Ramadhan #13: Kenyataan di Sekitar Kita

P_20170608_214848.jpg

Setelah mengikuti kajian Ma’rifatullah Aa Gym tentang ambisi saya enggak langsung pulang. Saya datangnya telat sih sebenarnya, karena tarawihnya di Al-Furqon. Saya lihat instastory adik tingkat yang lagi di DT ternyata 26 menit yang lalu. Saya pikir masih ada kesempatan untuk menyimak.

Saya tertarik melihat tarawih jilid 2 menuju 23 rakaat sambil ingin berdiam dulu di masjid yang nyaman ini. Suasananya adem dan menentramkan. Cocok buat menghafal Al-Qur’an dan minta jodoh. He. Dijamin khusyu gera.

Saya sempatkan juga melanjutkan bacaan Qur’an beberapa halaman sebelum akhirnya nyerah juga dan memilih memoto penampakan jamaah yang sedang shalat tarawih. Eh, bukannya ikutan, saya malah fofotoan sama ngeliatin doang. Ya, itung-itung survey sih. Siapa tahu besok-besok nyoba tarawih di sana. Dan saya jadi mikir tentang peluang amal malah suka nyari alasan. Capek lah, ngantuk ini-itu, ada kesibukan dan lain-lain. 

Kana kahadean mah emang sok hararese. Aneh.

Ternyata berjalan ke arah kebaikan teh banyak godaannya.Yang berhasil melaluinya, insya Allah akan bertemu dengan janji Allah yang tak pernah diingkari berkaitan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dan barangkali jumlahnya memang sedikit. Karena yang bertahan menjalaninya pun tidak banyak. Wallahu a’lam.

Syurga teh ternyata mahal pemirsa. Bukan maksudnya fokus ke mahal karena harus mengeluarkan uang yang banyaknya, tapi memang berat dan harus diperjuangkan dengan penuh kesungguhan.

Sekitar jam 21.57 WIB saya memutuskan pulang. Ingat belum nulis jurnal. Karena hari ini beberes kontrakan untuk pindah ke kamar si ibu di sebelah atas, lumayan lelah juga. Sempat saya berpikir untuk absen nulis. Tidak ada inspirasi. Sebuah alasan yang tak bermutu memang. Namun setelah mengikuti kajian dan mengamati yang shalat tarawih tadi, justru inspirasi itu datang dari 3 orang anak yang memulung di sekitar pintu masuk masjid DT. Saya harus menulis, pikir saya.

Di tengah proses mereka mencari botol-botol plastik, sebagaimana lazimnya anak kecil, mereka hareureuy. Bahkan sampai ada satu anak yang didupak sama satu anak lainnya. Yang satu lagi dan terlihat lebih dewasa masuk ke tempat wudu. Entah untuk apa. Mungkin kencing atau cuci muka.

P_20170608_215919.jpg

Lalu yang dari tempat wudu itu membuka-buka tempat sampah. Dia mendapati beberapa botol plastik bekas minuman rasa-rasa. Dua orang yang sebelumnya hareureuy itu melanjutkan heureuy nya. Lantas lelaki dewasa yang kemungkinan bapak mereka mengingatkan tong heureuy wae. Ketika itu saya sedang berjalan menuju pulang setelah sebelumnya memfoto tingkah mereka.

image

Sekecil itu mereka harus bekerja sampai malam larut. Sementara saya, segede ini juga masih menganggur dan dengan enaknya ketika uang habis tinggal minta ke orang tua. Pemuda seperti apa saya? Payah. Saya tak tahu apakah anak-anak itu masih sekolah atau justru sudah putus masa pendidikannya. Mudah-mudahan siang harinya mereka sekolah karena kan SD dan SMP biayanya digratiskan pemerintah.

Semoga kelak ketika mereka sudah dewasa, dengan bekal ilmu yang didapat dari sekolah mereka tertempa jiwa dan semangatnya untuk keluar dari belenggu kekurangmampuan secara ekonomi dan mendapat pekerjaan yang lebih nyaman.

Saya tak bermaksud menegasikan pekerjaan sebagai pemulung. Toh itu juga pekerjaan yang halal. Daripada mengemis, padahal mereka masih kuat berdaya. Ketimbang para pejabat yang kerjanya menggondol uang rakyat, ya lebih baik mereka (yang saya sebut tadi). Tapi maksud saya pekerjaan mbok yang bisa lebih ramah, tak terlalu bersinggungan dengan kotor. Meskipun berdasarkan tagline salah satu iklan detergen, berani kotor itu baik. Ah, da itu mah iklan namanya juga. Promosi biar produknya laku.

Ternyata di sekitar kita ada banyak orang yang kondisinya tak lebih baik dari kita. Di sinilah pentingnya bersyukur atas nikmat yang telah diperoleh. Untuk makan hari ini kita tak terlalu perlu risau. Paling galau mau makan dengan menu apa. Mungkin tak berlebihan kalau disebut manja. Padahal di luar sana ada banyak orang-orang yang besok masih akan makan pun tak jelas kemungkinannya. Kalau untuk ilmu, barulah kita harus mendongak ke atas agar termotivasi terus mencari lagi dan lagi, terus dan terus sampai nanti—maaf—mampus.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8 Juni 2017/ 13 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #13: Kenyataan di Sekitar Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s