Syukur

kakek.jpg

“Fan, kamu mah cocoknya kuliah di jurusan yang mengurusi manusia. Guru misalnya,” kata Ibu suatu ketika di masjid pondok. Bilang seperti itu berarti saya memang sebentar lagi akan keluar dari pondok. Saya tak ingat kenapa pembicaraan itu bisa terjalin sehingga ibu memberikan saran pada saya. Apakah memang itu berangkat dari saya yang meminta nasihat, atau diawali dengan perbincangan yang lain. Tapi saya yakin kalau ibu selalu mendoakan saya dan juga santri-santri yang lain.

Ibu yang saya ceritakan di jurnal ini adalah sosok ustazah di pondok yang saya tulis di jurnal  sebelumnya. Selain guru di pondok, ibu adalah guru agama saya di SMA.

Waktu itu saya tak terlalu menjadikan kuliah di jurusan keguruan sebagai pilihan prioritas. Karena ada mimpi yang menggebu-gebu untuk kuliah di jurusan lain di kampus terkenal di negeri ini. Ternyata ibu melihat potensi itu di diri saya. Ibu mampu membaca karakter saya bahwa mengambil jurusan kuliah untuk kemudian bekerja yang cocok bagi saya adalah di bidang yang bukan berhadapan dengan benda-benda non manusia semisal jurusan teknik dan jurusan-jurusan yang sefrekuensi dengannya.  

Rekomendasi itu tak lantas membuat saya otomatis mengubah haluan untuk bisa menjadi bagian dari jurusan Ilmu Komputer UI. Mendekati dan pasca UN ketika ada orang-orang yang bertanya, “Fan lanjut ke mana?” saya selalu jawab, “Ilmu Komputer UI. Do’ain yah!” Selalu seperti itu jawaban saya.

Saya sama sekali tak terpikat untuk ikut teman-teman daftar di STAN meskipun ada iming-iming keuntungan yang begitu banyak: kuliah gratis dan bakal langsung dapat kerja. Atau misalnya memilih jurusan kedokteran dan jurusan-jurusan lain. Saya tak memiliki ketertarikan sama sekali. Selain cukup tahu diri kalau akan sangat mahal biaya yang diperlukan, kemampuan akademik saya pun tak cukup untuk memperjuangkannya. Terkesan pesimis memang. Dan dari sini saya belajar bahwa keinginan besar akan sangat berpengaruh terhadap motivasi untuk berusaha dalam memperjuangkannya.

Ketika itu saya sangat yakin saja untuk bisa menjadi bagian dari kampus dan jurusan saya semenjak kelas XI. Meskipun saat kelas XI pilihan kampusnya adalah UGM. Namun ketika ada sosialisasi dari kampus di Depok sana, saya pun berpindah ke lain hati. Saya begitu ingin memakai jaket kuning (jakun). Bisa dibilang saya sangat terobsesi. Sampai-sampai kebawa mimpi walau belum pernah sekali pun mengunjungi kampusnya.

Saya memiliki mimpi di masa depan yang begitu meninabobokan saya tatkala memilih jurusan dan kampus itu. Saya ingin menjadi seorang pendidik namun di tingkat perguruan tinggi. Ya, menjadi dosen bidang IT jebolan Fakultas Ilmu Komputer UI. Ketika SMA pun saya mengikuti ekstrakulikuler ICT yang membuat saya dekat dengan logika, biner, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Berkat ketergabungan saya di ekskul itu, saya jadi cukup unggul di mata pelajaran TIK di kelas. Karena dampak passion barangkali.

Oh, mohon maaf ya kalau tulisannya akan ke mana-mana dan tak tersusun secara sistematis. Saya hanya mengikuti alur pembicaraan di kepala. Tapi nanti bakal ketemu dengan sendirinya apa poin yang ingin saya sampaikan.

Saya begitu tergila-gila dengan bidang IT. Sampai-sampai menutup hati pada jurusan lainnya, termasuk jurusan keislaman meskipun semasa kecil saya ingin pula berkecimpung di dunia itu karena pengaruh kedua orang tua yang juga guru agama. Penyebab saya sangat menggandrungi IT adalah karena terinspirasi dengan guru TIK saya waktu MTs. Pak Andi namanya.

Beliau yang mengajari saya komputer sejak kelas 6 SD. Saya diprivatin sama beliau gitu ceritanya. Pak Andi mengajar dengan sebegitu kerennya dalam persepsi saya waktu saat itu. Sontak kererenannya menginspirasi saya untuk bisa menjadi seperti beliau di masa mendatang. Menjadi guru yang membuat murid-muridnya tergerak. Kesan itu membentuk konsep tersendiri di kepala saya bahwa guru ideal adalah yang seperti beliau. Kecintaan itu kian tumbuh mengakar hingga bertahan sampai di SMA.

Di kemudian hari saya mendapat pelajaran bahwa sosok guru yang keren akan sangat mempengaruhi seorang siswa yang diajarnya. Guru yang tak sekadar mengajarkan materi di kelas namun juga melakukannya dengan setulus hati maka ia tanpa sadar telah menghipnosis siswa untuk mengikuti jejaknya bahkan tanpa diminta. Niat itu timbul dengan sendirinya dari hati siswa yang bersangkutan. Ketulusan dan kejujuran itu merambat lewat udara dan dideteksi dengan baik oleh hati. Saya ingin jadi sosok guru yang seperti itu. Karena memang sekarang saya sedang berproses menjadi seorang guru. Saya ingin dikenang oleh murid-murid saya.

Namun ternyata mimpi yang besar itu tak diikuti dengan usaha keras dari saya untuk mewujudkannya. Do’a yang saya minta dari orang-orang tak diterjemahkan ke dalam kerja nyata untuk belajar menaklukan soal-soal sebagai tiket masuknya. Hasil SNMPTN undangan tak membuat saya lantas berbahagia. Jawabannya begitu mengecewakan.

