Rumahnya Para Calon Bintang

rumah-bintang-1-1024x768.jpg

“Children are great imitators. So give them something great to imitate.”

Anonymous

 

Kurang lebih 13 tahun sudah Rumah Bintang (Rubin) berdiri di daerah Nangkasuni, Wastukencana, Kota Bandung. Sebuah komunitas sosial yang bergerak di bidang pendidikan anak yang diinisiasi oleh kang Niki Suryaman.

Ia bersama rekan-rekannya yang memiliki kepedulian sama begitu tulus mendidik anak-anak didiknya agat berani bermimpi besar dan tak gentar menghadapi berbagi hambatan untuk mewujudkannya. Ujung-ujungnya sebenarnya kegiatan mendidik anak-anak merupakan investasi jangka panjang bagi negeri ini.

Pertama kali tahu tentang Rumah Bintang adalah saat saya mengepoi beberapa akun instagram komunitas serupa sebagai referensi bagi Planet Antariksa. Waktu itu masih belum tumbuh kepenasaranan berlebih. Lain halnya dengan sekarang setelah tahu kalau Rumah Bintang sudah lama berdiri. Berarti ada konsistensi, komitmen, dan ketekunan luar biasa yang ada di hati para pengurusnya.

Hal-hal ini yang mahal & perlu dipelajari oleh para pegiat komunitas sosial lainnya, dalam bidang apa pun. Saya memang akhir-akhir ini sangat gandrung dengan hal-hal yang mempengaruhi pola pikir seseorang sehingga memiliki tekad yang kuat untuk menekuni satu bidang dengan konsisten.

Sebagaimana terdapat di beberapa informasi yang bertebaran di internet, Rumah Bintang awalnya berupa taman baca. Ini dibuat bermula dari nongkrong-nongkrong kang Niki bersama teman-temannya yang akhirnya bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan kebaikan yang sistematis.

Barangkali memang kita perlu menaruh perhatian lebih dengan aktivitas nongkrong ini. Karena mau tidak mau banyak sekali gerakan kebaikan memang bermula dari ngobrol ngariung diskusi ke sana ke sini yang akhirnya mempertarungkan keresahan dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya bersama-sama. Planet Antariksa (komunitas tempat saya dan teman-teman melakukan sesuatu) didirikan berawal dari rajin berbincang bahkan hingga malam larut.

Nongkrong perlu, meski membaca (apa pun) sebagai bahan untuk berdiskusi pun tak bisa dipisahkan dari proses ini. Keduanya saling dukung mendukung.

Setelah tahu bahwa kang Niki sewaktu sekolah (saya tak terlalu tahu apakah ketika SMP atau SMA atau bahkan saat kuliah) merasa resah dengan banyaknya anak jalanan yang tidak sekolah dan bermimpi ingin membuat sekolah gratis ada kekaguman yang diam-diam timbul di hati saya. Dua kata untuk kang Niki, “wow keren.”

Saya pikir sudah semestinya banyak orang-orang seperti kang Niki (sewaktu muda) yang memelihara keresahannya sehingga tumbuh menjadi kekuatan besar yang bisa mengalahkan monster lain dalam dirinya dalam bentuk perilaku-perilaku pecundang: takut, malas, dan sejenisnya.

Orang-orang seperti ini lah yang akan membawa perubahan bagi negeri ini. Dan nyatanya kuantitas mereka yang peduli dan memilih melakukan aksi selalu tak lebih banyak dari orang-orang yang pura-pura tak tahu akan masalah yang terjadi. Sudah galibnya seperti itu. Maka, kita akan menjadi yang menginisiasi atau yang sibuk menghabiskan energi untuk terus memaki? Silakan memilih!

Rumah Bintang dibuat dengan salah satu harapan agar mimpi anak-anak bisa tercapai dan menghindarkan mereka dari hal-hal negatif. Sungguh mulia sekali. Bisa saksikan sendiri anak-anak yang berada di sekitar kita berperilaku seolah-olah seperti orang dewasa. Usia SMP saja banyak yang kecanduan merokok dan tak merasa malu memamerkan perbuatannya di hadapan orang-orang dewasa.

