Membebaskan Diri dari Writer’s Block

MEMBEBASKAN DIRI DARI WRITER’S BLOCK.jpg

Salah satu permasalahan klasik yang menjangkiti penulis (lebih cocok sih penulis pemula) adalah bingung mau nulis apa lagi. Draf tulisan tak kunjung rampung karena tak punya ide kelanjutannya mau seperti apa hingga tulisan utuh tak kunjung lahiran. Ketika itu ide-ide baru yang berjatuhan dari langit-langit kamar rumah/kosan/kontrakan seolah-seolah nampak begitu menggiurkan untuk diakrabi. Lingkaran berupa linglung seperti yang terjadi pada naskah sebelumnya pun kembali terulang. Begitu terus tak berkesudahan. Dalam istilah kepenulisan hal ini lazim disebut writer’s block atau simpelnya kepala kita blank, kosong melompong alias mati gaya tak tahu lagi akan menulis apa.

Tak usah khawatir, kebingungan dalam melanjutkan tulisan agaknya tak menyerang satu orang saja (kamu) tapi juga datang menghampiri orang-orang yang semangatnya menulis kurang kokoh. Saya sendiri di awal-awal belajar menulis sangat sering mengalami hal ini (sekarang juga sebenarnya masih sih).

Hanya saja istilah writer’s block sayangnya kadang-kadang dijadikan tameng bagi sebagian orang untuk ngeles, dan memberi legitimasi untuk tidak menulis. Ketika misalnya ada yang bertanya, “sudah sampai mana tulisannya?” Yang bersangkutan biasanya menjawab dengan enaknya, “Duh lagi writer’s block euy. Bingung.” Padahal mah jujur saya bilang kalau lagi malas. Tapi memang manusia pada dasarnya memiliki mekanisme pertahanan diri ketika merasa terserang. Hati-hati ah, jangan sampai berkepanjangan bersembunyi di balik istilah yang seolah keren “writer’s block”. Merugikan sekali.

Untuk membebaskan diri dari belenggu problem menulis satu ini ada beberapa tips yang bisa diikuti. Pertama, memperbanyak referensi. Kedua, membuat outlinetulisan. Ketiga, rajin berlatih.

Memperbanyak Referensi

Sebenarnya satu-satunya cara agar proses menekuni aktivitas menulis secara totalitas ya dengan banyak memasukan informasi ke dalam kepala. Akan sangat omong kosong kalau kita menyatakan diri sebagai seorang penulis atau orang yang ingin menjadi penulis kalau membaca sebagai kerja utamanya tak dibiasakan.

Pada suatu kesempatan, seorang serpenis besar Seno Gumira Ajidarma bertanya kepada para peserta pelatihan menulis yang beliau sebagai pematerinya tentang seberapa banyak buku yang telah dibaca. Om Seno mengatakan “urungkan saja niat menjadi penulis kalau kalian tak suka membaca.”

Awalnya saya tak menerima pernyataan itu karena memang saya tak terlalu gila-gila amat dengan membaca (tapi berkeinginan untuk menjadi penulis). Ya, saya sakit hati mendengarnya. Tapi, setelah saya memikirkan ulang pertanyaan itu, ternyata apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Itu adalah teknik memotivasi dengan cara menyasar kemampuan mental kita merespon serangan yang dilayangkan. Apakah akan ngedown atau justru jadi terpacu untuk berikhtiar secara maksimal untuk membuat kualitas tulisan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Bila kita berorientasi pada memberikan sesuatu yang maksimal bagi para pembaca tulisan-tulisan kita maka tamparan dari perkataan tersebut merupakan ajakan untuk berkarya dengan tak setengah-setengah. Kasihan sekali pembaca kita jika diberi tulisan yang tak ada isinya, tak manfaatnya, atau dalam tulisannya tak ada hal-hal baru yang bisa diserap sebagai ilmu. Saya kira, semua penulis-penulis besar tak akan lahir dari rahim kemalasan membaca. Namun mereka mampu menelurkan buku-buku berkelas karena begitu dekat dengan buku-buku, menelaahnya tak cukup sekali saja, dan maksimal dalm mencerna setiap ilmu yang terdapat dalam buku-buku tersebut. So, ayo mulai melakukan PDKT dengan cara membaca buku.

