Mengenang Masa-masa di Pesantren

DSC00716.JPG

Ini kobong santri putra

Foto2834.jpg

Ini kobong santri putri tampak belakang

Saya sangat menyesalkan ketika adik saya (kelas X) memutuskan keluar dari pesantren. Almamater saya juga sebenarnya ketika menghabiskan masa SMA dulu. Saya mondok di sana berbarengan dengan SMA, dari tahun 2008-2011.

Bagi saya pribadi, menghabiskan sebagian waktu hidup di pondok menjadi sangat penting. Ada banyak hal yang tidak didapat ketika tak pernah mondok. Makanya jika ingin merasakan bagaimana serunya kehidupan di pondok, silakan mondok dulu. Itu satu-satunya cara. Dengan hanya membaca buku-buku atau nonton film mengenai pondok tak akan bisa membuat kita total dalam memaknai sensasi saat-saat di pesantren.

Jadi ketika selama masa pendidikan memutuskan keluar karena alasan yang sebenarnya masih bisa dipertahankan untuk tidak keluar, saya sangat menyayangkan. Memang masa-masa di pondok tak pernah mengenakkan kalau dipikir-pikir, namun kepedihan itu insya Allah akan terbayar dengan kebaikan-kebaikan yang berguna di masa depan.

Saya tak bisa berbuat banyak ketika adik saya mau keluar. Hanya sesekali merayunya agar bertahan. Tapi ia bulat atas keputusannya. Kalau tak salah, dia keluar pada bulan Desember. Saya yakin di balik keputusan itu ada alasan kuat yang mendasarinya. Saya mencoba berbaik sangka pada adik. Semoga itu pilihan terbaik. Sambil tetap membujuk agar dia mau mondok lagi di tempat lain.

Alhamdulillah adik saya pun bertekad untuk kembali mondok di pesantren yang secara jarak tak terlalu jauh dari sekolah dan iklim belajarnya mendukung. Selama waktu mencari pondok yang cocok, dia tinggal di rumah Uwa. Saya pun dulu sempat beberapa bulan tinggal di Uwa karena sakit cukup serius. Namun saya memutuskan untuk kembali ke pondok yang akhirnya bisa sampai lulus selama 3 tahun di sana.

Tanggal 14 April lalu adik saya pun resmi mondok lagi. Saya sangat senang. Setidaknya dengan dia mondok, dia akan terlatih untuk bersosialisasi dengan banyak orang yang memiliki beragam karakter dalam waktu 24 jam. Di pondok pun dia bisa belajar tentang dasar-dasar agama dengan porsi waktu yang cukup.

SDC10326.JPG

Ini masjid tempat kami shalat berjama’ah dan mengaji. Di sampingnya ada madrasah, tempat mengaji juga tempat mengadakan acara-acara santri.

Nantinya ketika adik saya sudah masuk jenjang perguruan tinggi, saya tak terlalu khawatir membiarkannya hidup sendiri di tempatnya berkuliah. Karena memang kehidupan kuliah sangat jauh berbeda dengan kehidupan di jenjang sebelumnya. Untuk paham-paham keislaman pun begitu beragam. Setidaknya dengan mempelajari pondasinya di pondok, dia bisa meminimalisir kebingungan-kebingungan yang mungkin akan datang.

Lokasi pondoknya di daerah Dadaha. Sangat dekat jaraknya ke sekolah, yang juga sekolah saya dulu sebenarnya, SMAN 1 Tasikmalaya. Dengan berjalan kaki pun kalau sedang santai akan sangat bisa dilakukan.Tapi di jurnal kali ini saya tak akan fokus ke tentang bagaimana pondok adik yang baru. Karena ketika pindahan pun saya tak ikut, saya belum pernah ke sana. Yang jelas ketika saya meminta dia untuk memfoto kondisi kobongnya, ternyata satu kobong terdiri dari 5 orang. Di pondok sebelumnya dalam satu kobong bisa sampai 10 orang dan bahkan lebih. Ya, cukup refresentatif. Semoga betah.

Image0362.jpg

Kondisi di kobong waktu itu.

Saya ingin bercerita tentang beberapa hal yang begitu berkesan ketika dulu mondok. Sebenarnya ada banyak, tapi tak semuanya saya ingat. Jadi untuk jurnal ini hanya satu cerita saja. Selamat membaca.

Saya tak terlalu ingat peristiwa ini terjadi ketika saya kelas 1 atau kelas 2, tapi anggap saja ketika saya kelas 2. Yang saya begitu ingat dari karakter santri selain mereka mandiri yaitu mereka terlampau kreatif. Kultur kreatif ini sepertinya terbentuk karena keadaan.

