Jurnal ke-100

Banner_b64bb783-d5db-4e7a-9630-cdd47d045be0.jpg

Yeah, akhirnya tiba juga di check point pertama, jurnal ke-100. Ini bab pertama dengan satu batas kertas berwarna mencolok kalau di skripsi mah. Ternyata sudah sejauh ini. Awalnya saya tak terlalu yakin akan menggapai tulisan ke-100, apalagi tiba di tulisan ke-365, meskipun berekspektasi mah iya. Serasa jauh pisan bray.

Tapi saya teringat cerita salah seorang dosen yang ketika masih muda menjadi pembina ekskul pecinta alam. Menurutnya, untuk memotivasi anak binaannya agar bisa sampai di puncak gunung adalah dengan memecah target yang dituju menjadi beberapa bagian kecil. Dengan begitu, ada target-target minimal untuk selanjutnya tanpa terasa tiba di tujuan utama.

Berhenti pada tahap membayangkan satu tujuan hanya akan membuat optimis tak akan terbit dari pikiran. Makanya penting untuk mengimbangi merencanakan dan memulai. Dalam hidup saya sampai saat ini kalau dipikir-pikir ulang ternyata lebih banyak yang berhasil berjalan karena sesegera mungkin dimulai ketimbang yang berlama-lama dibuat konsepannya. Misalnya Planet Antariksa dan IPAI Inspiring Forum. Keduanya memang melalui tahap perencanaan, tapi seingat saya tak detail-detail amat. Allah lah yang kemudian akan memandu ke mana kaki ini harus melangkah untuk membuka gerbang-gerbang peluang. Intinya saya dibelajarkan dalam prosesnya. Allah yang mendidik saya.

Oh iya, pada jurnal ini saya semacam akan berbagi kebahagiaan telah menulis sebanyak 100 tulisan dalam hitungan 4 bulan. Di mana ketika sebelumnya tidak menargetkan menulis setiap hari saya tak pernah memperoleh pencapaian seperti ini.

Ketika melihat total postingan dalam setahun di blog pribadi (wordpress) lalu membandingkannya dengan blog orang lain saya merasa sama sekali tak produktif. Sebegitu sibukkah saya selama 365 hari hidup? Atau alasannya hanya karena tersandung perkara receh seperti malas? Saya merasa harus jujur kalau penyebabnya adalah jawaban dari pertanyaan retoris yang kedua. Katanya ingin jadi penulis, ingin punya buku dengan nama sendiri sebagai pengarangnya, tapi untuk nulis saja hoream nya bukan main. Mimpi kali ye. Maaf-maaf, tidak bermaksud menyindir.

. . .

Kalau dalam organisasi, sebutlah Himpunan mahasiswa Jurusan, biasanya diadakan evaluasi triwulan, maka saya pun akan coba menerapkannya dalam project pribadi ini. Beneran, saya tidak janjian dengan teman lain untuk menggarapnya. Ini lahir begitu saja dan memang terinspirasi bung Fiersa Besari. Dengan mengevaluasi semoga saja ada peningkatan kualitas dari tulisan-tulisan yang dibuat tanpa perancanaan yang ketat ini.

Mari kita mengingat prinsip travelling yang kata teteh Cinta di film AADC lebih menekankan pada prosesnya ketimbang tujuan. “Yang penting itu the journey, not the destination.” Mudah-mudahan dari setiap jurnal yang diterbitkan tak hanya berisi curhatan menyebalkan, namun terselip hikmah-hikmah yang menggugah bagi pembacanya.

Di tulisan ini saya akan cerita beberapa poin seputar jurnal Ilmyah. Saya menjabarkan arahnya dengan patokan beberapa pertanyaan sebagai berikut: Apa yang didapat sejauh ini? Apa saja kebutuhan untuk menjurnal? Apa harapan dari perjalanan menjurnal? Bagaimana kalau jurnal berhenti sebelum target selesai? Jangan malaweung, perhatikan dengan saksama!

Apa yang didapat sejauh ini dari menjurnal?

Dapat apa dulu nih? Materi? Jelas saya tak mendapatkan uang sepeser pun dari proses nulis jurnal hampir tiap hari. Saya katakan hampir tiap hari karena kenyataannya ada beberapa hari di mana saya bolos menulis. Daripada mendapat uang, saya malah mengeluarkannya untuk keperluan kuota internet.

Sebenarnya bisa saja irit menggunakan kuota dengan cara datang ke kampus memanfaatkan fasilitas wifi yang gratis. Tapi kalau tiap hari juga kan riweuh. Jadi, kalau ada yang tertarik untuk menulis jurnal juga, jatah untuk paket internet harus dialokasikan. Coba mulailah dengan mengumpulkan niat sekuat mungkin. Tak perlu harus banyak-banyak. Latihan saja selama 30 hari di bulan tertentu. Bisa tuh jurnal selama bulan Ramadhan yang sebentar lagi. Soalnya saya pun sebelumnya pernah menulis 30 hari selama Ramadhan. Meski hanya kuat sampai 21 hari. Bisa di cek di ilmyirfan.wordpress.com.

