Ramadhan #6: Bocor

62377_droitwich-mother-endures-hole-in-ceiling-after-boiler-explosion-and-water-leak.jpg

Sudah cukup lama kontrakan saya bocor di beberapa titik langit-langitnya. Bahkan sebelum teman-teman pergi satu persatu ke fase hidup mereka selanjutnya yang ternyata saya masih di dalamnya dan belum pergi seperti mereka. Setiap kali hujan turun dengan deras, kami harus menyiapkan ember atau wadah lain yang isinya diberi lap atau kain bekas agar menghindari percikan air supaya tak terlalu jauh jangkauannya. Saya tak berinisiatif apa pun waktu itu untuk bilang ke ibu kos tentang keadaan kontrakan yang sering bocor ketika hujan. Entah kalau teman-teman yang lain.

Baru kemarin-kemarin ketika memang masa ngontrak habis di akhir bulan ini (saya masih tinggal di rumah itu walau memang sekarang sudah masuk bulan baru) saya bilang ke si ibu. “Bu bocor di beberapa titik,” kata saya. “Oh iya, nanti dibenerin. Paling gentengnya ngegeser.” Jawab si ibu sambil juga minta ke suaminya untuk membetulkannya esok hari. Tapi sampai sekarang belum kunjung diperbaiki. Pas mau pergi pindah kosan, baru we bilang. Dasar horeaman.

Saat saya terpikir memulai tulisan ini di kamar yang sebelumnya tempat tidur Ogie, ada lubang baru yang ketika hujan cukup deras akhirnya membuat basah kamar itu. Saya sedang mencatat list buku yang akan saya beli lewat akun instagram beberapa toko buku online. Suara air yang jatuh menetes ke lantai cukup nyaring terdengar. Tanda hujannya cukup lebat.

Untuk meminimalisir genangan air biar tak ke mana-mana, saya nandean air itu dengan kardus bekas kertas. Lalu beberapa saat kemudian di susul dengan lubang yang mengalirkan air di beberapa centi dari lubang pertama. Saya pun mengambil wadah magic com yang tak terpakai dan menaruh sebuah baju berwarna merah marun di dalamnya.

Poinnya sebenarnya atap yang bocor. Ini sumber masalahnya yang kemudian akan saya jadikan sebagai ilustrasi satu hal. Jika yang bocor itu diperbaiki, barangkali penghuni kontrakan ini tak mesti repot-repot menaruh wadah berisi lap atau baju tak terpakai untuk mengantisipasi air yang jatuh. Tapi saya tak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini.

Saya hanya ingin menyoroti tentang atap yang bocor tadi akibat ada yang tak beres dengan posisi genteng. Bisa jadi benar seperti yang dibilang ibu kos kalau gentengnya bergeser karena suka banyak kucing yang bermain di atasnya atau gentengnya memang pecah karena sesuatu hal yang saya tak tahu kenapa.

Bila kebocoran atap akibat genteng yang bermasalah dimisalkan sebagai kondisi tak baik-baik saja dari hati, maka sungguh merugilah kita selaku manusia atas ketakberesan tersebut. Hati kita sakit dan membuat apa yang mestinya tetap berada di dalamnya dan saya mengumpamakan itu sebagai ganjaran atau pahala menjadi lari ke mana-mana.

Keadaan hati yang sakit atau parahnya bahkan sampai rusak menyebabkan amaliyah-amaliyah kita selaku muslim menjadi hilang menguap terbang. Sia-sia saja selama ini menanam berbagai kebaikan karena raib seketika setelahnya banyak juga perbuatan maksiat dan keji yang dilakukan.

Saya tak tahu juga sebenarnya dengan konsep detail mengenai perbuatan baik yang diambil alih ganjarannya gegara perbuatan tercela. Apakah otomatis setiap perbuatan tak baik yang dilakukan itu langsung dengan serta merta menjadi sebab terambilnya 1 poin—misalnya—dari tabungan pahala amal baik? Yang jelas, melakukan perbuatan dosa dan karib kerabatnya membuat kita buntung alih-alih untung. Tapi kita tetap saja tertarik untuk coba mencicipi apa-apa ang merugikan itu.

Hati sebagaimana dalam hadits Rasul juga sebagai penentu baiknya seluruh anggota badan kita menjadi pengendali perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Jika ia baik, maka hati akan jadi benteng terkuat agar perbuatan maksiat tidak pernah dilakukan. Jika ia sehat, maka hati akan mengarahkan hanya pada hal-hal baik saja. Perkara baik saja sulit buat dilakukan, harus melawan kemalasan, mana sempat melakukan perkara merugikan (baik sendiri juga orang lain) karena tahu akibatnya akan jadi berabe berkepanjangan: sampai akhirat kelak.

Mari menjaga hati kita dari segala kerusakan yang bisa disebabkan oleh apa saja! Bisa karena mengonsumsi makanan yang tak jelas asal usul kehalalannya—baik zat maupun cara memperolehnya. Bisa juga karena dosa yang terus-terusan ditumpuk tak disesali alias ditobati sehingga awalnya titiknya jarang-jarang karena lama kelamaan dibiarkan akhirnya ia membuat gelap seluruh permukaan hati. Dan karena sebab-sebab lain yang ujung-ujungnya membuat fungsi hati sebagai nakhoda–kalau dalam kapal mah–jadi menurun. Tujuannya biar tak ada istilah sebagaimana di iklan cat tembok No Drop, yaitu bocor…bocor…itu lagi.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 1 Juni 2017/ 6 Ramadhan 1438 H

sumber gambar: worcester.towntalk.co.uk

Advertisements
Ramadhan #6: Bocor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s