Pasangan yang Kompak Berbisnis (2)

5811f9a8a1c1e-sally-giovanny_663_382.jpg

Mengulas tentang inspirasi dari salah satu acara di televisi mengingatkan saya pada Mata Kuliah Basic Life Skills 1 di semester 3. Tugas kami dari pak Epul setiap minggu harus membuat laporan dari tayangan Mario Teguh Golden Waysdan Kick Andy untuk selanjutnya diprentasikan kembali di depan kelas secara acak.

Tujuannya agar kami menonton saja sepertinya dan mampu menceritakan apa yang telah kami tonton itu. Meskipun sesekali saya juga membaca informasi tentang kegiatan di beberapa minggu lewat website resminya Kick Andy. He, maafin saya pak. Sebagian teman-teman juga melakukan itu setahu saya. Ternyata tugas membuat review itu menjadikan saya tak terlalu sulit melakukannya lagi sekarang untuk mengisi konten di project jurnal.

Jurnal kali ini melanjutkan tentang kisah sukses pasangan yang memutuskan berbisnis barengan. Ini lanjutan dari jurnal ke-118 karena memang sesi ke-2 Talkshow Michael Tjandra Luar Biasa yang saya tonton hari Senin (22 Mei) lalu.

Buat yang nonton pasti tahu pasangan yang dimaksud. Betul sekali, mereka adalah mba Sally Giovany dan mas Ibnu Rianto. Keduanya merupakan orang di balik nama besar Batik Trusmi. Bagi saya pribadi nama ini cukup brand bisnis ini cukup familiar. Pertama karena ada salah satu cabangnya di Cihampelas di mana saya sering melewatinya. Kedua karena Batik Trusmi pernah mengadakan lomba bussines plan dan saya awalnya cukup tertarik serta sempat membaca ketentuan dan hadiah yang dijanjikan jika menang meski akhirnya keinginan itu berhenti di sebatas wacana saja.

Waktu itu saya tak terlalu punya keinginan kuat untuk mencari profil pendirinya. Cukup tahu saja sekilas kalau pemiliknya katanya cantik. Sudah tak ada tindak lanjut untuk mengetahui lebih lengkap mengenai perjuangannya mendirikan bisnis yang kini sudah ada 10 cabang itu. Lagian saya saat itu belum memulai menjurnal, jadi tak ada alasan untuk menulis ulang mengenai profil brand bisnis maupun pendirinya.

Hal yang menarik dari perjalanan bisnis pasangan ini yaitu mereka menikah dengan usia yang bisa dibilang begitu dini. Bisa tebak berapa tahun mereka menghalalkan hubungannya? Bukan. Kurang tepat. Iya sedikit lagi. Nah, betul, keduanya memutuskan menikah saat masing-masing berusia 17 tahun (beberapa ulasan menyebutnya 18 tahun). Niat untuk menikah ini bukan tanpa hambatan. Awalnya orang tua mereka tak setuju. Namun, berkat usaha untuk meyakinkan orang tua mereka, akhirnya restu pun didapat. Mereka kemudian menikah.

Merasa bahwa tak mungkin kalau setelah menikah mereka bergantung kepada orang tuanya, mereka pun memutar otak untuk bisa bertanggung jawab atas pilihannya menikah muda. Bermodalkan angpau (uang kado pernikahan) pernikahan sebesar 17 juta mereka pun memulai berbisnis.

Mas Ibnu dan mba Sally tidak memiliki pengalaman bisnis sebelumnya. Mereka bingung mau usaha apa? Akhirnya terpikirlah ide untuk menjual kain kafan. Tentu karena usaha ini tidak terlalu harus menuntut mereka banyak mikir dan relatif membutuhkan modal yang sedikit. Setelah berjalan beberapa bulan, mereka menyadari kalau terus mengandalkan jualan kain kafan, kapan mereka akan maju?

Berhubung di daerahnya tinggal terdapat banyak pengrajin batik dan ternyata bahan untuk kain batik adalah kain mori, Sally dan suami pun banting setir menjadi penjual kain mori hingga setelah belajar dari para perajin tentang perbatikan akhirnya usahanya beralih ke berjualan kain batik.