Di pondok dengan berbagai tantangan yang ada menyebabkan para santri harus berpikir mendalam untuk tetap bisa mewujudkan sesuatu walau banyak keterbatasan yang menghadang. Mereka seakan-akan terlatih untuk itu. Dari sekian kekreatifan itu, sewaktu saya mondok adalah dengan uang yang terbatas kami berusaha mendapatkan makanan yang enak.

Ini lemari saya 

Jadi biasanya nasi untuk makan malam banyak sisanya di dapur umum. Daripada dibesokkan, beberapa dari kami berpikir untuk menggorengnya di warung nasi goreng dekat pondok. Seingat saya, saya terlibat dalam patungan untuk membuat nasi goreng dan nasinya dari kami itu tak sekali saja. Beberapa kali, tapi lagi-lagi saya lupa jumlah tepatnya.

Memang kejam sih, dengan uang yang relatif kecil (meskipun nasinya dari kami) sang mang nasgor harus bekerja keras untuk mengolah nasi yang cukup bejibun dalam bakul yang kami bawa. Waktu itu boro-boro kami berpikir tentang perasaan mang nasgor mengenai kerjanya beratnya itu (karena memang bayarannya kecil). Yang kami pikirkan adalah tentang perut-perut kami. Ah, maafkan kami mang.

Dari sekian kali kami melakukan praktik menggorengkan nasi sisa, saya teringat salah satu momen yang begitu berkesan. Jadi seperti biasa kami menggorengkan nasi ke tempat langganan yang hanya terletak beberapa puluh meter saja dari pondok. Setelah nasi goreng matang, kami membawanya ke teras depan masjid.

SDC10341.JPG

Ini TKP yang saya maksud. Teras masjid. Di sini pula tempat kami biasanya mengaji sore setelah ashar. Nah yang ada pohon delima, itu rumah Ibu.

Di sana kami (entah ada berapa orang) beramai-ramai membantai nasi goreng yang wanginya sudah menusuk-nusuk hidup kami. Kami kalap sekalap-kalapnya. He. Kaki kami otomatis ada di mode standar satu agar sebanyak mungkin orang bisa merasakan nikmatnya nasi goreng itu. FYI, standar satu adalah istilah popular ketika kami makan bersama karena ada santri yang mendapat kiriman dari orang tua atau baru saja tiba di pesantren sehabis pulang atau lazim disebut adrahi.

Kalau tak salah, saat itu sekitar pukul 10 malam. Beberapa dari kami ada yang bertugas untuk piket malam a.k.a patrol kalau dalam bahasa pondoknya mah. Beberapa lainnya memang biasa sering tidur di masjid sambil menghafal, mengerjakan tugas sekolah dan pondok atau sekadar ngobrol kesana-kemari. Ternyata di malam itu kebetulan ibu belum tidur dan sepertinya terganggu dengan berisik dari suara yang kami ciptakan saking girangnya memakan nasi goreng berbarengan.

Beberapa dari kami merasakan kehadiran ibu yang terdeteksi lewat langkah kakinya. Sontak kami pun berlarian mengamankan diri. Ada yang berlari ke arah WC, ada yang lompat ke atas pagar masjid, ada yang berlari sekuat tenaga dan menuju ke dalam masjid, dan sepertinya ada juga yang hanya diam mematung ketika ibu datang. Saya termasuk yang berlari ke arah WC.

Saya tak bisa membayangkan ekspresi santri yang kepergok ibu dan tak sempat berlari. Kebayang enggak sih sedang ada bencana yang begitu dahsyat, kadang suasana mencekam itu membuat pikiran kita seakan ter-pause dan tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah barangkali goncangan jiwa beberapa santri yang apes tak sempat melarikan diri.

Papi n' mami asrama.jpg

Ini Bapak dan Ibu di foto bahkan sebelum saya masuk pondok sepertinya. Waktu masih muda. Mesra banget yah. 

Kenapa kami begitu takut dengan kedatangan Ibu? Karena memang ibu cukup, ehm “tegas.” Para santri mayoritas sepertinya takut sama beliau. He. Punten bu.Itu sebenarnya ekspresi sayang ibu ke kami sih. Dan saya sangat yakin itu. Semoga Ibu dan juga Bapak senantiasa diberi kesehatan untuk terus berdakwah. Beberapa bulan lalu ketika saya bersilaturahim ke rumah ibu, ibu memang sedang sakit cukup parah. Tapi alhamdulillah sudah agak membaik. Sekarang belum berkunjung ke sana lagi.

