Mengaji

P_20170505_213042.jpg

Suasana ketika Ustaz Sallim menyampaikan materinya.

Bulan tengah tersenyum ketika saya menginjakan kaki di jalan Sersan Bajuri. Beberapa saat sebelumnya saya baru saja turun dari angkot Caheum-Ledeng. Setelah mengikuti acara bertajuk Mabit & Qiyamul Lail: Gerakan Subuh Jama’ah Nasional saya memutuskan tidak menginap karena beberapa alasan tertentu. Tak bisa saya sebutkan alasan itu kecuali salah satunya karena saya ingin tidur nyaman saja di kontrakan. Alasan yang sangat receh sebenarnya.

Niat saya dari awal memang ingin melihat dan mendengarkan secara langsung ceramah Ustaz Sallim A. Fillah. Target saya sudah terpenuhi. Sementara itu adik-adik kelas saya: Reyza, Hary, Ucup, Kholik, Sufyan & Fauzan bermalam di sana.

Saya lalu berjalan beberapa puluh meter untuk menyetop angkot. Sudah mending menginap saja. Hati saya berbisik karena angkot yang ditunggu tak kunjung datang. Sembari menanti angkot lewat saya membaca tulisan-tulisan di blog yang baru sekali ditemukan ketika saya mengetik kata kunci tentang sebuah perkumpulan yang saya tahu ketika ikut PPB #8 lalu. Dan akhirnya menemukan blog dari seorang kader salah satu organisasi ekstra mahasiswa di kampus Gajah Mada itu merupakan sebuah anugrah. Karena memang isinya merupakan kumpulan tulisan yang berkelas.

Pencarian selalu mempertemukan kita dengan hal-hal tak terduga di samping tujuan utamanya didapatkan juga.

Akhirnya angkot berwarna hijau tua itu pun tiba. Saya memberi isyarat dengan tangan untuk memintanya berhenti. Ada dua penumpang di sana. Ditambah saya jadi 3 orang. Kekhawatiran akan isu kasus begal dan semacamnya karena bepergian malam hari diam-diam hadir di pikiran saya. Tapi lantas saya tepis diganti dengan do’a dalam hati semoga diberi keselamatan. Dan ketakutan saya tak terbukti. Syukurlah.

. . .

Saya satu angkot dengan Sufyan (adik tingkat) ketika pergi ke Salman. Sufyan pergi ke sana karena memang tuntutan kontrak. Dia merupakan salah satu penerima beasiswa aktivis Salman. Sebagai timbal balik para penerimanya harus terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diagendakan Salman. Ada presensi katanya.

Bahkan dia terlihat cemas, sesekali memandangi jam tangannya karena batas presensi sampai jam 9. Kalau saya mah memang murni tertarik sama Ustaz Sallim saja dan selain juga karena ingin bertemu dengan para pemuda (juga pemudi, he) yang berusaha terus menerus meng-upgrade keimanannya lewat kajian-kajian keislaman.

Saya dan Sufyan tiba di Salman sekitar jam 20.30 yang berarti acara telah mulai dari setengah jam yang lalu. Ketika saya melakukan registrasi di dekat pintu memang terlihat jama’ah sudah membludak dengan pandangan yang fokus melihat ke depan. Ternyata ustaz Sallim, kang Daan, dan satu orang lagi (moderator sepertinya) saya tak tahu sudah ada di kursi yang telah disediakan. Untungnya ketika saya ke sana ceramah Ustaz Sallim baru mau dimulai. Saya tak ketinggalan jadinya. Alhamdulillah.

Melihat pengajian-pengajian yang dikemas dengan sangat apik dan membuat jama’ah nyaman berlama-lama di majelis ilmu membuat saya merinding. Dalam artian kagum, gembira, sekaligus optimis bahwa kebangkitan Islam yang dijanjikan memang sudah tak terbantahkan lagi.

Ini bermula dari masjid-masjid. Dari majelis-majelis yang dikaji ilmu agama di dalamnya juga ditanamkan semangat-semangat untuk berkontribusi tanpa didikotomikan semangat melakukannya dari mengharap rida Allah semata. Saya beruntung bisa kuliah di Bandung karena pengajian-pengajian dengan konten dan kemasan yang kreatif begitu menjamur di sini.

. . .