Walaupun secara materi tak ada pemasukan lewat nulis jurnal ini, saya tetap ingin melakukannya. Alasan terkuatnya adalah karena saya mendapatkan hal lain yang tak kalah berarti ketimbang materi, yaitu bahagia sewaktu menjalankannya. Seolah alasan klasik, namun memang itulah motor penggerak bagi saya pribadi yang menguatkan diri terus menulis.

Selain bahagia, lewat wasilah menjurnal saya mendapatkan banyak teman-teman baru. Mereka rata-rata baru menyenangi proses menulis, jadi cukup apresiatif ketika menemukan tulisan yang dianggapnya menarik dan enak ketika dibaca. Saya memang tipikal orang yang senang menjalin relasi dengan orang-orang baru.

Kalau bicara mengenai peluang, kenalan-kenalan baru ini bisa diarahkan untuk jadi pembaca potensial karya-karya kita. Ketika sudah menemukan ritme dari gaya tulisan seorang penjurnal, saya kira mereka akan bersetia atas tulisan-tulisan yang kita tulis setiap hari.

Bahkan saat buku yang kita tulis sudah selesai dan siap terbit, mereka sangat mungkin membeli buku tersebut. Antusiasmenya memberikan penghargaan atas kualitas tulis kita membuat mereka tak akan pelit mengeluarkan sedikit uang untuk memboyong buku yang kita tulis ke rumahnya. Ini bisa dijadikan semacam suntikan motivasi agar berserius menggodok calon buku atas nama diri kita sendiri.

Lewat jurnal pun, tulisan saya tentang membaca karena dikirimkan ke media cetak ternyata dimuat juga. Tepatnya di rubrik Pembaca Menulis Republika. Itu salah satu contoh bahwa jurnal memiliki manfaat segudang. Cadangan ide dalam bentuk tulisan itu sangat banyak dan bisa diotak-atik untuk dikirim dalam bentuk lain ke berbagai media.

Hal yang tak kalah penting adalah saya mendapat banyak referensi blog yang menarik dan mengandung banyak hikmah dan pelajaran di dalamnya. Tanpa ada project ini sepertinya akan sulit untuk menemukan blog-blog berisi harta karun itu. Saya merasakan sendiri setelah membaca beberapa di antaranya, persepsi saya akan sesuatu jadi berubah secara perlahan. Saya terdorong untuk memperbaiki diri karena banyak tertampar oleh tulisan-tulisan yang telah dibaca.

Apa harapan dari perjalanan menjurnal?

Bagi saya membuat jurnal harian meskipun tak melulu isinya bentuk curhatan atas pengalaman hidup adalah ikhtiar merekam hal-hal yang terpikir dan terasakan sehari-hari. Hal-hal semacam itu tak bisa ditangkap media kamera yang hanya mampu mengabadikan bentuk luar saja. Tulisan mampu mengungkap dan menyimpan sisi-sisi tersembunyi dari balik sebuah peristiwa.

Berdasarkan kemampuan proses menulis (meskipun nampak seolah sederhana), dalam hal ini jurnal yang seperti itu, saya kira melakukannya menjadi satu aktivitas yang menyenangkan. Selain mendapatkan arsip kenangan yang begitu kaya, saya pun ingin menjadikan jurnal pribadi sebagai celengan inspirasi yang bisa diambil kapan saja semau saya.

Sementara untuk harapan yang sifatnya berkaitan bukan hanya untuk diri sendiri, saya ingin melalui menulis lalu membagikannya ke orang-orang, ada bahagia yang tersampaikan dan diterima oleh mereka. Karena saya menemukan rumus pasti, bahwa membuat orang bahagia adalah frasa lain dari kesiapan menerima kebahagiaan yang berlebih-lebih lagi. Saya begitu candu dengan memperoleh kebagiaan selama hidup di dunia.

Syukurlah kalau ada orang-orang yang tercerahkan dengan perspektif, tanggapan, dan masukan-masukan saya akan satu hal. Dengan hanya melakukannya secara verbal saya hanya menjangkau orang-orang secara terbatas. Sementara melalui tulisan, gagasan-gagasan saya bisa tersampai dengan mudah disamping juga murah. So, menulislah! Jurnal salah satunya.

 

Bagaimana kalau jurnal berhenti sebelum target selesai?

Memutuskan mengakhiri jurnal sebelum tuntas menjadi pilihan yang kelihatan seperti ide bagus. Saya jadi tidak akan memiliki tugas sehari-hari yang memberatkan, karena toh juga tidak dibayar. Seolah akan baik-baik saja tanpa risiko apa pun. Namun saya mencoba-coba pergi ke masa depan melalui kemampuan imajinasi. Hal itu tampak akan menyenangkan, meski juga di sisi lainnya saya menemukan peluang sesal yang teramat.

Bayangkan saja, menyusun satu pola kebiasaan baik menulis tiap hari ternyata tak pernah mudah. Ini sudah melampaui kuantitas hari yang berdasarkan pengalaman ketika manusia melakukannya akan menimbulkan satu kebiasaan baru, yakni 21 hari. Saya sudah melakukannya selama sekitar 100 hari. Apakah tak sayang kalau tiba-tiba diakhiri karena alasan tidak berbobot berupa malas, menyerah, dan tak punya ide lagi.