Hal-hal semacam terpergoki Ibu ketika berjama’ah makan nasi goreng dan membuat keributan saat malam-malam lalu keadaan begitu chaos-nya membuat kami tersenyum ketika mengingatnya kembali. Konyol. Dulu ternyata kami sebegitu bandelnya jadi orang. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar soalnya. Begitu menjenuhkan kalau tak membuat sesuatu yang bisa dikenang di masa mendatang.

Masih banyak sebenarnya stock cerita yang menggelikan saat masa-masa di pondok lalu. Saya perlu mengingatnya dengan usaha lebih keras dari biasanya. Detail-detail seperti kelas berapa dan dengan siapa saat kami melakukannya agak sulit untuk diingat kembali. Wajar saja, sudah terjadi beberapa tahun lalu soalnya. Ditambah lagi dulu saya tak terlalu rajin menulis mengenai keseharian. Hanya sesekali saja, dan itu seringnya menulis puisi, ketika menunggu waktu mengaji sore sambil memandangi kolam ikan dekat rumah Ibu. Atau sesekali memandang pohon-pohon yang ada untuk memanjakan imajinasi dan berharap mendapat inspirasi.

Mungkin terkesan begitu sering saya mempromosikan untuk mondok. Ya, saya memang menuliskannya dalam rangka mengkampanyekan agar orang-orang untuk menengok pesantren sebagai lembaga pendidikan alternatif di tengah zaman yang begitu tak karuan saat ini. Saya pun begitu tertampar ketika membaca pesan dari KH. Abdulloh Kafahibi Mahrus yang menyebutkan “alumni pesantren yang tidak peduli dengan pesantren tidak lebih baik dari yang tidak alumni tapi peduli dengan pesantren.” Lewat membagikan kesan-kesan sembari menyisipkan ajakan-ajakan halus untuk masuk pesantren melalui tulisan adalah cara saya untuk peduli dengan pusat kaderisasi da’i-da’i ini.

Bila peka mengambil berbagai pelajaran, kehidupan di pondok menyajikan begitu banyak hikmah. Dari mulai keteladanan Kyai, asatidz, dan asatidzah, yang selama sehari semalam penuh mendidik kami para santrinya. Tentang hidup perih demi memperoleh keberkahan ilmu. Mengenai saling bantu-membantu ketika ada salah satu dari kami yang sedang tertimpa kesulitan. Perihal memaknai melakukan kebaikan secara bersama-sama, dan banyak lagi yang lainnya. Meski saya kecewa saja dengan pihak-pihak yang berpikir bahwa pesantren dapat menjadikan yang bandel menjadi baik.

Pikiran-pikiran orang tua seperti inilah yang menyebabkan citra pesantren jadi buruk di masyakarat. Padahal pesantren bukanlah tempat pembuangan. Walau saya salut juga di sisi lain. Pesantren lewat kebijaksanaan ustadz-ustadznya menerima saja amanah dari mereka. Hal yang sulit ditemukan di lembaga pendidikan formal lain.

Beruntung sekali di kelas saya hampir sebagian besar merupakan alumni pesantren. Banyak cerita yang bisa kami tukarkan. Mudah-mudahan jurnal berkaitan dengan pondok bisa saya lanjutkan kembali. Saya cinta pesantren. Saya di masa mendatang (kalau Allah takdirkan) berniat memasukan anak-anak saya ke pondok. Kendati terkesan tak menyayangi mereka dengan membuatnya terpisah beberapa tahun dari keluarga, itu dilakukan demi kebaikan mereka di masa mendatang. Suatu saat mereka akan mengetahui maksud ayah-ibunya.

Kalau saya sendiri sih tak merasa dipaksa untuk masuk pondok. Justru diri sendirilah yang minta ke mamah dan bapak untuk dipesantrenkan. Kalau hanya ngekost saja saya berpikir akan sangat rugi waktu. Sementara dengan mesantren ada banyak poin plus yang didapatkan.

Sekian.

Foto-foto lain:

dfsfsfsd.jpg

Kumpul-kumpul Dewan Santri di kamar masjid.

Foto2797.jpg

Setelah opsih, tiap hari Minggu biasanya kami berolahraga

Bapak sedang memberikan sambutan di acara regenerasi Dewan Santri

Image0384.jpg

Masih sama sedang regenerasi Dewan Santri

Image0604.jpg

Sedang penampilan pentas seni di saat bulan Ramadhan

Ini salah satu kelompok penampil santri putri. Masih di acara saat bulan Ramadhan

DSCN2777.JPG

Perpisahan angkatan saya pada tahun 2011

Orang tua santri pun datang saat perpisahan

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 10 Mei 2017

sumber foto: dokumentasi pribadi kecuali foto Bapak dan Ibu

Advertisements
Mengenang Masa-masa di Pesantren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s