Saya Tak Ingin (Merasa) Sampai

tumblr_inline_ov3k4qocw11t773pi_500

Kenapa tulisan saya harus dibaca orang? Sementara ada yang lebih perlu dibaca daripada tulisan acak-acakan ini. Alquran terutama. Waktu sangat berharga dan tidak untuk ditukar dengan tulisan yang nir makna.

Tombol suka dan komentar-komentar di media sosial seringkali bernada menyemangati, memuji, sampai mendorong untuk menerbitkan buku menjadi sangat menyilapkan pandangan kalau tulisan yang dihasilkan sudah layak dipublikasikan. Lalu jumawalah kita, atau saya lebih tepatnya dengan tepuk tangan orang-orang yang menilai dengan serampangan akibat mereka pun jarang membaca karya-karya bagus dan berkelas. Continue reading “Saya Tak Ingin (Merasa) Sampai”

Advertisements
Saya Tak Ingin (Merasa) Sampai

Terharu Mengenang (Jasa) Ibu

Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku. Aku akan menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya di halaman belakang untuk makan malam yang lengang. Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku makan tanpa bernafas.

Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum. Aku ingin menyimak seluruh kata yang tidak ia ucapkan. Aku ingin hari-harinya sibuk menebak siapa yang membuatku tiba-tiba suka bernyanyi di kamar mandi.”

M. Aan Mansyur, Pulang ke Dapur Ibu dalam Melihat Api Bekerja

Pagi menuju tadi saya membuka youtube untuk melihat video-video inspiratif. Meski kalau boleh jujur awalnya mah ngetik keyword film cinta romantis sih, he. Lalu ada beberapa video Thailand yang memang berisi iklan namun kontennya mengharukan atau justru menginspirasi. Tibalah saya di video dengan judul agak lebay, Dijamin Nangis Nonton Iklan Thailand Tentang Ibu Ini. Saya klik lah video itu tanpa mikir lama.

Beberapa menit pun berlalu. Dan air mata mulai berjatuhan tan tertahankan. Tentang ibu, atau saya memanggil ibu saya dengan panggilan mamah memang selalu mengundang haru saat mengingat jasa-jasanya. Terlebih banyak hal-hal yang saya pikir tak pantas saya lakukan padanya, termasuk menunda-nunda kelulusan karena alasan tak jelas. Continue reading “Terharu Mengenang (Jasa) Ibu”

Terharu Mengenang (Jasa) Ibu

Kenapa Saya Suka (Menulis) Puisi?

Saya menulis puisi sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah. Hanya saja memang waktu itu menulis serampangan dengan tanpa tahu puisi yang baik dan tidak itu seperti apa. Saya hanya mengandalkan feeling saja.

Awal-awal ketertarikan pada puisi yaitu saat saya terinspirasi seorang kakak kelas yang menulis puisi di sebuah buku catatan. Buku itu dibungkus rapi dan diisi puisi-puisi karangannya yang ditulis tangan dengan sangat bagus. Mungkin didorong atas dasar rasa sukanya pada seseorang alasan dia bisa seproduktif dan seromantis itu. Saya pun ingin sekali mengikuti jejaknya.

Bermodalkan sedikit pengetahuan di kelas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membahas mengenai puisi, saya pun mengarang-ngarang sendiri beberapa judul puisi dan menuliskannya di sebuah buku catatan. Continue reading “Kenapa Saya Suka (Menulis) Puisi?”

Kenapa Saya Suka (Menulis) Puisi?

Belajar Mengolah Rasa

tumblr_inline_ounhufvt4u1t773pi_500

Bersama adik tingkat sekaligus teman sekamar kos, saya pergi mengikuti kegiatan sosial yang rutin dilakukan gerakan Berbagi Nasi Bandung malam minggu kemarin. Bagi yang punya kekasih, malam itu mungkin jadi momentum untuk pergi keluar bersama (saya juga bingung agendanya ngapain aja). Sementara bagi kami yang masih sendiri, malam minggu tak ada sisi luar biasanya. Ya, biasa saja. Walau agak beda dari hari-hari lain karena ini akhir pekan, yang mestinya (sejenak) akhir dari kesibukan dan saatnya memanjakan tubuh untuk sedikit berliburan.

Berbagi Nasi merupakan sebuah gerakan sukarela yang lahir dari seorang warga Bandung. Saya tak tahu pasti tentang kapan tepatnya dan apa yang melatarbelakanginya. Hanya saja di caption salah satu postingan di IG nya dijelaskan secara singkat kalau berbagi nasi adalah “organisasi tanpa bentuk. Tanpa background. Tanpa agenda yang rumit. Hanya punya nama, ide dan harapan untuk membantu dan semangat untuk berbagi kepada sesama.” Continue reading “Belajar Mengolah Rasa”

Belajar Mengolah Rasa

Menjadi Orang Penting

Kalau tidak berkarya, kamu mau jadi manusia macam apa? Lahir, membebani dunia, mati, lalu dilupakan hanya dalam hitungan bulan? Ogah. Saya sangat takut termasuk ke dalam golongan seperti demikian. Benar-benar tak jadi orang penting dalam kehidupan di dunia yang singkat jika dibandingkan dengan masa di akhirat tentu tak ada apa-apanya.

