Ramadhan #10: Belajar Tawadu

20140304-kh-mustofa-bisri-atau-gus-mus.jpg

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”
Samson tersipu – sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi – rapi”
david coverfil dan rudini bersembunyi “rendah diri”
entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya

amplop – amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur
Hal – hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal – hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus

Amplop – amplop menguasai penguasa
dan mengendalikan orang – orang biasa
amplop – amplop membeberkan dan menyembunyikan
mencairkan dan membekukan
mengganjal dan melicinkan
Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati
Di negri amplop, amplop – amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja

Di Negeri Amplop, K.H. Mushtofa Bisri

Kalaulah seorang Gus Mus pada suatu acara bertajuk Membaca Indonesiaketika membacakan beberapa puisi menamakan puisinya sebagai puisi balsam, bahkan juga menyebutnya dengan syair-syairan dari penyair-penyairan, maka tulisan-tulisan saya meskipun bukan hanya puisi pantasnya disebut apa ya? Tulisan kayu putih? Yang hanya terasa pengaruhnya berupa panas secara singkat sekali. Atau tulisan apa?

Asbabul kalam Gus Mus bilang bahwa puisinya puisi balsam karena efeknya hanya ketika itu saja, dalam waktu relatif sebentar, orang yang membaca atau mengetahui isi puisi itu akan kembali seperti semula. Pengaruhnya tidak long term. Beda katanya dengan puisi dari penyair lainnya: Sitok Srengenge dan Timur Sinar Suprabana.

Berikut saya kutipkan perkataan aslinya: “Kalau dalam dunia akademisi, Timor, Sitok itu dokter. Saya mungkin dukun atau apa gitu. Mereka berdua bikin resep untuk ditukarkan di apotik. Saya bisa beli di kaki lima. Puisi-puisi saya namakan puisi balsam. Anda senang sekali, merasa tercerahkan sebentar, nanti pening lagi.”

Puisi yang saya maksud berjudul Negeriku,Negeri Haha Hihi, Di Negeri Amplop dan lainya bisa ditonton di youtube. Pada malam puisi Bandung bulan kemarin, salah satu puisi yang saya bacakan adalah puisi Negeri Amplop karya Gus Mus itu. Kenapa saya bawakan? Karena saya mengapresiasi karya beliau selain juga sangat menyukai puisi itu.

Puisi Gus Mus meskipun sederhana menurutnya, aduhai sungguh mengena sekali bagi saya. Puisi yang ditulisnya saya rasa berasal dari kecintaan luar biasa sang Gus terhadap Indonesia. Puisi itu bukan untuk gaya-gayaan sebagaimana lazimnya anak muda yang baru mengenal puisi saat ini (termasuk juga saya) melainkan ekspresi rasa memiliki yang sungguh dalam kepada negeri tempat lahir dan kelak juga mungkin dikuburkan.Sangat direkomendasikan untuk menonton video pembacaan puisi Gus Mus yang saya maksud. Nanti bisa buktikan sendiri apa yang saya rasakan setelah melihatnya.

Ini tentang soal kerendahan hati dari sang sahabat dekat pak Quraish Shihab ini. Saya sangat mengagumi beliau. Nasihat-nasihatnya mendamaikan alih-alih kian memperkeruh konflik yang awalnya memang sudah menyala. Barangkali ketawaduan dalam dirinya lahir dari iman dan ilmu yang dimiliki beliau, seorang Kyai yang juga pegiat sastra dari pesantren ini.

Ah, saya sangat menyukai sastra khas pesantren yang selain Gus Mus salah satu tokohnya, ada juga Zawawi Imron asli Madura dan Acep Zamzam Noor dari PonPes Cipasung Tasikmalaya, putra almarhum K.H. Ilyas Ruhiyat. Dan saya kira masih sangat banyak di luar sana. Hanya saja belum tahu saja karena jelajah bacaan yang masih sangat terbatas.

Puisi berjudul Cipasung yang saya dengar pertama kali dari video dokumenter wafatnya almarhum pak Ilyas yang dijadikan backsound dari CD yang teteh saya bawa dari pesantrennya sungguh membekas sampai saat ini. Puisi ini maknanya sungguh dalam. Oh iya, Teteh saya alumnus ponpes Cipasung, Singaparna. Waktu itu saya masih MTs. Dulu mah enggak ngerti apa isi puisi itu. Sekarang sudah mulai paham.

Seorang Gus Mus yang sudah begitu banyak karya tulisannya sangat tawadu dengan menyebut puisinya biasa saja. Saya jadi malu sekali sebagai penulis yang baru merangkak belajar tentangnya terkadang bersikap arogan seolah penulis legendaris saja. Padahal satu buku karya sendiri pun sebagai penulisnya belum punya.

Pernyataan yang disampaikan Gus Mus dalam video itu sungguh membuat saya memikirkan ulang tentang apa-apa yang telah saya perbuat kaitannya dengan tulisan-tulisan super acak-acakan yang saya buat. Namun, di lain sisi, sisi lain diri saya bilang kalau dalam berkarya itu semua orang berproses, termasuk diri saya sendiri. Saya jadi cukup tenang. Dulu juga ketika awal-awal proses kreatif Gus Mus saat muda mungkin merasakan apa yang saya rasakan sekarang.

Tidak hanya Gus Mus, dari Kyai-kyai lainnya kita semua bisa belajar banyak tentang kelapangan jiwa dan kerendahan hati. Jarang para penerus para nabi itu menunjukan keakuan mereka padahal penguasaan ilmu mereka sungguh luas. Beda halnya dengan sementara orang-orang saat ini yang baru tahu sedikit, bacotnya sudah ke mana-mana menunjukan kalau yang bersangkutan seolah tahu segalanya. Duh, semoga kita mah enggak tergolong ke dalam barisan mereka ya. Mirip seperti pepatah tong kosong nyaring bunyinya.

Mari kita terus belajar meningkatkan kapasitas keilmuan dan kualitas karya—tulisan salah satunya! Namun jangan lupa juga belajar menata hati agar tak lekas jumawa. Arogansi memang nampaknya begitu nikmat adanya, tapi sesungguhnya hal itu adalah candu yang dapat meracuni hati dan diri kita sendiri. Nikmatnya hanya sementara, celakanya sungguh lama luar biasa. Mari kembali dan terus menerus belajar berendah hati!

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 5 Juni 2017/ 10 Ramadhan 1438 H

sumber gambar: wartakota.tribunnews.com

Advertisements
Ramadhan #10: Belajar Tawadu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s