Bermodalkan semangat, mereka menjual kain batik ke salah satu supliyer di pasar Tanah Abang Jakarta. Namun teryata yang didapat hanyalah penolakan. Ini disebabkan karena mereka tidak melakukan riset terlebih dulu mengenai batik yang diminati di pasaran. Keduanya menjadikan pengalaman pahit ini sebagai pengalaman berharga. Bahwa berusaha pun butuh perencanaan yang matang.

Hari ke hari perjuangan mereka mulai menemukan hasilnya. Orang-orang mulai mengenal produk kain batiknya. Hal yang tak terlupakan adalah ketika dalam proses berjualan itu anak pertama mereka harus merasakan mandi di pom bensin dan tidur di mushola. Menuru Sally beginilah uniknya seorang entrepreneur. Harus menjalani ujian terlebih dahulu untuk kemudian belajar darinya.

Pada tahun 2007 (setelah mengumpulkan modal) mereka membuka toko berukuran 4x4meter. Ruang tamu di rumahnya disulap menjadi toko batik. Untuk memberi tahu orang-orang dipasanglah plang yang ditulisi “Batik Trusmi Termurah dan Terlengkap. Orang-orang pun mulai mengenal batik mereka. Toko yang awalnya kecil lalu diperbesar hingga penjualan pun jadi kian meningkat dari sebelumnya. “Proses tidak membohongi hasil.” Kenang Sally yang dulunya sempat menjadi model dan dancer ini.

Setelah melalui rintangan yang tak mudah, kerja keras mereka pun diganjar beberapa penghargaan. Sebagaimana disebutkan Sally, kurang lebih 14 telah didapatkan. Pada tahun 2012, Batik Trusmi dinobatkan sebagai toko batik terluas (1,5 hektar) dan pemilik termuda (waktu itu 22 tahun). Selain itu, MURI pun memberikan penghargaan berupa pemrakarsa pembuat cap batik berukuran 6 meter.

Di samping memasarkan secara offline, mereka pun memaksimalkan penjualan lewat online. Bahkan banyak order besar-besaran dari beberapa perusahaan yang didapat lewat jalur ini. Toko batik yang kini mempekerjakan lebih dari 1000 ini sekarang telah memiliki 10 cabang yang tersebar di beberapa kota besar, di antaranya Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Medan.

Beberapa mimpi mereka kedepannya dengan batik Trusmi adalah mereka Ingin mempekerjakan sebanyak 1juta karyawan serta berangan untuk tak hanya mempopulerkan batik di dalam negeri melainkan juga mengenalkan batik ini ke kancah internasional. Mereka pun memiliki semangat bahwa ikhtiarnya ini selain berorientasi bisnis juga dalam rangka melestarikan budaya bangsa.

Ada beberapa tips agar bisa sukses dalam berbisnis dari mba Sally. Pertama, harus berani memulai. Apa yang bisa dilakukan, lakukanlah! Kedua, harus berani menjalani prosesnya. Kalau menemukan kegagalan, percayalah bahwa gagal  sejatinya bukanlah akhir dari segalanya melainkan tangga yang harus dilalui untuk menuju kesuksesan. Ketiga, keyakinan jangan mudah memudar. Hal ini bisa didapat dengan terus bersemangat untuk berjuang.

Apa yang dilakukan oleh mas Ibnu dan mba Sally menunjukan kekompakan hati di antara mereka. Keduanya bukan hanya berkolaborasa melainkan juga berkolaborasi menunjukan ke orang-orang bahwa cibiran yang dilayangkan kepada mereka yang memilih menikah muda adalah sebuah kekeliruan. Ejekan yang diterima tidak dijadikan sebagai alat menjatuhkan mental mereka melainkan diubah menjadi pendorong untuk lebih ekstra lagi dalam berusaha. Sukses sekarang yang mereka dapat merupakan imbalan atas usaha keras dan totalitas.

Ah, semoga kita pun bisa (kelak) mengikuti apa yang telah dilakukan pasangan kompak ini. Melakukan hal-hal yang disuka bersama-sama. Kapan? Duka. He.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 25 Mei 2017

Sumber gambar: news.viva.co.id

Advertisements
Pasangan yang Kompak Berbisnis (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s