Perasaan Asing

Saya beberapa kali mengalami perasaan ini. Mungkin ini panggilan kebaikan yang satu kutubnya sudah Allah simpan di dalam hati ini dan satu kutub lagi Allah sebar di setiap kepribadian orang-orang atau pada sebuah kejadian. Sehingga kalau keduanya bertemu maka dapat dipastikan akan terjadi tarik menarik antar satu sama lain. Ini tentang perasaan asing yang memaksa masuk setelahnya melihat sesuatu. Saya akan cerita kemudian.
///
Kawasan Gegerkalong merupakan semacam pusat kotanya bagi mahasiswa-mahasiswa di sekitar UPI atau kampus lain yang berada di sekelilingnya. Ramai sekali dari sore menjelang malam. Terutama kalau malam Jum’at karena ada kajian Ma’rifatullah bersama Aa Gym di DT. Jalanan Gegerkalong disesaki banyak mobil dan motor persis seperti Jakarta. Macet.
Saya sebenarnya tidak ngekos di Gegerkalong. Mendapati momen-momen seperti barusan (Jumat, 23/09/16) hanya sesekali ditemui. Tapi kalau dihitung dari pertama kali saya kuliah di UPI, perasaan seperti ini sangat sering terjadi. Ini tentang kekaguman pada sosok-sosok orang yang saya temui ketika saya berada di jalan-jalan Gerlong.
Di DT ada salah satu program pesantren yang fokus pada menghafal Alquran. Para santrinya menggunakan syal warna biru sebagai identitas. Mereka biasanya pada waktu-waktu tertentu berseliweran dari atau menuju masjid DT. Entah mau setoran,  muraja’ah atau kajian. Saya kurang tahu. Saya jujur selalu memperhatikan mereka dari jauh maupun dari dekat. Ingin rasanya berada di posisi itu dan menghafalkan kitab suci yang telah Allah jaminkan mudah dalam menghafalnya. Tapi, niat itu selalu kandas oleh ketakutan-ketakutan tak beralasan. Hal-hal baik memang terkadang banyak godaanya. Tak seperti berbuat maksiat. Kita selalu berupaya mencari 1001 alasan untuk melegitimasi perbuatan itu.
Setahu saya, santri program tahfidz itu ada dua macam. Pertama, adalah santri yang mondok tok. Dan yang kedua santri yang sambil berkuliah. Mereka tentu punya alasan masing-masing kenapa memutuskan untuk menghabiskan masa muda di asrama. Menghafal kalam-Nya setiap waktu dan kesempatan. Ada harapan yang besar setelahnya mereka menuntaskan proses menghafal Alquran yang seumur hidup itu. Tapi, saya menaruh kekaguman lebih terhadap santri yang juga berkuliah. Mereka strong banget pokoknya. Beberapa teman, adik kelas dan kakak kelas saya pun ada di sana, mengikuti program itu. Luar biasa.
Lalu, sebelum saya akhiri tulisan ini, saya akan bahas tentang perasaan aneh yang saya sebut di awal. Yang saya sebutkan aneh adalah perasaan itu selalu tiba-tiba datang dan sukses membuat saya merenung beberapa saat.
Masih tentang para penghafal Alquran. Tapi mereka adalah santri perempuannya. Saya tidak tahu ketika melihat mereka berjalan sedikit cepat sambil di tangan kirinya menenteng mushaf kecil, sontak saja saya mengalami perasaan tak karuan. Atau juga ketika mereka naik motor atau sekadar naik sepeda yang juga mau ke tempat yang mereka tuju. Rasanya adem banget ngeliatnya. Ya, saya tentu tidak naif. Sosok-sosok seperti itu merupakan idaman para pria, termasuk saya. Udah mah solehah, cantik, baik, dan juga bermental pejuang. Menghafal Alquran sekian tahun tidak mudah lo. Butuh kesabaran dan kerja keras.
Semoga mimpi menghafal Alquran ini tidak sebatas karena ingin mendapatkan pendamping yang juga seorang penghafal. Terlalu rendah kalau seperti itu niatnya. Padahal dalam hadits pembuka di Arba’in juga dengan tegas disebutkan bahwa yang hijrahnya karena wanita maka ia akan mendapatkannya. Namun, ketika hijrah diniatkan karena Allah, apapun akan mengikutinya, termasuk wanita pujaan. Semoga Allah melindungi niat-niat busuk dan rendahan kita dalam berbuat baik.

Muhammad Irfan Ilmy
Bandung, 23 dan 25 September 2016

KEBERARTIAN

pohon kelapa.jpg

Nilai sebuah kehidupan ditentukan pada banyaknya pengaruh yang telah diberikan. Percuma saja umur panjang tapi hanya menjadi beban. Menggantung di dahan orang lain punya kekuasaan persis seperti benalu di pohon alpukat. Membuat tumbuh kembang buahnya terhambat.

Hingga tulisan ini diketikkan, saya merasa sangat minim memberikan keberartian pada mayoritas orang. Lebih banyak ikut-ikutan tanpa menyodorkan solusi tingkat tinggi atau sekadar mewacanakannya. Padahal usia tidak muda lagi. Tidak ada semacam alibi untuk mengelak, “ah, saya masih anak-anak. Belum pantas berbicara yang demikian. Atau buat apa membaca buku-buku berat yang membuat pusing kepala.” Continue reading

Menjadi Bagian Kampus Fiksi

“Menulis berbeda dengan menjadi penulis, yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman.” Kampus Fiksi.

