Ramadhan #4: Mengenang Masa-masa Pesantren Kilat

Peserta Pesantren Kilat MI Al Falahiyah Plompong Ramadhan 1434 H.JPG

Hampir tiap tahun selama kurang lebih 12 tahun saya mengikuti pesantren kilat saat bulan Ramadhan. Tak membanggakan sebenarnya. Biasa saja. Hanya barangkali saya merasa beruntung dengan masa silam seperti demikian. Pengalaman-pengalaman keberagamaan itu meninggalkan jejak mendalam di benak saya. Karena namanya juga kilat, berarti dalam waktu yang singkat. Ilmu yang didapat pun tak lebih banyak ketimbang jiga waktunya normal alias lama.

Pesantren kilat pada tingkat SD, MTs. hingga SMA memiliki format yang tak terlalu jauh beda. Hanya untuk SD biasanya secara durasi tak terlalu lama. Menyesuaikan dengan tabiat mereka yang mudah bosan.

Saya tak terlalu mampu memanggil ingatan tentang detail bagaimana pesantren kilat sewaktu SD berjalan. Pun juga masa-masa setelahnya. Yang saya ingat secara kuat paling tentang saat-saat istirahatnya saja yang banyak diisi dengan permainan-permaian khas anak-anak. Untuk SMA sepertinya banyak yang diingat ketimbang lupanya karena memang waktunya relatif masih dekat dengan saat sekarang daripada yang sebelum-sebelumnya.

Selain ketika masa SMA, pesantren kilat di kampung saya lebih popular disingkat menjadi DIKLAT dibanding SANLAT. Istilah kedua familiar di benak saya setelah merantau ke Bandung. Dan sepertinya juga mulai saya kenal istilah ini saat SMA. Istilah ini pun sangat umum di wilayah-wilayah perkotaan.

Sewaktu SD dan MTs. adalah masa-masanya saya begitu antusias mengikuti rangkaian DIKLAT (saya akan menuliskan DIKLAT untuk seterusnya). Khas anak-anak yang masih sangat naïf dan mudah sekali ikut sana-sini walau tentu semangat belajarnya pun extra tinggi.

Waktu SD, di sela-sela istirahat saya sering ikut teman-teman untuk berenang di sungai dekat lokasi mencari ilmu. Saya waktu itu masih terkungkung dengan fatwa serampangan bahwa kentut dalam air dapat membatalkan puasa. Belakangan saya tahu kalau selentingan hukum itu tak beralasan. Saya yakin, bukan saya saja yang berpikir demikian.

Pulang-pulang ke tempat DIKLAT biasanya kulit kami keriput dan mata kami merah pertanda beberapa saat sebelumnya telah menunaikan ibadah ngojay di sungai yang kini airnya sudah tak jernih lagi karena di dekatnya ada pabrik tepung tapioka. Terang saja airnya jadi tercemar oleh limbah yang dihasilkan. Mana ada orang yang mau berenang? Ya, kecuali anak-anak nakal yang nekat. Kenakalan mereka harus diuji dengan tak gentar menerjang rintangan apa pun di hadapan.

Selain berenang, opsi mengisi waktu istirahat dan ngabuburit setelah DIKLAT adalah memancing di sungai yang sama dengan tempat kami berenang tadi. Seingat saya, saya tak pernah mendapat seekor ikan pun dari proses memancing itu. Tak ada bakat sepertinya. Tapi saya enjoy saja menjalaninya.

Masih di sungai tempat kami berenang dan memancing namun di selokan sampingnya kami pun sering bermain kincir air. Ada yang terbuat dari batang daun singkong, dari sandal jepit, dan lain-lain. Waktu kecil, kami mendefinisikan bahagia dengan cara-cara yang sederhana juga murah meriah. Gawai belum menyerang kehidupan kami sehingga kreatifitas diasah dengan cara membuat hal-hal konkret dengan bahan dan peralatan seadanya untuk memuaskan hasrat bermain. Jauh berbeda dengan saat ini.

