Kerlip Cahaya di Negeri Ini

1-e1474123680444.jpg

“Kamu calon konglomerat ya, Kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak mendapat pendidikan.” 

Wiji Thukul

Saya tak tahu pasti sejak kapan menyukai dunia pengabdian pada sekitar. Yang jelas saya cukup terlambat menyadarinya, bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu memang penting untuk dilakukan. Motivasi paling minimalnya sebagai bentuk ungkapan syukur diberikan kemapanan (harta, waktu, tenaga, dan akal pikiran) untuk selanjutnya mengestafetkan ke orang-orang yang tak seberuntung kita. Atau katakanlah atas dasar kemanusiaan.

Meski sebagai seorang muslim, tindak pengabdian yang dilakukan ujung-ujungnya disasarkan untuk melobi Allah agar menurunkan ridanya. Hal itu harus menjadi pegangan dalam setiap kesempatan melakukan apa pun. Karena tingkah laku manusia dalam Islam memang tak terlepas dari hukum. Bahkan untuk sesederhana makan dan tidur pun akan bernilai ibadah jika disertakan niat ketika memperbuatnya.

Referensi-referensi berkaitan dengan dunia pengabdian ini selalu menarik perhatian saya untuk mengetahuinya lebih lanjut. Berbagai media berupa tontonan, bacaan di buku atau artikel, bincang-bincang di radio hingga menghadiri secara langsung acara seminar, talkshow atau sharing, akan membuat mata saya berbinar dan diam-diam hati saya dibuatnya takjub. Dari langit-langit pikiran saya turun pertanyaan secara perlahan, “mengapa mereka bisa, sementara saya tidak?” Sebebal itu kah hati saya sehingga tak memulai apa yang dibisa untuk diberikan kepada masyarakat sekitar.

Saya malu sebagai seorang mahasiswa, tapi minim sekali berbuat baik kepada mereka. Katanya salah satu tri dharma perguruan tinggi itu mengabdi kepada masyarakat, tapi saya malah tutup mata dan telinga pura-pura buta dan tuli dengan yang sebenarnya terjadi.

Beberapa referensi yang begitu berkesan menurut saya, saya ceritakan ulang lalu dikomentari lewat jurnal-jurnal sebelumnya. Sebut saja mas Dalu Kirom lewat Gerakan Melukis Harapannya, mba Alia Noor Anoviar dengan Dream Delionnya, kang Puji Prabowo melalui Kejar Aurora, Ibu Miftahul Khoeriyah bersama mas Djit Hendra (suaminya) dengan SMP gratis, Mas Faiz dengan Sekolah Gajah Wong, hingga Kakek Aboe (seorang penarik beca) dengan bimbel gratisnya.

Selain ingin menginternalisasikan semangat para pendiri masing-masing gerakan yang diciptakan, lewat menuliskan kembali hasil bacaan saya atasnya, ada harapan besar orang-orang di lingkaran saya pun jadi merasakan apa yang saya rasakan ketika membacanya. Syukur kalau yang telah membaca akhirnya turut tergerak untuk berbuat.

Di jurnal kali ini saya ingin membahas tentang sebuah kebaikan sistematis yang digarap oleh sepasang suami isteri. Masih di bidang pendidikan. Namanya Cahaya Anak Negeri. Saya tahu tentangnya setelah tak sengaja menonton Kabar Siang TV One Segmen Kisah Inspirasi pada tanggal 11 April lalu. Satu kata yang terpikir waktu itu: menarik. Saya pun langsung mencari akun instagramnya. Ternyata ada. Langsung tanpa saya timbang-timbang terlebih dulu saya kemudian mem-follow nya.

Awalnya komunitas pendidikan ini bernama Sanggar Anak Matahari. Didirikan sekitar tahun 2009. Meski sebelumnya embrionya telah ada sejak tahun 2006 di mana Andi sebagai Suhandi sebagai pendiri memulainya dengan mengajar mengaji di tempat tinggalnya, Sukabumi.

