intensitas keterlibatan Allah di dalamnya sangat kuat. Allah begitu dekat.” Kurang lebih begitu inti tentang sebab betapa muslim jadi begitu bergairah luar biasa melawan nafsu dalam dirinya pada bulan penuh berkah ini.

Selanjutnya, tema yang dibahas tadi adalah Dakwah sebagai Ruh Hidup Manusia. Bagaimana tuh maksudnya? Ya, bahwa setiap manusia (yang meyakini kebenaran Islam dan memeluk agama ini) dibebankan tugas berat menyeru kepada kebaikan dalam hidupnya. Kurang lebih secara sekilas dakwah memang diartikan seperti itu. Yakni mengajak umat islam atau bahkan juga manusia secara umum untuk kian mendekat pada Allah dan memberikan persuasi agar Allah diagungkan dalam kehidupan ini.

Lalu, semangat berdakwah ini pun harus terus digaungkan tanpa pernah ada jeda. Dalam bahasanya bapak yang sangat keren menurut saya, dakwah di antaranya adalah “mengajak manusia berjalan di atas hakikat yang dipilihnya sebagai manusia dan sebagai makhluk.”

Dakwah mengapa menjadi kewajiban tiap individu dalam dien ini? Tentu yang mendasari hal ini salah satunya adalah bahwa manusia memang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, dakwah memang cocok dengan hakikat tujuan penciptaan manusia ini. Di mana dengan dakwah dimungkinkan ada sebuah pekerjaan besar—meminjam istilah beliau—mengekspresikan kemakhlukannya kepada khalik.

Dakwah ini sungguh sangat luas maknanya selain salah satunya tadi seperti yang saya tuliskan 2 paragraf-paragraf sebelumnya. Dalam keseharian, dakwah sangat bisa dilakukan dalam semua aktivitas. Melalui potensi yang telah Allah berikan kepada kita, misalnya menyukai musik, ya kesukaan tersebut haruslah mengantarkan kita kepada upaya memuliakan-Nya, pada ikhtiar mendekat pada-Nya”. Begitu pun dengan kemampuan lain seperti menulis, berorganisasi, berbisnis, mengajar, dan aktivitas-aktivitas strategis lainnya.

“Dakwah harus menyeluruh pada keseluruhan hidup itu sendiri.” Kata beliau. Yang berarti tidak boleh pilih-pilih ranah. Semua sendi harus disusupi ruh dakwah di dalamnya.

Hal yang tak kalah penting dalam mendakwahkan keislaman kita yakni—ini bukan kata saya—muslim harus menampilkan sikap yang lebih baik dari apa yang telah diterima dari pihak-pihak yang menyudutkannya. Masih berdasar penuturan bapak, bahwa kemenangan muslim bukan pada kelengkapan persenjataan melainkan terletak pada pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah datang tatkala kita mengindahkan aturan-aturan-Nya sehingga Dia rida atas kita. Itu kurang lebih poinnya. Semoga saya tak keliru.


Jadi dakwah memang bukan hanya tugas penceramah, mubaligh, kyai, ustaz saja melainkan setiap kita dibebani kewajiban ini. Karena memang maknanya pun tak sesempit mengajak lewat perkataan saja. Mencontohkan lewat perbuatan terkadang lebih meninggalkan bekas permanen dalam benak-benak kita, meski menyeru lewat perkataan pun tetap jangan sampai ditinggalkan. Keduanya harus dijalankan beriringan dan jangan sampai dibenturkan antara satu sama lain.

Sudahkan kita berdakwah hari ini?

Muhammad Irfan Ilmy | Tasikmalaya, 10 Juni 2017/ 15 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #15: Menyeru pada Kebaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s