Ya, mungkin hal seperti itu tak akan mendatangkan dampak negatif apa-apa. Rumusnya kan perbuatan tak baik yang dilakukan oleh banyak orang akan menghasilkan persepsi berjama’ah bahwa itu adalah amal yang tak masalah untuk dilakukan. Hal-hal baik jadi dianggap aneh ketika yang melakukannya hanya segelintir orang.

Sementara perilaku-perilaku yang jelas-jelas buruk namun banyak orang yang melakoninya, seolah-olah ada fatwa bahwa itu sah-sah saja dilakukan. Akhir zaman memang jadi masa yang serba terbalik. Sampai-sampai sinetron stripingnya pun ada di sebuah stasiun televisi swasta negeri ini. Sebagai bentuk sindiran barangkali, selain tentu alasan utamanya pasti berorientasi dengan masalah ekonomi.

. . .

Selain berpatokan pada logika, bahasa, dan etika, Rumah Bintang memiliki beberapa nilai dasar yang menjadi acuan. Beberapa di antaranya adalah semangat untuk mandiri, otonom, terbuka, dan bersifat kolektif. Ini berlaku bagi seluruh komponen komunitas ini. Selain pola gerak Rumah Bintang yang sebisa mungkin tanpa ada intervensi dari pihak-pihak lain dan berpijak pada idealisme para pendirinya, nilai-nilai itu pun berusaha ditanamkan di diri anak-anak yang tergabung di dalamnya.

Dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesulit apa pun mempertahankan idealisme, namun semangat memperjuangkannya merupakan hal yang mesti dimiliki setiap manusia. Karena memang dari sana karakter seseorang bisa dinilai. Sebab mempertahankan sebuah cita-cita yang dianggap ideal menjadikan manusia mampu beradaptasi dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Bukankah seseorang dikatakan kuat ketika dia mampu mengalahkan sesuatu yang dianggap lebih kuat lainnya?

Pendidikan alternatif yang diusung Rumah Bintang ini semoga menginspirasi pihak-pihak lain untuk mendirikan komunitas serupa di daerahnya masing-masing. Bila memperbaiki barang-barang elektronik memerlukan waktu yang relatif singkat, maka lain halnya dengan membina kepribadian manusia.

Sebagai makhluk yang unik, meluruskan watak manusia membutuhkan waktu yang sangat panjang. Bahkan boleh jadi seumur hidup. Manusia bisa berubah kapan saja karena rentah terpengaruh banyak faktor . Maka ikhtiar membuat manusia berada di koridor kemanusiannya adalah pekerjaan yang tak boleh berhenti. Ikhtiar itu barangkali yang sering kita sebut-sebut dalam keseharian sebagai pendidikan.

Oh iya, Rumah Bintang memiliki berbagai konten dalam proses mengembangkan kapasitas peserta didiknya. Sebut saja seperti kelas bahasa, fotografi, melukis (menggambar), bermain musik, etika, komputer, hasta karya, kelas profesi dan lain-lain.

Untuk menghindari kejenuhan aktivitas yang itu-itu saja, komunitas yang berdiri sejak tahun 2004 ini mengadakan kegiatan outdoor seperti jalan-jalan ke taman kota, kolam renang atau berwisata edukatif ke museum. Bahkan kalau libur panjang diagendakan juga kemah di alam terbuka.

Bagaimana apakah teman-teman tertarik berbuat baik seperti kakak-kakak di Rumah Bintang? Atau bahkan berencana membuatnya sendiri? Wah, menurut saya itu lebih baik. Melakoni sesuatu yang berangkat dari inisiatif diri sendiri akan mendatangkan totalitas luar biasa.

. . .

Itu saja informasi tentang salah satu komunitas yang bergerak di bidang pendidikan anak di daerah Bandung beserta refleksi saya atasnya. Sepertinya di jurnal-jurnal selanjutnya saya akan cukup sering mengulas komunitas serupa. Jujur, saya mulai tertarik dengan bidang ini. Informasi lebih lanjut silakan bisa googling sendiri. Bagi yang malas membaca bisa juga melihat videonya di youtube. Cukup banyak di sana.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca tulisan ini. Saran dan kritik demi perbaikan project ini sangat saya nantikan. Wilujeng wengi dari kota romantis, Bandung.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 6 Mei 2017

sumber gambar: Anarkis.org

Advertisements
Rumahnya Para Calon Bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s