Seiring orientasi dan segmentasi sasaran yang kian meluas, dipandang perlu pengubahan nama sebagai refresentasi dari apa yang dilakukan. Barulah kemudian pada tanggal 1 April 2013 akhirnya diubah namanya menjadi Cahaya Anak Negeri tentu dengan harapan yang sangat mulia. Karena nama sanggar sendiri lebih identik ke hal-hal berbau seni saja. Cahaya Anak Negeri berada di Bekasi, Jawa Barat.

Dari yang awalnya hanya berfokus pada anak-anak jalanan, kini Cahaya Anak Negeri pun memfasilitasi anak-anak yatim dan dhuafa, anak-anak daerah yang berprestasi namun terkendala kondisi ekonomi untuk disekolahkan, hingga menyentuh pemberdayaan orang tua dan lansia.

Seperti kekompakan Ibu Miftahul Khoeriyah dan suaminya yang mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak di sekitar rumahnya, Cahaya Anak Negeri pun ditopang dengan kolaborasi pasangan Andi Suhandi dan Nadiah Abidin. Alih-alih fokus pada keluarga sendiri, keduanya merasa perlu untuk berbagi kebahagiaan lewat menyediakan fasilitas bagi anak-anak yang tak beruntung di luaran sana.

Semuanya digarap dengan niat tulus tanpa mengharap tepuk tangan banyak orang. Adapun berbagai penghargaan yang datang, barangkali merupakan sebentuk apresiasi atas kerja ikhlasnya selama ini. Sekali-kali bukan itu tujuan utamanya. Itu hanya sebagaian kecil dari dampak usaha nyata mencerdaskan anak bangsa. Melihat anak-anak binaannya sukses, dibuktikan dengan pencapaian dan prestasi dan kian dekat dengan cita-citanya merupakan kebahagiaan tak terkira bagi bang Andi dan bu Nadiah juga kawan-kawan yang terlibat di Cahaya Anak Negeri.

Saya kira tak semua orang memiliki kepekaan sedemikian rupa yang akhirnya mewujud tindakan nyata memberikan apa yang dibisanya untuk mengubah satu keadaan. Pasangan yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan negeri ini sudah selayaknya diapresiasi karena telah dengan sukarela mendidik anak bangsa untuk mendapatkan hak memperoleh pendidikan sebagaimana mestinya. Mereka adalah pahlawan yang tak gila akan pujian namun lakunya memancarkan manfaat yang sangat menyilaukan. Keterlaluan kalau kita tak malu melihat apa yang telah mereka kerjakan.

Saya selalu ingin tahu bagaimana jalan pikiran mereka-mereka yang secara nyata telah berbuat banyak bagi negeri ini. Saya ingin merasakan bagaimana kegelisahan bekerja sangat hebat hingga menggoncangkan jiwanya lalu akhirnya memutuskan bergerak menjadikan nyata cita-cita ideal yang ada di kepalanya. Saya ingin melihat secara langsung bagaimana mereka melalui caci-maki dari orang-orang yang memandang sebelah mata upayanya di awal-awal masa perintisan gerakannya masing-masing. Apa yang membuat mereka begitu kuat untuk tak berbalik arah? Saya mau belajar berkaitan dengan amalan istikomah sehingga yang mereka lakukan tak lantas bubar dalam waktu yang sebentar.

Sebagai seorang pembelajar sejati, nampaknya tak berlebihan kalau kita berendah hati belajar dari mereka yang telah dan sedang berbuat baik melalui berbagai wahana: gerakan, komunitas, pengabdian dan apa pun namanya. Mereka telah menang melawan sisi lain di dirinya yang menyeret untuk berlaku malas, takut, dan lemah.

Semoga kita dikuatkan untuk juga mengikuti jejak-jejak mereka yang telah berjalan jauh. Dalam arti merealisasikan niat-niat baik yang sudah lama mengendap dalam bank bernama angan-angan agar dampaknya bisa dirasakan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 3 Mei 2017

Sumber gambar: Riverpost.id

Advertisements
Kerlip Cahaya di Negeri Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s