Ragam kaulinan lain seperti bermain bekel, monopoli, catur, lompat tinggi dengan karet yang dikepang, sampai ucing-ucingan adalah pilihan-pilihan permainan yang biasa kami mainkan tatkala istirahat belajar tiba. Belajar terus sangat jenuh, tunduh. Apalagi perut kosong. Dengan main, setidaknya lapar sejenak bisa terlupakan.

Selain memancing, berenang dan bermain permainan yang saya sebutkan sebelumnya, kegiatan lain yang biasanya dilakukan bersama teman-teman adalah naik ke bukit pertambangan emas. Jaraknya tak terlalu jauh dari madrasah tempat kami DIKLAT. Tapi cukup melelahkan juga sebenarnya karena harus mendaki ke atas dengan ketinggian yang lumayan.

Kami harus berhati-hati karena bisa saja di kanan kiri ada lubang besar bekas para penambang mencari cadas sebagai bahan baku emas. Jangan kira ya emas itu langsung berwarna kuning seperti yang ada di TV-TV melainkan berbentuk bongkahan-bongkahan yang harus diolah dulu berkali-kali.

Di puncak, kami bisa melihat Masjid Jami Al-Ikhlas beserta MTs. dan madrasah tempat saya belajar di jenjang Diniyah Takmiliyah Awaliyah juga tempat saya kemudian melanjutkan sekolah setamatnya dari SD. Rumah-rumah warga pun terlihat begitu jelas berderet (untuk yang di tepi jalan raya) dan juga nampak bertumpuk-tumpuk karena kontur tanah pedesaan yang tidak rata seperti di perkotaan.

Di atas sana selain melihat pemandangan sekitar kami juga mengingat sarung ke pinggang dan menarik kedua ujung sarung lainnya kanan dan kiri untuk meniru gaya di serial kartun Ninja Hatori. Tapi kami tidak terjun dari atas sana. Gila aja. Ya kali. Mau bunuh diri lu tong? Semilir angin membelai wajah lelah kami dan memberi efek kesejukan yang sungguh mengenakkan.

Perjalanan dari bawah ke atas terbayar lunas tuntas dengan apa yang kami bisa rasakan di bukit emas yang dikelola secara tradisional itu. Warga di sana biasa menyebutnya Pangangonan. Yang bahasa Indonesia artinya adalah tempat mengembala. Saya tak tahu persis kenapa bisa disebut seperti itu. Mungkin awalnya di sana banyak rumput, dan banyak pemilik ternak yang meliarkan hewan ternaknya di sana untuk makan.

Masa-masa SMA lain lagi ceritanya DIKLAT nya (saya akan menyebutnya SANLAT). Seingat saya kegiatan SANLAT di SMA (SMAN 1 Tasikmalaya) diadakan di sela-sela kegiatan belajar biasa. Tapi agak lupa perihal pembagiannya. Yang jelas kami seperti biasa diinstruksikan untuk moving ke masjid Babussalam (masjid sekolah).

Kegiatannya terpusat di sana. Shalat duha, ceramah dhuha dengan konten fiqih, akidah, akhlak, sejarah Islam dll., tilawah, dan kegiatan-kegiatan khas pesantren kilat disusun oleh tim guru PAI agar sesuai dengan output yang diharapkan setelah para siswa mengikutinya. Lagi-lagi para siswa menanggapinya beragam. Ada yang antusias dengan kegiatan ini, ada pula yang ogah-ogahan.

Pada tahun lainnya, konsep SANLAT ada sedikit perbedaan. Yaitu kegiatannya memang dilaksanakan di pesantren dan digilir tiap angkatan persekian hari. Tempat SANLAT tersebut di Pondok Pesantren Al-Ikhwan tempat saya nyantriyang juga pesantren milik guru PAI saya di SMA, ibu Eti.