Saya mengenal kata frustasi sejak saat itu. Diperparah kegagalan kedua pun kembali datang. SNMPTN tulis menyatakan kalau saya belum berhasil. Saya menelan kepahitan untuk yang kedua kalinya. Bahkan saya sempat tak mau berkuliah. Barangkali mimpi yang tinggi harus diimbangi dengan prasangka baik pada ketentuan Allah. Itu akan mengurangi sakit akibat hati yang patah dan deraan kecewa.

Tak berhenti sampai di sana, kepahitan harus saya rasakan kembali untuk menyeriusi dunia IT. Bahkan saya sempat dibutakan dengan keinginan hingga sempat berpikir, tak apa bukan UI juga, yang penting jurusannya adalah bidang IT. UNSOED lah harapan saya. Setelah 2 kali mencoba di tahun yang sama, jawabannya tetap saja penolakan. Dan ditolak itu memang menyesakkan dada, kawan-kawan.

Saya masih penasaran dengan UI dan Ilmu Komputernya. Setahun di D3 Perencanaan Sumber Daya Lahan tak lantas membuat api mimpi menjadi bagian darinya mati. Setahun itu saya jadikan waktu penantian untuk mencoba kembali peruntungan ikut seleksi untuk masuk UI. Kesalahan di tahun sebelumnya tak saya jadikan pelajaran berharga ternyata.

Cita-cita saya jadi mahasiswa UI hanya wacana. Saya tak berlatih mengerjakan soal-soal SNMPTN tulis. Wajar jika saya kembali tak diterima. Pun dengan SIMAK UI. Bahkan saya sama sekali tak berkenalan dengan jenis-jenis soalnya sama sekali. Lalu Seleksi Mandiri UPI menyelamatkan saya.

Mimpi masa kecil untuk berkecimpung dalam ilmu-ilmu keislaman ternyata Allah jadikan jawaban atas do’a-do’a saya, dan juga do’a orang tua sepertinya. Atau bisa jadi bapak dan mamah secara diam-diam memang ingin anak keduanya melanjutkan perjalanan dakwah mereka. Fix, saya menjadi masasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam Kampus Bumi Siliwangi. Menjadi seorang calon pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Pembacaan Ibu tentang potensi di diri saya, cita-cita masa kecil saya, dan harapan diam-diam mamah dan bapak serta tentu rencana terbaik dari Allah kini membuat seorang Irfan menjadi saat ini. Seseorang yang diamanahi mengajarkan ilmu-ilmu-Nya. Sebuah pekerjaan yang beratnya sungguh luar biasa. Namun di sisi lain juga seperti disebutkan oleh dosen favorit sekaligus kaprodi saya, pak Aam, menjadi mahasiswa IPAI adalah pilihan terbaik dari Allah. Nasihat ini cukup membesarkan hati saya untuk tak berpaling ke hati yang lain lagi.

Percaya pada mimpi sendiri, pada rencana-rencana yang dibuat sedemikian rupa, pada usaha-usaha yang telah dikerahkan tak ada salahnya. Itu bagian dari cara menghidupkan optimisme meraih perkara besar dalam hidup. Namun sepenuhnya menyandarkan diri pada semua hal itu hanya akan menyebabkan kita sendiri akhirnya lemah dan menyerah kalah tatkala realitanya tak sesuai dengan ekspektasi.

Di samping itu, menuhankan kemampuan diri sendiri merupakan kesalahan yang sangat fatal. Maka penting sekali ketika sebelum, sedang, dan setelahnya untuk meminta kekuatan dan percaya pada Allah. Bahwa semua yang bersumber dari-Nya tak pernah buruk. Pun kalau awalnya dinilai tak baik, pastilah ada maksud tertentu sampai ketentuan itu diberikan. Untuk menguji agar naik tingkat, atau mengurangi kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat.

Beberapa jam yang lalu, pukul 18.38 WIB, saya mendapatkan nasihat dari kang Puji (founder KejarAurora) yang kini sedang mendampingi isterinya di UK tentang pentingnya bersyukur. Konteksnya dikatakan kang Puji ketika saya menyebutkan beberapa kendala dalam merawat Planet Antariksa dan itu respon dari pertanyaan darinya tentang perkembangan komunitas yang dibuat dari setahun yang lalu.

Itu bagian dari support agar Planet Antariksa yang telah dimulai, terus diurus dengan serius. Perintah bersyukur ini barangkali tak sekali-dua kali kita peroleh. Banyak sekali kesempatan yang menekankan bahwa salah satu dari kunci ketenangan hati adalah merasa cukup lantas bersyukur atas apa yang telah terjadi dan kita terima.

Para penceramah hampir di setiap acara pengajian menghimbau jemaahnya untuk melakukan hal ini karena memang di Al-Qur’an juga disebutkan bahwa bersyukur akan mendatangkan nikmat yang lebih-lebih lagi. Namun ketika sebuah pesan kebaikan datang dari orang-orang yang telah melakukan, sepasaran apa pun kata-kata itu, pesannya jadi begitu sangat bertenaga.

Apapun kondisi sekarang, menjadi mahasiswa di jurusan anu misalnya, mendapatkan pekerjaan di bidang anu, mendapatkan berbagai penolakan, dikecewakan orang, dizalimi, mengalami hal-hal yang terasa pedih, jika disyukuri maka ia akan berubah menjadi baik-baik saja. Mari bersyukur!

Maaf kalau kamana-meni perbincangannya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 12 Mei 2017

sumber foto: jepretan pribadi

Advertisements
Syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s