Ramadhan #11: Sandal yang Ter(Di)tukar

P_20170606_165847.jpg

Hal ini berulang kali saya alami setelahnya salat di masjid. Sandal yang dipakai untuk berangkat menuju masjid jadi berganti rupa tak seperti sebelumnya. Jumlah tepatnya saya tak serajin itu menghitung sudah berapa kali sandal jepit saya tertukar–atau barangkali sebagiannya sengaja ditukar.

Barusan sekali—ketika jurnal ini mulai ditulis—habis salat ashar, ketika saya keluar dan akan mengenakan lembali sandal jepit swallow berwarna jepit biru ternyata dia tak ada di tempatnya. Sudah dapat ditebak, jama’ah lain memakainya atau barangkali ada orang lain yang iseng. Saya tak tahu pasti.

Di sana, pada jarak sekitar 1 meter ada sandal sun swallow berjepit biru juga terparkir rapi. Mungkin tertukar, pikir saya, atau seperti biasa, ditukar dengan sengaja. Apakah saya jengkel? Tentu iya. Tapi sama sekali sikap itu tak akan membuat sandal saya kembali pada tempat asalnya.

Setelah menimbang, berpikir beberapa saat, saya memakai sandal yang tersedia itu. Pada beberapa kesempatan, ketika saya mendapati sandal saya tak ada di posisi awalnya (dan itu selalu di masjid), saya pulang dengan nyeker saja karena takut kalau sandal yang mau saya pakai ternyata masih ada pemiliknya di dalam masjid.

Pernah juga setelah saya mengikuti kajian ma’rifatullah di DT, sandal saya raib. Akhirnya, daripada nyeker, saya memakai sandal berwarna serupa dan berposisi di dekat tempat sandal saya semula.

Setibanya di kontrakan, saya meminjam sandal teman dulu untuk secepatnya mengembalikan sandal yang saya pakai ke tempatnya. Lagian tidak enak memakai sandal orang meskipun nyatanya itu menjadi pengganti sandal kita walau sandalnya lebih bagus. Tapi sialnya, sepengalaman saya, sandalnya selalu lebih tidak baik dari sandal saya sebelumnya.

Saya heran heran dengan isi kepala orang-orang yang tiis saja ketika sandalnya tertukar atau dengan dilandasi kesengajaan memasukan kakinya sendiri ke sandal orang lain padahal letak sandal dan tampilannya pun jelas-jelas berbeda. Saya jadi menduga-duga perihal kejadian sering tertukarnya sandal, terutama di masjid ini.

Ada setidaknya dua kemungkinan yang terpikir di pikiran saya mengani perilaku sebagian jama’ah masjid yang sandalnya tertukar—sudut pandang pelaku. Pertama, kemungkinannya yang mengambil adalah jama’ah berusia lanjut sehingga sulit membedakan penampilan sandalnya secara detail. Hanya sekilas melihat dari warnanya saja. Untuk kemungkinan pertama ini saya bisa memakluminya. Fungsi pandangan yang menyusut seiring bertambahnya usia sudah semestinya dipahami bersama.

Kemungkinan kedua adalah non jama’ah berusia senja yang memang dengan sengaja menukarkan sandalnya dengan sandal kita yang relatif masih bagus tanpa harus bersusah payah merogoh uang dari sakunya. Untuk kemungkinan kedua ini tak bisa ditoleransi lagi. Ini masalah mental yang bobrok.

Malu kita sebagai umat islam kalau banyak oknum pemeluknya yang bermental semacam ini. Dalam kesempitan memanfaatkan kesempatan. Mental tikus seperti ini jika dibiarkan bukan tak mungkin akan merongrong citra umat islam sendiri. Hari ini hanya mencuri sepasang sandal, besok-besok tak ada yang tahu uang rakyat yang digondol. Mungkin-mungkin saja. Perilaku seperti ini harus diberangus. Bagaimana caranya? Saya juga tidak tahu.

Saya juga selalu berpikir tentang apakah sang pengambil sandal (dengan disengaja) memikirkan perasaan pemiliknya. Kalau sama sekali tidak, dan justru merasa diuntungkan, kemungkinan besar yang bersangkutan sudah bebal hatinya saking seringnya melakukan praktik menjarah sandal orang lain. Bukankah kejahatan/keburukan yang dilakukan terus menerus akan terlihat seolah biasa-biasa saja?

Kejadian tertukar sandal di masjid saya kira lazim menimpa banyak orang. Cerita saya hanya sepersekian kecil dari semesta sandal tertukar yang terjadi di sekitar sekitar kita. Sandal yang seharga 11-12-ribuan saja banyak orang yang menginginkan, jangan tanya perihal sandal dengan merk ternama yang harganya juga tidak murah. Itu mah bukan ditukar, tapi diakui sebagai hak milik sendiri. Jika ditukar berarti ada penggantinya meskipun jelek, sementara diambil, ya membuat kita sama sekali tak ada pilihan lain selain harus pulang ke rumah tanpa alas kaki. Kejam sekali.

Saking seringnya sandal Eiger saya hilang dan rata-rata di masjid, saya sampai takut untuk mengabarkannya ke mamah untuk minta dibelikan yang baru. Mamah soalnya suka wanti-wanti untuk berhati-hati menyimpan sandal. Atau kalau ke masjid mah mendingan pakai sandal jepit saja. Rawan. Nasihat yang berdasarkan pengalaman itu memang tak salah. Saya yang kadang-kadang suka mencari-cari alasan untuk tak menurutinya. Kalau sudah kejadian saja, baru deh tahu rasa sendiri. Nyelekit pisan.

Kita mah jangan deh menganggap barang orang lain seperti barang sendiri, enggak baik kalau tak kita sebut sebagai perbuatan jahat. Barang dalam definisi apa pun. Kalau mau pakai, ya izin dulu sama pemiliknya. Jiwa-jiwa korup harus dipangkas sejak hendak tumbuh. Biar orang mah melakukan, kita jangan kabita. Kabita itu harusnya pada hal-hal baik, itu baru baik. Selamat berlatih melawan benih-benih perbuatan tercela sedari muda.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 6 Juni 2017/ 11 Ramadhan 1438 H

Advertisements
Ramadhan #11: Sandal yang Ter(Di)tukar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s