Ramadhan #9: Nilai Guna

P_20170604_231017.jpg

Nilai sesuatu ternyata tak konstan. Seiring kegunaannya yang mulai berkurang atau bahkan raib sama sekali, maka harga jualnya jadi menurun. Orang jadi tak tertarik lagi untuk memiliki sesuatu itu karena hanya makan tempat saja tapi manfaatnya tak ada. Beberapa minggu ke belakang Reyza (adik tingkat yang sering nginep di kontrakan) membereskan botol-botol air mineral ukuran 1,5 liter yang bertumpuk di salah satu sudut kontrakan.

Dikumpulkannya botol-botol tersebut ke dalam trashbag dan kresek berukuran besar. Keduanya cukup penuh dengan botol itu. Katanya niat mau dijual ke pengepul barang-barang bekas. Seiring waktu yang terus tak berhenti berjalan, botol-botol bekas yang baru pun kian bertambah banyak banyak. Karena saya dan Ogie kurang lebih tiap 2 hari membeli air sebotol-sebotol bukannya beli air galon isi ulang. Hoream lagi-lagi kendalanya. Cukup lah untuk satu kresek besar lagi.

Reyza dan juga saya berekspektasi kalau harga jual botol-botol itu lumayan tinggi. Ternyata, berharap berlebihan dan menyandarkan diri pada harapan itu memang pangkal dari kekecewaan. Kami mendapat batunya sendiri.

Makanya ya, kalau berani berharap harus berani juga menghadapi kepahitan yang mungkin datang akibat realisasinya tak seusai dengan yang diharapkan. Ini yang lebih utama adalah nasihat Irfan untuk Ilmy, yang berarti nasihat saya bagi diri sendiri. Oh iya, Untuk harga perkilogram botol air mineral itu berapa, saya akan ceritakan kemudian. Siap-siap tercekat, murah pisah soalnya. Jangan terlalu serius baca tulisan ini. Bisa sambil minum atau mendengarkan musik kok. Tingkat faedahnya biasa saja.

Kebetulan dari kemarin Agus (sebelumnya teman kontrakan saya) main dari tempat kerjanya, Karawang dan nginap di kontrakan. Ada juga Dhafa dan Imron yang sama-sama menginap. Widi juga yang sebelumnya habis minjem motor saya. Kesemuannya teman satu angkatan dan sejurusan saya. Ditambah juga Reyza seperti biasa mondok di sini. Jadi semalam cukup ramai dengan suara-suara pemuda tuna asmara, kecuali Imron yang hawar-hawarnya dalam waktu dekat mau ngehahalin anak orang.

Widi sedari pagi tadi ada urusan, katanya mau jualan pakaian bekas untuk keperluan pendanaan organisasi kerelawanan yang diikutinya di kawana Monumen Perjuangan. Imron juga pergi untuk interview di BI. Reyza sempat ada ketika kami bertiga (saya, Dafa, dan Agus) membereskan rekan untuk menemani botol air mineral untuk dijual. Tapi setelah Zuhur Reyza pergi menunaikan agendanya di siang tadi. Jadinya hanya Agus, Dafa, dan saya yang menyortir kertas-kertas tak terpakai untuk dijadikan rekan si botol air tadi. Cukup lama ternyata. Sekitar kurang lebih 2 jam mungkin ada.

Kertas-kertas bekas skripsi Ogie yang mencapai 50 cm tebalnya ditambah buku-buku catatan, kertas-kertas soal dan jawaban tak terpakai bekas PPL milik Acep, buku-buku teks yang jarang lagi dibaca milik semua orang yang pernah ngontrak di rumah yang kami huni, dan buku panduan kemahasiswaan yang sama sekali tak kami baca serta kertas tak bermanfaat lainnya kami pilah-pilah.