Selain membaca buku, memperbanyak input informasi sebagai data untuk tulisan yang kita buat bisa ditempuh dengan beberapa hal yang menyenangkan. Misalnya menonton film, jalan-jalan santai untuk menangkap peristiwa-peristiwa yang meaningfull, hingga mengobrol dengan beberapa pihak yang berkaitan dengan tema tulisan yang hendak kita buat (wawancara). Melalui aktivitas-aktivitas itu bank ide di kepala kita akan mengembang dan menampung sebanyak mungkin hal-hal menarik untuk dijadikan bahan tulisan.

Saya kira, bila kita banyak piknik dalam arti yang lebih luas (pergi ke lautan ilmu di buku-buku, melenturkan otot kepekaan terhadap kejadian di sekitar kita) maka hantu menyeramkan bernama writer block akan enyah dari hadapan kita. Selanjutnya menulis akan menjadi sangat menyenangkan alih-alih membosankan.

Membuat Outline

Untuk tulisan relatif singkat maupun menulis dalam bentuk yang panjang (buku misalnya) outline akan memberikan kemudahan tersendiri bagi penulisnya. Outline ini memberikan arahan-arahan tentang apa yang akan dituliskan. Bahkan jika dalam satu bahasan kita mentok, dengan mudah problem ini bisa disiati. Kita bisa lanjut ke bahasan berikutnya sesuai yang tertera di outline yang kita buat.

Bisa jadi kebuntuan dalam menulis terjadi karena kita terlalu mengandalkan kemampuan otak untuk menuliskan apa yang diingat saja. Padahal, sebagaimana kita ketahui, manusia itu gudangnya pelupa. Tadi ingat, beberapa saat lagi diserang bingung tentang yang sebelumnya dipikirkan. Bagi penulis yang jam terbangnya tinggi barangkali sah-sah saja tak perlu membuat outline karena mereka sudah begitu terbiasa. Nah, untuk kita yang baru memulai terjun ke dunia tulis-menulis barangkali bisa bertahap dengan membikin beberapa tools yang nantinya akan memudahkan proses menulis kita sendiri.

Rajin Berlatih

Menulis (kalau mau serius) harusnya memang dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terus konsisten. Bahkan kalau perlu, lakukanlah menulis ini seumur hidup kita. Jangan pernah merasa puas menulis hanya karena misalnya kita sudah mendapatkan sesuatu dari menulis. Menulis ya menulis. Hendaknya kita menulis karena kita menyenangi proses ini.

Mengharapkan sesuatu mungkin sebenarnya sah-sah saja asalkan jangan dijadikan motivasi utama. Hal ini seperti yang diungkapkan Lenang Manggala bahwa “aku menulis bukan semata-mata karena aku ingin menjadi penulis. Seperti halnya aku mencintaimu. Memang benar, cita-citaku adalah menjadi suamimu (yang mengecup keningmu, ketika kebetulan aku terbangun lebih dulu). Tapi tidak semata karena itu. Aku mencintaimu, karena aku ingin mencintaimu. Seperti itu.” Kita pun harus sampai di titik itu dalam hal menulis. Kita harus sampai di titik, aku menulis karena aku ingin dan butuh menulis.

Dengan keinginan kuat ingin terus menulis harusnya tak berhenti berlatih agar kualitas tulisannya kian meningkat dari hari ke hari menjadi sebuah kebutuhan. Tanpa merasa sedikit pun terpaksa. Berlatih adalah bagian dari kesungguhan berkarya, menghiasi dunia dengan kata-kata penuh makna.

Nah itu barangkali tips sederhana untuk menang dari kepungan writer’s block dalam menulis. Semoga memberikan sedikit pencerahan. Cocok nih buat yang akan membuat project menulis selama bulan Ramadhan. Selamat menulis. Semoga lancar project nya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 26 Mei 2017

sumber gambar: thestorytellingnonprofit.com

Advertisements
Membebaskan Diri dari Writer’s Block

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s