Ramadhan #3: Saat Kita Masih Kecil Dulu

SI_20170519_233850

Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan

Ramadhan tiba semua bahagia
Tua dan muda bersuka cita
Bulan ampunan bulan yang berkah
Bulan terbebas api neraka

Opick, Ramadhan Tiba

 

Ramadhan sudah menginjak hari ke-3 saja. Target ibadah masih tertulis manis di buku catatan pribadi. Realisasinya jauh dari yang diharapkan. Ternyata berubah itu butuh bayaran mahal, yaitu sakit yang teramat dan tak pernah mudah melakukannya. Apalagi kebiasaan buruk yang menahun diperbuat, sulit mengubahnya dengan tiba-tiba. Butuh pembiasaan dalam jangka waktu lama.

Kalau elang harus memilih satu dari keputusan berat antara bertransformasi dengan risiko sakit luar biasa atau menyerah pasrah untuk kemudian menanti saat-saat kematiannya tiba. Ketika memilih opsi mendapat kesempatan hidup lebih lama lagi (sekitar 30 tahun) elang harus berjuang dengan merasakan sakit luar biasa.

Ia harus mematuk-matukkan paruhnya ke batu yang keras agar paruh lamanya terlepas. Lalu setelah ia berdiam diri sambil menunggu paruh barunya tumbuh, ia mempergunakan paruh baru itu untuk menanggalkan cakarnya satu demi satu. Sang elang lantas menunggu kembali dalam waktu yang tak sebentar untuk menumbuhkan cakarnya yang kemudian akan digunakan untuk mencabuti bulunya. Dan ini sungguh sangat menyakitkan. Setelah perjuangan berat itu dilalui, elang pun memperoleh imbalannya: bisa terbang lagi dengan leluasa menelusuri angkasa.

Hal yang secara prinsip kurang lebih sama pun harus dilalui seekor ular. Ia harus puasa dari makan dalam waktu relatif lama untuk berganti kulit dengan yang baru. Ia harus mengendalikan nafsunya seperti halnya manusia berjam-jam harus tahan dari makan dan minum.

Berkaca pada apa yang dilakukan elang dan ular tadi untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, maka kita pun perlu berakit-rakit ke hulu dan berenang ke tepian. Kita perlu bersakit-sakit dahulu untuk kemudian berbahagia. Dan pulau yang dijanjikan sebagai tujuan di hulu dan di tepian memang jadi bayaran setimpal bagi yang mau melangkah mengibarkan bendera perjuangan untuk mendapatkannya.

Bersama rintik hujan yang turun mendekati tengah malam (saat tulisan ini mulai dirancang) kenangan—meminjam sebagian puisi Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini—memasukiku sebagai angin. Ia membuat hawa menjadi dingin dan memunculkan angan dan ingin. Kenangan yang saya maksud yakni tentang pengalaman Ramadhan masa kecil saya di kampung. Di salah satu sudut kecamatan di kabupaten Tasikmalaya.

Dulu, di rentang SD hingga MTs., Ramadhan selalu identik dengan buku catatan amal yang diberikan sekolah. Untuk saat SD diintruksikan oleh Guru Agama, yang sebenarnya adalah Mamah saya sendiri. Kalau untuk MTs., saya lupa lagi dikoordinir oleh siapa. Berbagai amalan Ramadhan dilaporkan perkembangannya di buku tipis itu, yang bahkan menjelang akhir puasa begitu lecek karena dibawa kemana-mana. Ini khusus untuk anak laki-laki biasanya. Anak perempuan mahbeda, mereka suka apik, bukunya dibungkus pakai sampul plastik.

Isi buku harian selama bulan Ramadhan ini adalah tentang ceklis shalat 5 waktu (berjama’ah/munfarid), puasa (tamat/tidak beserta kolom alasan kalau misal tidak tamat), isian materi kultum (biasanya sebelum tarawih), catatan kosong untuk kuliah subuh, dan tak lupa tabel tentang shalat tarawih yang dipenghujung shalat biasanya anak-anak mengganti untuk minta tanda tangan imam sebagai bukti telah turut serta.

Ketika para orang tua (bagi anak-anak SD awal-awal) sudah bersiap pulang, anak-anak mereka ngariung mengantri untuk minta tanda tangan sang imam. Imam tarawih mendadak jadi artis yang tanda tangannya begitu berarti. Pemandangan yang sudah lama tak saya lihat lagi, namun beruntung masih bisa saya kenang.

Hal menarik tentang shalat tarawih, ketika saya masih SD sekitar kelas 1-4 biasanya saya dan teman-teman suka mencuri kesempatan untuk sesekali tak mengikuti shalat beberapa rakaat. Alasannya sederhana, capek. Padahal kita tidak lari-lari. Bermain beberapa jam juga padahal jarang tuh kita merasa lelah. Ah, capek di sini barangkali kata lain dari ngantuk karena jenuh. Bayangkan, kami (waktu itu) tak mengetahui alasan kenapa harus shalat dengan rakaat sebanyak itu? Sekarang mah insya Allah sudah tidak seperti itu lagi.

