Berguru pada Ulama

tumblr_inline_oqjc0jw1Mr1t773pi_500.jpg

Seperti biasa setiap malam Jum’at di Darut Tauhid adalah jadwalnya Aa Gym untuk mengisi kajian ma’rifatullah. Beberapa minggu belakangan ini saya memang kembali rutin datang ke sana setelah sekian lama, lama banget, enggak mengikuti kajian tiap malam Jum’at itu. Padahal dulu pas maru dan unyu-unyu saya cukup sering ngaji di sana.

Saya merasakan kekeringan jiwa saja akhir-akhir ini sehingga butuh pengingat dari orang-orang yang dekat dengan Allah. Menurut saya, Aa Gym adalah salah satu orang sosok yang Allah begitu cinta kepada-Nya, nampaknya sudah begitu mesra beliau dengan Allah.

Nasihat-nasihatnya meskipun relatif selalu sama dan terkesan diulang-ulang namun tetap nyecep banget ke hati teh. Dan itu tidak dibuat-buat. Perkataannya muncul dari kebeningan hati yang ditata sedemikian rupa. Sebisa mungkin qalbu beliau dimenej dengan baik. Dan inilah yang menjadikan Aa sangat terkenal dengan manajemen qalbunya.

Ternyata pada malam kemarin itu Aa Gym tak sendiri mengisi kajiannya. Ada tamu mulia dari Majelis Rasulullah, yaitu Habib Nabil Al-Musawa. Cukup sering Habib Nabil ini nongol di TV, di TV One kalau enggak salah. Seperti diceritakan sebelumnya oleh Habib, pertemuan ini berawal dari keinginan Habib untuk berguru kepada Aa Gym, karena cukup ngefans juga katanya. Menurutnya Aa Gym begitu ikhlas dan tawadu. Aa Gym pun dianggapnya sebagai salah satu sosok yang shaleh.

Takdir pun akhirnya mempertemukan keduanya dalam satu majelis. Baik Habib maupun Aa begitu mensyukuri pertemuan itu. Kesempatan langka ini merupakan momen tepat untuk saling berguru, mencari ilmu dari masing-masing mereka.

Saya kagum saja dengan sikap keduanya yang begitu rendah hati. Aa Gym bilang kalau beliau ingin mendengar Habib ceramah. Begitu pun dengan Habib, ia pun ingin mendengar pesan berhikmah dari Aa. Seperti itu lah orang-orang yang berilmu dan ilmunya berdampak pada hati-hati mereka, tak ada kesombongan yang mengemuka. Kalau pun ada, sebisa mungkin ditekan sedalam-dalamnya agar tak mendominasi.

Akhirnya Habib pun mengalah. Karena diminta oleh Aa yang dianggap sebagai gurunya, dan sebagai murid haruslah taat pada guru, Habib pun bilang, “Saya harus sami’na waatho’na dengan permintaan guru. Saya mendengar, dan saya taat.” Habib memulai lebih dulu ceramahnya. Isi ceramah yang disampaikan adalah tentang kandungan surat Ali Imron 103.

Inti pesan yang disampaikan dari kandungan ayat tadi adalah agar dalam berpegang teguh kepada tali agama Allah adalah dengan berjama’ah, dengan bersama-sama. Ulama harus berikhtiar maksimal untuk bersatu. Karena ketika ulama bersatu, maka umat pun akan mengikuti. Sebaliknya, apabila ulama berpecah belah, maka jangan salahkan apabila umatnya pun berpecah. Dengan bersama-sama akan membuat umat ini kian kuat. Berbagai rintangan akan mudah ditepis apabila prinsip berjama’ah dijunjung tinggi. Ini tugas kita semua.

Setelah Habib usai menyampaikan ceramahnya sekitar 25 menit, Aa pun mengambil alih untuk melanjutkan kajian malam itu. Aa Gym pun membahas mengenai salah satu ayat Alquran yang sebelumnya dibacakan oleh ustad spesialis pembaca Alquran. Saya lupa ayat berapa dan surat apa yang dibacakan itu. Rada malaweung soalnya sambil ngebales chat.

Rasulullah saw. membina umat (agar bersatu salah satunya) ada 3, yaitu tadzkirah (memberi peringatan, mengajak, dan tazkiah (mensucikan diri). Lalu Aa Gym memberikan rumus mengenai cara menyucikan diri (kalau saya tak salah), yaitu 2B2L. Apa 2B2L itu?

Pertama, berani mengakui jasa kelebihan dan kebaikan orang lain. Dan ini harus jadi kebiasaan.

Kedua, bijak terhadap kesalahan dan kekurangan orang. Tidak dengan mudah memojokan mereka yang berbuat salah. Namun memosisikan orang seperti kita ingin diposisikan. Pasti tak mau kan mendapatkan hal-hal yang dianggap negatif meskipun kenyataannya kita berbuat salah.

Ketiga, lupakan jasa dan kebaikan diri sendiri. Kata Aa, “benar kita sudah berjuang, tapi setelah itu lalu hilangkan, lupakan!” Penilaian dan pujian menjadi bukan lagi urusan kita. Kita tak mesti berharap dianggap orang lain. Tapi yang penting memang kita jadi orang baik beneran.

Keempat, lihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Dengan begini kita akan mawas diri. Fokus pada perbaikan kita, bukan malah sibuk mencari kekurangan orang. Kita harus latihan sungguh-sungguh untuk meenrima kritikan dari orang, karena toh itu untuk kebaikan diri kita sendiri.

Barangkali itu poin-poin penting yang bisa saya catat ulang. Tapi hampir semuanya ilmu sih. Nah, untuk yang memiliki kesempatan, silakan datang sendiri ke DT tiap malam Jum’at! Insya Allah bakal dapat penyadaran deh pas pulang teh.

Semoga bermanfaat jurnal kali ini. Makasih sudah menyempatkan membacanya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 20 Mei 2017

Advertisements
Berguru pada Ulama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s