Setelah survey dulu perihal harga ke pengepul di daerah Cilimus (jaraknya cukup dekat dari Negla tapi kalau bawa kertas sebanyak itu cukup merepotkan juga) kami sepakat menjualnya di sana meskipun harganya ternyata cukup miring. Untuk kertas HVS tanpa cover (disebut kertas bersih) harganya 1.500. Kertas selain HVS seperti buku-buku teks hanya 1.000 dan kertas dengan kondisi tertentu bahkan harganya bisa lebih murah lagi. Dan seperti saya janjikan di awal, untuk botol plastik yang menurut kami cukup banyak itu ternyata hanya dihargai 2 ribu per kilogram.

Total yang kami kumpulkan hanya 1,5 kg. Bisa tebak sendiri berapa uang yang diterima. Sebagai informasi, agar nilai jual botol air mineral cukup tinggi, sebelum dijual lepaskan dulu label serta tutup botolnya. Lumayan ada selisih 1000. Total uang yang dikumpulkan sebesar 109.500. Tapi si bapaknya memberi 110.000. Sedekah 500 perak sepertinya karena memang si bapaknya pun tak meminta kembalian dari kami. Sama-sama rida saja.

sd.jpg

Hanya saja saya menyayangkan, si bapaknya tidak puasa. Karena tadi setelahnya uang diberikan dan saya juga Agus pulang, saya melihat si bapaknya mau menyalakan rokok. Juga teman si bapak yang sebelumnya pergi entah ke mana, dia pun sewaktu berbincang bersama kami terang-terangan sambil merokok. Asapnya saya rasakan kehadirannya. Tapi ini diluar kendali saya dan saya pun mencoba menghindarinya sebisa mungkin saat menyadari asap itu. Insya Allah mudah-mudahan puasa saya aman.

Uang yang terkumpul kami pakai untuk buka bersama. Bersamanya hanya 5 orang sih: Saya, Imron, Dhafa, Reyza, dan Agus. Kalau dibagi rata, berarti satu orang dapat 22 ribu. Sisanya bayar sendiri. Tapi alhamdulillah Agus menutupi bayaran sisanya. Mentraktir ceritanya. Katanya syukuran karena sudah bisa membeli motor. Nuhun ya Allah. Nuhun Gus, semoga cepat dapat calon isteri, eh.  Alokasi uang untuk buka bisa dialihkan untuk yang lain. Saya sih beli sakoteng si bapak yang sebelumnya ceritanya saya tulis di jurnal setelah tarawih di masjid Al-Furqon.

Saya jadi malah cerita detail tentang proses penjualan kertas dan botol bekas. Ah, tapi tidak apa-apa. Sebenarnya yang ingin saya tekankan di tulisan ini adalah tentang nilai kualitas dari satu hal. Kertas yang awalnya berisi tugas-tugas kuliah sebagai tiket mendapat nilai A dari dosen, buku-buku teks yang harganya cukup mahal sebagai bahan pembelajaran kuliah, catatan berisi poin-poin penting penjelasan dari dosen di kelas, ketika sudah lewat momentumnya jadi tak berguna lagi lah ia atau lebih halusnya kurang terpakai.

Nah, poinnya adalah bahwa ketika kegunaan dan kebermanfaatan sudah terlepas dari sesuatu, maka jatuhlah kadar mutunya. Bayangkan saja ketika manusia selama hidup di dunia tak memiliki nilai guna bagi sesamanya, bagi lingkungan, bagi sistem yang sungguh besar, sudah dipastikan hidup dan tak hidupnya sama saja, tidak berefek. Wujudu ka adamihi.Nauzubillah, saya berlindung kepada Allah dari sifat seperti itu sebagai seorang manusia.

Mudah-mudahan dari sekian puluh tahun kesempatan hidup di dunia ini, ada sekian persen masa hidup yang berkualitas dan memberikan pengaruh bagi orang lain di sekitar saya. Mari memfokuskan diri untuk berlatih jadi orang yang bermanfaat! Karena nyatanya memang tak pernah mudah. Harus dibiasakan terus-terusan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 4 Juni 2017/ 9 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #9: Nilai Guna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s