Ketika Reyza mengajak saya via WA untuk ikut ke Salman saya sempat ragu. Berbagai alasan dicari-cari agar saya tak ikut meskipun juga sebenarnya sangat ingin menghadiri majelis di mana Ustaz Sallim sebagai pengisinya. Begini nih kalau untuk perkara kebaikan suka banyak pertimbangannya, atau marilah kita sebut sebagai rintangan.

Ada banyak godaan baik dari dalam maupun dari luar agar berpikir beberapa kali untuk ikut. Beda kalau untuk urusan yang tak terlalu penting dan tak berfaedah atau justru yang mendatangkan keburukan, pikiran justru sibuk mencari-cari pembenaran agar hal tersebut dilakukan saja. Meski pada akhirnya menyesal juga. Sesal merupakan indikasi yang telah dilakukan itu dosa sebenarnya. Ah, dasar manusia. Di sini letak ujiannya. Apakah akan memilih melakukannya atau berpaling dan mengingkarinya?

Alhamdulillah Allah akhirnya melunakkan hati saya untuk akhirnya ikut juga di acara dengan tema “Konsolidasi Potensi Ummat” ini. Waktu itu sisi baik diri saya membisikkan, “kapan lagi bisa ikut kajian Ustaz Sallim. Siapa tahu berbagai hal terjadi dalam hidup kamu sehingga tak punya kesempatan kedua.” Bisikan-bisikan seperti itu berkelahi dengan ajakan untuk nonton tivi sambil memainkan smartphone tanpa tujuan yang jelas.

Oh iya, pada kesempatan itu Ustaz Sallim berbicara mengenai potensi umat dengan memisalkannya pada sebuah pohon yang tumbuh sempurna. Bahwa potensi berupa akar (akidah), batang yang tumbuh menjulang (amal), dan akhirnya menjadikan buah (manfaat) harus menjadi perhatian umat muslim.

Ketiganya dengan hierarki sesuai prioritas akan saling berkaitan. Jika akar berupa akidah tertancap dengan kokoh maka batang yang dalam hal ini amal perbuatan akan terus jadi orientasi umat Islam hingga akhirnya menghasilkan buah yang ranum sebagai manifestasi dari manfaat bagi umat sendiri, bahkan bisa jadi rahmat bagi semesta alam.

Intinya Ustaz Sallim mengingatkan kembali kepada jama’ah bahwa ketiga potensi ini harus betul-betul disadari dan dihayati agar menjadi spirit optimisme untuk menjemput kemenangan umat Islam yang tanda-tandanya terlihat begitu dekat.

Di samping itu juga Ustaz lulusan Teknik Elektro UGM dan Psikologi UIN Sunan Kalijaga ini menyampaikan kebanggaannya terhadap Indonesia yang memiliki kultur-kultur dan kekuatan luar biasa sebagai negeri muslim mayoritas yang sangat berpotensi menjadi aktor dari kejayaan Islam suatu saat nanti. Karena memang faktanya banyak warga muslim Indonesia memiliki kiprah positif di luar negeri sana seperti menjadi imam-imam maupun mengambil peran strategis lainnya. Ini menurut penuturannya disebut sebagai “Hadiah Nusantara untuk Dunia.”

Sekitar jam 22.00 acara berakhir setelah sebelumnya ada sesi tanya jawab. Jama’ah terlihat puas dengan penuturan Ustaz Sallim. Penulis banyak buku yang sangat digemari kalangan anak muda ini memang menuturkan materinya dengan begitu lihai. Berbicaranya seolah-olah beliau sedang membaca buku-bukunya. Nyaris tanpa “e..e..e” sebagai perwujudan dari otak yang dalam mode loading. Barangkali memang beliau begitu cerdas dan memiliki pembendaharaan kata yang kaya selai juga keilmuannya yang begitu mendalam. Salut buat Ustaz yang pernah nyantri di PonPes Musyar, Plaosan, Purworejo ini.

Acara berakhir. Nanti akan dilanjut Qiyamul Lail dan materi dari Ustaz Elvandi. Para jama’ah siap-siap tidur.

Setelah berbincang beberapa saat dengan adik-adik kelas yang saya sebutkan tadi, saya akhirya pulang. Hati ini pun diliputi senang. Saya hampir lupa, acara ini dilaksanakan pada malam Sabtu (5 Mei 2017), minggu lalu. Sampai jumpa di jurnal berikutnya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8 Mei 2017

sumber foto: jepretan pribadi

Advertisements
Mengaji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s