Sebenarnya ini tulisan yang mulai saya garap sejak tanggal 6 Januari lalu. Sekarang sudah hampir 1 tahun dari pelaksanaan KF non fiksi yang saya ikuti pada bulan November 2015. Karena satu dan lain hal (kebanyakan karena serangan dari virus malas) saya tidak dengan segera menyelesaikan tulisan ini. Tapi, karena dorongan ingin mewujudkan kesyukuran karena telah diberikan kesempatan mengikuti pelatihan saya coba merampungkannya. Saya pun ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memberikan motivasi untuk peserta yang lolos seleksi KF namun terkendala masalah minimnya semangat untuk mengikuti. Continue reading

Energi Rangkai Kata

 

 

636017890045583544115391694_power-of-words.jpg

Ketika kata banyak kau cerna, bersiaplah tatkala buang air di toilet sekalipun, kata-kata tak kuasa menggelinjang ingin dikeluarkan. Di dekat toilet, siapkanlah sehelai kertas dan satu batang pulpen untuk mengikatnya supaya tak lekas melarikan diri. Ia pemalu, makanya ingin cepat berlalu. Ia ingin pergi, berlari membebaskan diri.

–Irfan Ilmy

Menulislah! Ketika enggan, kau akan menanggung sesal yang teramat atas risiko dilupakan oleh orang-orang terdekat lebih cepat. Tak ada alasan kuat yang bisa membuat mereka mengingatmu sedemikian kuat tersebab tiada manuskrip pengingat. Salah sendiri malas membaca, enggan berkata-kata di atas kertas selama napas masih bisa dihirup. Hanya sibuk mengguncing kesana kemari, rempong menghujat di mana-mana. Kata-kata terhamburkan sia-sia saja dan menguap dengan mudahnya. Continue reading

LORONG WAKTU

kepoan.com-5-bukti-kontroversial-mesin-waktu-benar-benar-bisa-dibuat-765x510.jpg

Dua puluh tahun dari sekarang, sekitar 40-an tahun usia saya, para peneliti telah berhasil membuat lorong waktu seperti sering dijadikan  gagasan utama pembuatan film. Saya sendiri dekat dengan salah satu peneliti tersebut. Ia adalah teman SMA saya yang mendapatkan beasiswa master dan dilanjutkan doktor di salah satu kampus bergengsi di negeri matahari terbit. Sedari SMA juga minat menelitinya sudah terlihat. Ia selalu penasaran dengan hal-hal berbau fisika dan concern dalam perkembangan science kontemporer.

Ia memiliki laboratorium pribadi yang dibangun persis di samping rumahnya. Ukurannya kecil saja kalau dilihat dari luar. Namun, ketika kita masuk ke dalam, ada tangga menurun yang membawa pengunjung menuju tempat percobaan yang luar biasa luas. Katakanlah seukuran stadion sepak bola yang sering kita lihat di televisi-televisi swasta lengkap dengan segala peralatan penelitian. Continue reading

SUNYI DALAM RAMAI

P_20160822_165900.jpg

1471883665562.jpg

Merasa sunyi meski tengah berada dalam ramai. Ada yang sering mengalami hal ini? Tentunya dalam beberapa fase kehidupan, kita selalu dipertemukan dengan hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kurang diharapkan. Kita kadang berupaya terlihat gembira meski ada yang terluka di sudut hati yang orang tak pernah mengetahuinya. Kita sembunyikan kesedihan yang kita punya dengan ditutupi senyum lebar. Berusaha berbaur dengan orang-orang yang tengah merasakan suka cita. Ah, membohongi diri akibat ulah sendiri.

Di hari-hari selama minggu ini saya menemukan kejadian yang berkaitan dengan merasa asing di suasana gembira. Mulai dari sidang skripsi teman-teman satu prodi satu angkatan, wisuda teman KKN juga teman satu angkatan, dan beberapa hari ke depan pernikahan teman satu angkatan juga. Continue reading

IPAI INSPIRING TALKS

sd.jpg

Prestasi merupakan sesuatu yang dicapai dengan penuh perjuangan. Dalam meraihnya tidak jarang seseorang harus melewati berbagai kegagalan, putus asa, dan lelah yang luar biasa. Meski begitu, dengan bermodalkan konsistensi dan usaha yang sungguh-sungguh, prestasi akan mampu diraih.

Makna prestasi bisa dipahami dari berbagai sudut pandang. Cakupan definisinya sangat luas dan akan sangat bergantung pada pengalaman dan pengetahuan dasar seseorang dalam menerjemahkannya. Salah satu pengertian yang popular mengenai prestasi adalah adanya pencapaian yang diwujudkan dengan teraihnya simbol-simbol kemenangan. Piala, medali, atau sertifikat misalnya. Meski begitu, prestasi yang ditujukan untuk membanggakan diri sendiri pada hakikatnya memiliki nilai yang tidak ada artinya. Idealnya prestasi dijadikan alat untuk menggerakkan orang agar melakukan kebaikan yang sama bahkan lebih baik. Continue reading