Ramadhan #7: Berguru pada Mamah dan Bapak

20150619_131124-1.jpg

Guruku tersayang

Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis

Mengerti banyak hal

Guruku terimakasihku

Terimakasih Guruku, Melly Goeslaw

 

Bapak dan mamah saya memberi contoh konret bahwa peran mereka di dunia pendidikan begitu konsisten. Seharian penuh keduanya berkecimpung di sekolah mencerdaskan anak ibu-bapak mereka sekaligus anak-anak bangsa ini.

Sedari saya kecil semampu yang saya ingat keduanya tak pernah tergiur untuk menengok profesi lain. Tak bosan apa? Saya tak pernah menanyakan apakah keduanya jenuh atau tidak. Jadi sampai sekarang tak pernah tahu jawabannya.

Saya merasa bangga memiliki mereka sebagai kedua orang tua yang begitu dalam cintanya pada saya dan kedua anak mereka yang lain, kakak dan adik. Profesi mereka sebagai guru memberikan peluang besar bagi saya untuk memperoleh kualitas pendidikan yang baik.

Saya tak bisa bayangkan jika misalnya mamah dan bapak saya bukan guru, mereka mungkin tak akan pol-polan mendukung anaknya kuliah lagi, yang bahkan saya enggak tahu bagaimana caranya mereka mengusahakan biayanya. Dan celakanya, saya sepertinya membuat mereka kecewa dengan menunda-nunda terus untuk diwisuda. Padahal mereka sudah menanyakan hal itu sejak saya masih PPL di semester 7 lalu. Sekarang sudah semester berapa? Tebak saja. Maafkan saya mah, pak.

Panggilan mamah dan bapak saya di daerah sekitar rumah adalah pak guru dan bu guru. Menurut saya keren sih. Bukan dalam artian saya agul. Saya hanya menunjukan kebanggaan pada mereka. Sikap yang wajar barangkali sebagai seorang anak kepada orang tuanya.

Setiap mereka lewat, ketika bertemu dengan warga yang mereka merasakan dampak dari adanya orang tua saya baik karena anak mereka adalah murid bapak mamah saya atau mereka juga bahkan muridnya juga selalu menyapa keduanya. Bahkan saya sebagai anak-anaknya pun terkena imbasnya. Jadi cukup terkenal karena saya anak mereka, pun adik dan teteh saya.

Sebagai ucapan terimakasih atau apresiasi mungkin, cukup banyak orang tua murid yang diajar oleh bapak dan mamah saya ketika momen hari raya Iedul Fitri tiba datang bersilaturrahim ke rumah sambil membawa barang bawaan. Kadang baju koko, sarung, sorban, kerudung, sirup ABC beberapa botol, kue kering dan lain-lain.

Untuk baju koko biasanya saya suka memintanya ke bapak biar jadi buat saya saja. Kadang diberikan, kadang enggak. He. Pun kalau ada musibah berupa sakit pada anggota keluarga saya misalnya, orang-orang yang asing bagi saya ternyata itu adalah murid-murid, teman-teman, atau orang tua murid mamah dan bapak saya. Saya bersyukur orang tua saya orang baik dan banyak orang yang sayang sama mereka.

Saya tak didikte oleh mereka untuk menjadi seorang pendidik. Hanya saja paling beberapa kali bapak bilang, “ah da bapak oge teu kapikiran jadi guru. Tapi da emang turunan guru nya akhir-akhirna jadi guru oge.” Yang kurang lebih artinya, bapak juga enggak kepikiran jadi seorang guru. Tapi karena memang keturunan guru (bapaknya bapak dulunya guru SD, kakak perempuannya pun sama) ya ujung-ujungnya jadi guru juga. Mungkin ada benarnya juga perkataan bapak saya.

Sehari-hari saya disajikan proses transfer of knowledge dan transfer of valuedari mamah dan bapak kepada murid-muridnya. Bertahun-tahun hal tersebut saya saksikan. Wajar bila segala hal tentangnya diam di alam bawah sadar saya demikian kuat. Ujung-ujungnya secara diam-diam dan malu-malu menjadi salah satu mimpi besar saya juga untuk direalisasikan di masa depan.

Bagi saya memang tak ada pilihan cita-cita lain selain menjadi seorang guru. Meski ada satu ding, sebagai dosen. Yang padahal hakikatnya adalah guru-guru juga alias pendidik. Meski muridnya sudah cukup tua secara usia. Pernah sih semasa kecil bercita-cita jadi dokter anak dan tentara. Tapi pelan-pelan cita-cita itu dikalahkan oleh kondisi dan ketakutan-ketakutan tak beralasan. Akhirnya cita-cita menjadi dosen atau paling realistis guru jadi pilihan utama selain menjadi penulis.

Keinginan saya menjadi seorang guru menguat ketika mulai paham bahwa salah satu dari tiga amal yang tak akan terputus pahalanya di saat yang lain mah terhenti adalah ilmu yang bermanfaat saya jadi tak ragu lagi dengan pilihan profesi ini. Menjadi guru namun dengan catatan niatnya didasari ikhlas sangat dekat ke titel ilmu yang bermanfaat.

Sampai saat ini alhamdulillah motivasi dari hadits Rasul itu masih bertahan tinggal di dalam diri saya untuk bersemangat mengejar cita-cita jadi seorang pendidik. Dan definisi pendidik di sini saya buka selebar-lebarnya bukan hanya soal tercatat sebagai pegawai di sebuah sekolah saja.

Intinya saya berterimakasih atas teladan yang begitu baik dari mamah dan bapak saya sebagai seorang guru. Mereka sudah berpuluh tahun loyal atas amanahnya  Mungkin teknis-teknis ilmu keguruan dan pendidikan bisa saya dapatkan di ruang-ruang kuliah dari dosen yang mengajar. Namun, untuk persoalan menjiwai profesi mulia ini, sama sekali tidaklah cukup.

Orang-orang yang secara langsung berkiprah di dalamnya dalam waktu lama bisa dijadikan tempat untuk berguru dan menimba ilmu tentang bagaimana cara mencintai pekerjaan ini. Ya, saya barangkali tak perlu jauh-jauh mencari orang lain itu. Mereka ada di dekat saya dan orang yang paling sering mendo’akan kesuksesan anaknya ini.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 2 Juni 2017/ 7 Ramadhan 1438 H 

Advertisements
Ramadhan #7: Berguru pada Mamah dan Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s