Ramadhan #2: Menyelami Lautan Makna

blue-water-1866976_1920.jpg

Hari pertama puasa kemarin saya hampir terancam tak makan sahur. Alarm di smartphone sebenarnya sudah saya set di pukul 03.20-an, do’a pun sudah dipanjatkan semoga dibangunkan pada waktunya sahur, juga minta tolong ke kakak kelas yang juga satu kosan untuk mengetok pintu atau kaca jendela agar saya bisa bangun. Tapi sebagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya butuh dibangunkan secara langsung lewat ditepuk atau disentuh. Mengandalkan bunyi alarm saja kadang saya tak ingat. Karena tidurnya sering larut juga sih penyebabnya. Jadi ngantuknya suka enggak ketulungan.

Saat ini saya memang sendirian saja di kontrakan berisi 2 kamar. Ogie (teman kontrakan saya) sudah wisuda duluan dan tak ada alasan lagi untuk tinggal berlama-lama di Bandung karena diminta orang tuanya untuk pulang ke Lampung. Saya kembali sendiri. Kalau ada dia, saya bisa minta tolong untuk dibangunkan karena setahu saya Ogie lebih sensitif ketimbang saya kalau urusan terdistraksi suara-suara yang membuat tidurnya tak nyenyak.

Alhamdulillah, Allah membangunkan saya lewat undangan sahur bareng dari ibu kos yang memasak untuk seluruh penghuni kosan yang hanya beberapa orang saja dan laki-laki semua. Bapak kos mengetuk pintu rumah beberapa kali sampai akhirnya saya terbangun. Seingat saya, alarm saat saya bangun pun belum berbunyi.

Saya mendengar ajakannya untuk makan sahur di rumahnya saja (letaknya persis di samping kontrakan saya, hanya dipisah satu daun pintu yang ditutup permanen). Saya tak langsung mengikuti intruksinya sampai akhirnya bapak kos mengulangi sekali lagi tawarannya.

Saya pun luluh, tidak bisa menolak. Meskipun dalam hati memang sangat ingin, tapi gengsi juga sih awalnya mah. Padahal saya pun tak tahu pasti apakah warung nasi di sekitar kontrakan ada yang buka karena mahasiswanya pada pulang kampung untuk munggahan. Rezeki memang sudah diatur. Ini salah satu bukti itu. Dan tololnya, saya sering sekali mengkhawatirkan apa yang sudah dijanjikan oleh-Nya.

Kami, para penghuni kosan, ada sekitar 4 orang beserta bapak-ibu kos serta 2 anak dan 1 menantu serta anaknya pun menyantap nasi dengan lauknya. Menunya orek kentang, sayur ayam plus tahu pake kuah santan, dan kerupuk. Lalu disediakan pula air putih hangat. Saya ingat, ternyata ayam yang dicabuti bulunya oleh bapak kos di siang hari saat saya menjemur pakaian itu ternyata memang untuk makan sahur nantinya. Ayamnya ayam kampung. Favorit saya pisan karena dagingnya lebih gurih ketimbang ayam yang biasa dijual di pasar.

Kami tenggelam dalam kekhusyukan memakan rezeki di pagi hari itu. Setidaknya kebersamaan bersama keluarga ibu kos dan penghuni lainnya mengobati sedikit rindu saya pada makan sahur bersama keluarga di rumah. Biasanya saat di rumah saya tinggal makan saja tak mesti cari-cari makan sahur ke warung-warung nasi. Menu yang hampir ada setiap hari adalah masakan berkuah. Kami biasanya makan sambil menonton tayangan televisi khas Ramadhan seperti Para Pencari Tuhan, acara kompetisi dakwah dan hal-hal semacamnya yang hanya ada di bulan mulia ini.

Selepas beres menyiapkan makanan buat para penghuni rumah, mamah biasanya makan lebih dulu. Saya, adik, dan teteh kadang suka sulit bangun. Setelah bangun biasanya kami cuci muka dulu sambil kalau kebelet sekalian buang air kecil. Nah, kalau bapak sebelum sahur biasanya tahajud dulu sampai mendekati saat-saat injury time ke imsak sekitar 10-15 menit. Dan memang begitu kan sunnahnya, mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan buka puasa.

Bapak sangat istiqomah melakukannya di tiap kali Ramadhan tiba. Kalau bapak sedang anteng-antengnya kadang-kadang mamah bilang sambil agak menggerutu, “Pak….imsyak yeuh sakedap deui. Enggalan!” Bapak mengajak dengan teladan yang beliau lakukan.