Jadi, jawaban atas pertanyaan ini adalah saya akan menyesal sekali. Semoga saja saya mampu melawan ego-ego seorang pecundang sejati yang selalu mengedepankan alasan sebagai pembenaran. Semangat, semangat, semangat sampai akhir!

 

Apa saja kebutuhan untuk menjurnal?

Saya tak ingin menjadi seolah-olah kompor yang mengajak orang berbondong-bondong menulis jurnal digital di masing-masing media sosialnya. Kalau pun ingin ada yang bersama-sama turut membuat jurnal, saya mau keinginan mereka memang benar-benar inisiatif dari dirinya sendiri, tanpa ada intervensi dari luar dirinya, apalagi ada rasa diintimidasi.

Saya tidak bisa membohongi diri kalau ada yang memang tersetrum untuk kemudian mengikuti apa yang saya lakukan merupakan kebahagiaan luar biasa bagi saya. Ternyata hal kecil ini memberikan dampak bagi orang lain. Bukankah sudah seharusnya sebagai seorang manusia harus menimbun sebanyak mungkin manfaat bagi manusia lainnya?

Oleh karena itu, bagi siapa pun yang mulai tertarik, ayo segera mulai dan jangan terlalu banyak mikir. Mikirnya sambil jalan saja. Lalu apa yang harus dipersiapkan untuk mengeksekusinya? Sederhana. Menjurnal itu seperti mengerjakan berbagai rutinitas kita sehari-hari.

Bagi pelajar dan mahasiswa barangkali tugas menjadi hal yang tak bisa terpisahkan dalam keseharian. Nah, jurnal pun tak jauh beda dengan tugas sekolah dan kuliah. Tak ada yang istimewa. Kita hanya perlu menyerap sebanyak mungkin informasi ke dalam kepala, dan pandai mengolahnya sedemikian rupa hingga akhirnya memindahwujudkan menjadi rangkaian kata-kata.

Saya akan sedikit berbagi tentang apa yang biasa saya lakukan sewaktu menjurnal. Seingat saya, hampir hari ke-100 ini konten jurnal yang ditulis tak seragam dan begitu beragam. Ada puisi, cerita pendek, prosa, tulisan reflektif, catatan perjalanan, tanggapan atas satu hal, surat untuk seseorang yang entah siapa ia, kesan atas seseorang, ajakan untuk menulis dan membaca, serta beragam isi tulisan lainnya. Maka referensi menjadi sangat penting dalam hal ini.

Di awal-awal, saya begitu berat sekali ketika sudah masuk hari baru di mana satu jurnal harus terbit di tumblr dan instagram. Saya mulai kerepotan kalau hari sudah gelap dan ide jurnal tak kunjung di dapat. Itu berlaku pada saat 30 hari pertama.

Setelah itu, saya merasakan ada perubahan bahwa membuat jurnal tak sesulit ketika awal-awal dulu. Hal yang saya temui dalam keseharian, hal yang saya baca secara sekilas, curhatan teman, angan-angan tentang masa depan, perasaan resah, dan lainnya merupakan bahan berharga untuk jurnal Ilmyah. Saya hanya perlu mengasah tingkat kepekaan agar betul-betul di tingkat peka paling maksimal.

Kalau perlengkapan yang biasa saya siapkan untuk menulis jurnal antara lain: HVS kosong, pulpen, buku, makanan ringan dan berat, film, laptop plus charger (karena baterainya ngedrop), kuota internet. Modal lainnya adalah sering ngobrol (dengan siapa pun), jalan-jalan, dan berusaha jadi peka menangkap hal-hal yang terjadi di sekeliling. Sesederhana itu. Ribet itu hanya masalah karena terlalu banyak dipikirkan. Ayo konkretkan saja!

. . .

Jurnal ini saya tulis sebagai bentuk syukur karena sudah berjalan sejauh ini dalam dunia perjurnalan. Alhamdulillah kalau ada yang di hatinya muncul riak-riak kecil keinginan untuk membuat jurnal juga. Atau sekadar terhibur dengan jurnal-jurnal saya. “Ah, ini gue banget,” misalnya.

Kalau mau berkomunikasi lebih lanjut seperti berkonsultasi, silakan saja. Insya Allah saya bantu sebisanya. Semakin banyak yang menjurnal saya kira akan makin banyak kebaikan yang tersebar. Lantas akan terlahir banyak buku dari rahim jurnal digital tiap-tiap kita. Seolah iseng-iseng, namun membuahkan karya yang berguna bagi sesama.

Spesial kepada teman-teman yang berlangganan jurnal Ilmyah ini—baik yang menunjukan dirinya atau yang silent reader namun dalam diamnya mendo’akan—saya ucapkan terimakasih. Tanpa do’a dan dukungan kalian sepertinya gagasan ini hanya akan tersimpan rapi di lembaran kertas buku catatan pribadi saya saja. Sekali lagi, nuhun.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 30 April 2017

sumber gambar: Store.dftba.com

Advertisements
Jurnal ke-100

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s