Maka, penting bagi kita untuk jadi orang penting. Bukan sok penting yah, tapi memang yang dibutuhkan banyak kalangan. Tak adanya diri kita mendatangkan kehampaan. Sementara kehadirannya selalu dinanti-nantikan. Insya Allah jika nanti dijemput malaikat maut, orang-orang yang pernah terpapar kebaikan kita, mereka sungguh akan merasa kehilangan.

Bukan juga berniat ingin jadi seeksis-eksisnya orang, sama sekali bukan itu tujuannya. Tapi selalu berorientasi jadi yang turut serta di penyumbang solusi atas segenap persoalan di tiap lingkaran yang ada, itu maksud saya tentang jadi orang penting itu. Bahkan menjadi orang penting pun tak harus lebih dulu mendudui sebuah posisi strategis semacam pimpinan atau ketua.

Menjadi orang penting itu intinya bisa menjadi penggerak dan memberikan pengaruh.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 10 Agustus 2017

Menjadi Orang Penting

Berlari Lebih Kencang

tumblr_inline_oudkulivhj1t773pi_500

Tak ada alasan sama sekali untuk berhenti belajar. Sebab dunia terus berkembang dan hal-hal baru tak terelakan lagi keberadaanya. Kebenaran hari kemarin bisa jadi direvisi lewat penemuan-penemuan baru keesokan harinya. Terus berlanjut seperti itu berulang-ulang. Membentuk siklus. Maka bila seseorang merasa paling paham atas satu hal, siap-siaplah ia akan terperosok pada lembah nista penuh gelap yang sungguh pengap.

Poin saya mengenai belajar ini akan secara khusus diarahkan pada tentang menulis dan membaca. Saya makin merasa kecil dihadapkan dengan mereka yang lebih dulu menulis dan lebih awal tulisannya bagus dan membuat setiap pembaca terkagum-kagum. Mereka sudah di jarak yang jauh, dan saya baru mengambil ancang-ancang, harus berlari dengan lebih kencang.

Lebih banyak melakukan mungkin bukan satu-satunya cara untuk menggapai kualitas lebih dalam berkarya. Tapi melakukannya memang tak pernah sia-sia. Melacak kiprah orang-orang yang dimaksud menibakan saya pada satu kesimpulan, mereka berbuat dengan edan-edanan. Tak peduli usia masih muda, mereka melakukannya dengan kesungguhan yang penuh. Saya dihinggapi malu yang berlebih. Meski dalam waktu bersamaan jadi tersadarkan. Jika berbuat dengan tulus tak perlu mengharap dielu-elukan.

Mereka harus dilewati. Namun bukan untuk dikalahkan. Mereka teman berlari yang bisa membuatmu enggan bersantai-santai. Musuh sesungguhnya adalah duplikasi dirimu yang menyuruh melakukan hal-hal tak berguna terlebih merugikan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8 Agustus 2017

Sumber gambar: Running.competitor.com

Berlari Lebih Kencang

Menulis Esai sebagai Panggilan Hati

tumblr_inline_oubl7qw8um1t773pi_500

Saya ingin meminta kepada kalian untuk mendefinisikan tentang panggilan hati. Tak perlu diutarakan di komentar jurnal ini. Cukup simpan dalam benak masing-masing. Itu menurut kalian, saya tak akan mendebatnya. Semoga kurang lebih sama dengan pemahaman saya juga. Definisi di sini mungkin terlalu berat bahasanya. Maksud saya lebih ke arah pemahaman atau bagaimana kalian memaknai panggilan hati tadi.

Saya sendiri memahami panggilan hati sebagai satu ajakan kuat untuk melakukan sesuatu di mana saat mengerjakannya beban yang ada bisa tidak dianggap sesuatu yang berat dipikul. Mengalir begitu saja karena beroleh kebahagiaan tatkala hasilnya mulai kelihatan. Bahkan ketika tak menghasilkan sekali pun, sesuatu itu tetap menyenangkan untuk dilakukan. Seolah menemukan satu rumus baru dari bahagia, tak melulu soal harta dan kawan-kawannya.

Salah satu hal yang saya rasakan sebagai panggilan hati saat ini selain bermain bersama anak-anak tiap Sabtu di Planet Antariksa, yaitu menulis esai.

Dulu, dulu banget di awal-awal kuliah istilah esai masih sangat asing di benak saya. Jenis tulisan seperti apakah itu? Lalu tibalah saya di masa-masa pencarian definisi mengenai esai lewat bantuan internet yang hanya dengan kerja sangat sederhana bisa dengan cepat tahu mengenai makna sesuatu. Esai salah satunya. Continue reading “Menulis Esai sebagai Panggilan Hati”

Menulis Esai sebagai Panggilan Hati