Dengan konsistensinya, tentu shalat malam saat waktu sahur lalu mengakhirkan makan sahur itu menjadi menginspirasi anak-anaknya untuk ikut melakukan juga. Hal yang sampai saat ini belum bisa saya lakukan secara sempurna sebenarnya. Apalagi mengakhirkan sahur. Saya suka ingin leluasa tidak terlalu terburu-buru dengan habisnya waktu makan dan minum sebelum akhirnya menahan diri dari semuanya itu.

Setelah merasa cukup bermesraan sama Allah, bapak pun sahur juga. Kadang-kadang makan di meja makan ditemani mamah, dan sesekali juga nimbrung bersama anak-anaknya di depan televisi. Begitulah tradisi puasa di keluarga saya. Sederhana tapi ada kehangatan di dalamnya. Itu untuk makan sahur saja. Untuk budaya saat berbuka dan lainnya, semoga bisa saya ceritakan di jurnal berikutnya. Harus diceritakan secara terpisah biar menggambarkan keadaannya.

Setelah selesai makan, kami menghaturkan terimakasih kepada bapak-ibu kos atas jamuan sahurnya. Mudah-mudahan kebaikan ini menjadi jalan terbukanya rida Allah atas keluarga kalian. Lumayan kan bisa menghemat uang untuk sekali makan dan bisa dialokasikan untuk keperluan lain. Kuota misalnya, he. Apa yang dilakukan oleh ibu dan bapak kos ini diam-diam saya jadikan referensi ketika nanti misalnya saya punya kos-kosan, saya pun ingin melakukan hal serupa. Menjadi jalan kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Terimakasih pak-bu sudah menginspirasi saya.

Puasa selain secara simpel adalah menahan diri dari makan dan minum serta semua hal yang membatalkannya juga hendaknya menjadikan kita mampu menyelami maknanya lebih mendalam. Bila dihayati secara serius puasa mengajarkan empati, puasa mampu melatih kita untuk jadi manusia peka, puasa ajang berbagi lebih banyak lagi, puasa ajang  mengelola emosi agar tak terlalu meluap-luap seperti sebelumnya, dan banyak lagi nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya.

Setidaknya itu hikmah-hikmah ibadah puasa yang bisa saya ingat dari khutbah iedul fitri, dari kajian-kajian menjelang puasa, dari ceramah sebelum shalat tarawih, dari artikel-artikel yang tersebar dari internet, dari petuah para dosen di kampus dan lain-lain. Awalnya saya hanya menjalani puasa dengan pemahaman terbatas yang minim dengan penghayatan dalam melakukannya hanya karena ikut-ikutan saja. Seiring usia yang menua, pemahaman yang kian bertambah, pemaknaan terhadap ibadah yang Allah sendiri yang akan tahu ganjarannya ini jadi meluas pula.

Kita tentu tak ingin kualitas puasa kita dari tahun ke tahun itu-itu saja. Rugi dong. Kita selalu menginginkan agar puasa kita berdampak terhadap keseharian hidup di luar bulan diwajibkannya. Kita mengangankan tentang perkataan “hei, jangan bicara buruk, ini lagi puasa! Hei jangan melihat yang tidak-tidak, nanti pahala puasanya enggak ada! Hei jangan ngomongin orang, kita lagi puasa lho!” menjadi tameng di bulan-bulan selain Ramadhan. Kita sangat berpeluang besar mendapatkan karakter unggul itu. Dengan catatan tentu mau berusaha ekstra keras dan sungguh-sungguh.

Mudah-mudahan kita selalu dibimbing Allah untuk mampu mengambil hikmah dan pembelajaran dari satu peristiwa, ibadah, apa-apa yang kita lakukan, dan hal-hal yang menimpa kita. Mudah-mudahan kita memiliki kemampuan untuk menyelam ke dasar-dasar segala sesuatu untuk mengambil mutiara makna darinya. Dari Ramadhan yang kita tak pernah tahu di Ramadhan berikutnya kita akan menjadi bagiannya atau tidak, pembelajaran itu super melimpah, makna tersebar di mana-mana. Masa tidak kabita?

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 28 Mei 2017/  2 Ramadhan 1438H

sumber gambar: Pixabay.com

Advertisements
Ramadhan #2: Menyelami Lautan Makna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s