Kegiatan berpusat di masjid Al-Ikhwan Cibeureum Tasikmalaya. Dari pagi sampai dzuhur para siswa belajar tentang agama di sana secara langsung oleh para ustaz yang bergiliran mengisi acara. Saya jadi tidak usah berangkat naik angkot ke sekolah. Hanya perlu turun dari kobong di lantai dua untuk sampai ke lokasi.

Sewaktu SMA, tak ada yang terlalu berkesan tentang SANLAT. Masih kalah dengan DIKLAT saya sewaktu SD dan MTs. sebelumnya. Tak ada lagi renang bersama. Tak ada lagi mengisi waktu istirahat dengan bermain bekel, lompat tinggi dengan karet, monopoli, catur, hingga bermain ucing-ucingan apalagi mendaki bukit emas. Sudah bukan zamannya lagi.

Saya lalu menyadari bahwa keadaan tak mungkin selamanya stagnan, begitu-begitu mulu. Perubahan akan terus terjadi. Dan kata orang-orang bijak, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Kita harus menyesuaikan diri.

Waktu istirahat paling kami manfaatkan untuk ngobrol tentang tugas sekolah yang numpuk, bermain game di HP, atau aktivitas-aktivitas lain yang tak membuat tubuh kami bergerak bebas seperti masa kanak-kanak dulu. Ah, saya jadi rindu masa-masa itu.

Pesantren kilat sudah berkali-kali saya ikuti. Saya yakin, teman-teman pun tak jauh beda dengan saya. Sama-sama menjalaninya hampir di setiap jenjang pendidikan. Lalu apa nilai dan pelajaran yang bisa kita petik dari akademi itu untuk kemudian kita aplikasikan di Ramadhan kita sekarang? Apakah kita memang dulu menjalaninya dengan tanpa ruh sehingga dengan mudah kita lupakan begitu saja? Sayang sekali kalau ternyata sampai seperti itu. Padahal masa-masa dulu ketika mengikuti pesantren kilat banyak sekali pembiasaan-pembiasaan bermanfaat terkait ibadah yang bisa kita terapkan di setiap kesempatan. Saat Ramadhan tiba khususnya.

Masa lalu tak bisa diulang. Kita hanya bisa mengenangnya kembali meskipun itu kadang tak mudah. Banyak fragmen yang sulit kita ingat secara persis sama dengan kejadian di masa lampau itu. Namun percayalah, masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ia akan tetap tinggal di dalam diri kita dalam waktu yang panjang.

Semoga pengalaman berhari-hari ketika kita belajar agama cukup intens dari biasanya sewaktu bulan Ramadhan mampu mengingatkan kita bahwa mempelajari ilmu keislaman sembari mempraktikannya ini tak pernah usai. Ilmu yang dulu kita hafal dan dalami akan saling terkait tak terpisahkan.

Bila waktu itu belajar dengan tidak serius, jangan salahkan bila hari ini kita sulit mempelajari hal serupa atau saling berhubungan. Ilmu agama akan terus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ingat itu baik-baik! Mari kita beristigfar seraya meminta ampun atas kelalaian kita selama ini yang terkesan menyepelakannya dan tak sungguh-sungguh meletakkan ilmu agama di prioritas paling utama untuk kita pelajari!

Sekarang mungkin kita sudah pada berkuliah. Masa-masa untuk mengikuti pesantren kilat saat Ramadhan sudah terlewat meski ada juga beberapa pesantren yang menyediakan fasilitas mengkaji kitab selama bulan suci ini. Lazim disebut pasaran dalam istilah pesantren. Silakan tuh bisa diikuti. Atau kita masih bisa turut serta memberikan dampak dengan cara menjadi fasilitator SANLAT bagi adik-adik kita yang masih kecil. Saya kira itu adalah cara konkret untuk menebus kesalahan kita di masa lalu.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 30 Mei 2017

sumber gambar: Jadiberita.com

Advertisements
Ramadhan #4: Mengenang Masa-masa Pesantren Kilat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s