Dan saya pribadi beruntung bisa mengalami masa kecil tentang keberagamaan yang cukup kental. Hal-hal yang dibiasakan—kalau tak berlebihan kita sebut pemaksaan—seperti shalat tarawih di masjid dan berpuasa (meskipun belum baligh) ketika bulan Ramadhan, mengaji tiap maghrib setelah sebelumnya sekolah agama juga (MDA), harus menghafal surat-surat pendek maupun panjang di Al-Qur’an beserta hadits dan do’a-do’a ternyata manfaatnya terasa sekali saat ini. Kenangan masa lalu itu sedikit banyak membentuk saya yang sekarang.

Saya tak bisa bayangkan jika dulu oleh orang tua tak diajari membaca Al-Qur’an, tak dimarahi ketika malas mengaji ke masjid, tak di utuh-etah buat cepat-cepat berangkat shalat Jum’at dan jangan dinanti-nanti, mungkin saya akan tak acuh dengan ritual-ritual ibadah itu hari ini.

Saya jadi berpikir ulang tentang metode pembiasaan dalam pendidikan yang terkesan dipaksakan itu. Selama itu baik, misalnya yang saya sebutkan tadi ketika saya masih kecil, ya sudah terima saja. Suatu saat nanti juga kita bakal paham apa maksud orang tua atau guru-guru kita itu. Meski mempertanyakan tentang metode ini pun tak salah. Pertanyaan-pertanyaan di kepala harus terus disirami agar tetap tumbuh subur. Namun tetap, menurut saya metode ini sangat baik dan masih tetap relevan untuk diterapkan.

Saya jadi turut berduka dengan teman-teman yang tak tersentuh pengalaman masa kecil terkait sekolah agama, mengaji di masjid dan mushala, dan turut serta dalam pendidikan keagamaan lainnya karena berbagai sebab. Salah satunya barangkali karena ketaktahuan dan ketakpedulian orang tua mereka akan pendidikan agama ini sehingga menganggap biasa saja jika anaknya tak belajar mengaji dan aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Boleh jadi memang orang tuanya pun sewaktu kecil diperlakukan serupa oleh orang tua mereka. Ah, ini barangkali dosa turunan. Harus diputus segera.

Kalau dulu sewaktu kita anak-anak kita begitu antusias untuk selalu menuliskan apa yang kita kerjakan di bulan Ramadhan serta saling berlomba-lomba memperbagus isi bukunya, apakah saat ini kita pun melakukannya? Waktu masih imut-imut dulu kita tak rida jika tabel isian shalat 5 waktu kita lebih banyak munfaridnya ketimbang teman-teman lain. Lantas apakah rasa tidak rida itu hadir saat ini ketika atas nama malas dan kesibukan kita melalaikan peluang shalat berjama’ah di masjid?

Saat dulu kita begitu iri melihat jumlah ayat dan halaman Al-Qur’an yang telah dibaca teman kita sudah jauh. Ketika itu, kita malu kalau ada satu saja puasa yang batal bahkan karena alasan sakit. Lalu apakah sekarang rasa malu itu masih tertanam di hati-hati kita saat puasa kita tak bertahan sampai waktu berbuka?

Saat kecil dulu, kita tak rela kalau catatan kuliah subuh kita tak lebih baik dan rapi ketimbang catatan teman. Apakah saat ini kita masih antusias mencatat ceramah para ustadz baik menjelang tarawih, setelah shalat subuh, atau waktu mengikuti kajian-kajian menjelang buka puasa?

Masa lalu memang bukan masa sekarang. Masa sekarang ya masa sekarang  yang tentu akan beda dengan masa silam. Namun apabila ada penurunan kualitas antara dulu dan hari ini apakah itu wajar bila disikapi biasa saja? Sayang sekali ya. Di saat semakin beranjaknya kita ke usia tua, semestinya kedewasaan kian meningkat, ghirah mendekatkan diri kepada Allah makin menguat. Kenyataannya semangat kita makin melempem kayak kerupuk disiram kuah sayur waktu makan sahur.  

Kita barangkali berharap bahwa kenangan masa kecil tentang euphoriaRamadhan tetap hadir di bingkai memori kita di masa sekarang. Memberikan kesan bahwa kita pernah begitu bergairah menyambut dan memakmurkan bulan ini.

Kita selayaknya berterimakasih kepada Allah atas kemampuan mengingat kejadian-kejadian menyenangkan dan menenangkan di masa yang telah terlewat. Tanpanya, kita tak bisa sesekali menengok ke belakang untuk menertawakan masa-masa konyol itu sembari juga mengambil banyak pelajaran berharga darinya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 29 Mei 2017

sumber gambar: Kompasiana

Advertisements
Ramadhan #3: Saat Kita Masih Kecil Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s