Membincangkan Kehidupan Pasca Kampus

Semalam ada sedikit perbincangan yang akhirnya menggelitik saya menulis jurnal ini. Begini obrolannya.

“Fan sempet khawatir teu tentang jodoh?” tanya Acep sambil diselingi sedikit senyum.

Acep ini sebelumnya teman satu kontrakan juga satu angkata dengan saya. Tapi ia lulus duluan dan wisuda Desember lalu. Sekarang sudah kerja (masa training) di salah satu perusahan besar di Jakarta. Kebetulan ia sedang ke Bandung, mungkin kangen dengan suasana kota romantis ini.

“Ya khawatir atuh Cep. Tapi saya berusaha menyembunyikannya supaya tak terlalu ketahuan orang lain. Kaya lagi berduka terus bersembunyi di balik senyum lebar,” timpal saya. Ironi. Inilah mungkin yang menyebabkan saya sering mengeluarkan kata-kata bijak. Kalau kata Panji mah, “pasti lagi banyak masalah, jadi bijak kieu.”

. . .

Akhir-akhir ini lingkaran teman-teman satu angkatan di jurusan saya, Ilmu Pendidikan Agama Islam 2012, memang sedang dekat-dekatnya dengan topik mengenai jodoh dan pernikahan. Meskipun kalau harus jujur, perbincangannya sudah ramai sedari dulu ketika masih aktif-aktifnya kuliah. Bahkan seringkali menjadi bahan banyolan tersendiri. Apalagi didukung juga dengan adanya mata kuliah Fiqih Munakahat di sekitar semester 5 atau 6 yang seolah-seolah sering memperbincangkannya menjadi sebuah kewajaran.

Saya bilang seperti itu karena memang adanya demikian. Ini di kalangan anak-anak cowok sih. Entah kalau anak-anak cewek. Tapi saya kira justru mereka lebih khawatir ketimbang kami. Pasalnya perempuan biasanya lebih cepat menikah ketimbang lelaki. Dari segi kuantitas pun dari angkatan kami yang sudah nikah, 5 dari 6 orang adalah perempuan.

Kalau teman-teman main ke kontrakan saya dan kebetulan sedang ada teman-teman yang main atau menginap, pasti tema obrolannya tak jauh-jauh dari sana selain juga permasalahan pekerjaan (bagi yang sudah lulus). Ya bisa dikatakan semua hal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan pasca kampus. Pasti obrolan kami tentang hal itu sangat membutuhkan durasi panjang. Kadang kami tak sadar, eh tiba-tiba malam sudah sangat larut. Seperti aliran sungai, pembicaraannya kadang sulit untuk berhenti.

Seperti misalnya obrolan malam minggu kemarin antara saya, Ogi, dan Dafa setelahnya kumpul eval mengenai Planet Antariksa. Tak sadar ternyata obrolan kami tentang hal yang sebelumnya saya sebut ternyata sampai kurang lebih jam 23 dari sekitar jam 21.30. Itu saking keasikannya meng-eksplore hal ini. Selalu saja ada sudut pandang dan cerita-cerita seru yang baru.

. . .

Kalau belum intens membahas seperti kami-kami ini, teman-teman pasti ada masanya sendiri merasakannya. Biasanya mendekati atau di tingkat akhir kuliah. Soalnya memang ini sudah jadi semacam fitrah gitu. Sebagai pejuang, kita pun partner mau tidak mau. Kita butuh sosok tempat berpulang, untuk bercerita keluh dan kesah tanpa khawatir tersebar ke mana-mana. Jiah.

Dari banyak kepala yang saling timpal memberikan pendapatnya biasanya ada beragam suara. Ada yang harus lewat jalan pacaran dan ada yang percaya pada pertemuan yang terduga. Sampai saat ini, saya termasuk golongan yang kedua. Ikhtiar tetap, tapi dengan jalan yang tidak serius mendekat ke target, namun dengan cara lain. Kalau istilahnya ustaz Hanan, “cara langit.” Ya, kan isi kepala orang tidak seragam. Sah-sah saja.

Yang menempuh jalan ini di angkatan kami misalnya ada Rizka dan Taufik. Taufik dan Devia (mereka teman satu kelas, teman satu bidang di Syiar Dakwah dan PSDO BEM Himpunan, dan sekarang mau menuju satu hati) nanti tanggal 14 Mei mau melangsungkan akadnya. Aw, so sweet pisan. Jadi kabita.

. . .

Mohon maaf kalau jurnal ini membuat teman-teman jadi baper dan ikut-ikutan galau. Maksudnya bukan itu. Saya hanya mau sedikit mengabarkan saja apa yang mencur perhatian kami akhir-akhir ini. Namun kalau membuat teman-teman jadi berpikir cukup dalam setelah baca jurnal ini, saya sih senang saja.

Saya sepakat dengan isteri pak Wakil Wali Kota Bandung yang mengatakan bahwa jangan menganggap tabu mempelajari tentang hal-hal yang menunjang terhadap pernikahan sedini mungkin. Karena pernikahan memang bukanlah hal yang sederhana. Maksudnya untuk hal-hal seperti pengendalian emosi dan perkara-perkara semacamnya.

Namun jangan juga hal ini jadi topik yang meniadakan topik-topik krusial lainya. Perlu kita ingat banyak persoalan lain pula yang menuntut dipikirkan. Selamat memikirkan hal-hal di masa depan, lebih tepatnya merencanakannya sambil melibatkan Allah dalam perencanaan dan pengeksekusian serta penyikapan ketika ternyata hasilnya tak sesuai dengan yang kita inginkan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 1 Mei 2017

Advertisements
Membincangkan Kehidupan Pasca Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s