Ini Hari Kalian

61684244_373384779966370_5972747364095950615_n.jpg

Terimakasih atas pengorbanan kalian, wahai para guru. Pertama kali saya ucapkan terimakasih buat bapak dan mamah, karena keduanya memang berprofesi sebagai guru. Baik guru di SD dan MTs. dan sesudahnya jadi guru ngaji saya di TPA dan masjid. Hingga sekarang keduanya menjalani peran ini.

Seterusnya kepada guru SD yang mengajari saya baca, tulis dan berhitung. Tanpa kemampuan dasar itu, saya enggak bakalan bisa menempuh pendidikan yang tinggi. Saya enggak ngucapin ke guru TK secara khusus karena memang tidak pernah belajar di TK, langsung ke SD. Continue reading “Ini Hari Kalian”

Ini Hari Kalian

Menghadiri Seminar tentang Sastra di Era Digital

P_20190921_135234.jpg
Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Hari Jum’at (20/9/2019) kemarin saya mengikuti seminar bertema Babak Baru Sastra Indonesia di Era Literasi Digital dalam Wacana Sejarah Kebangsaan” yang bertempat di gedung Indonesia Menggungat. Bagi saya ini merupakan seminar dengan paket lengkap.

Pembicara yang dihadirkan merupakan nama-nama yang karyanya cukup dekat dengan saya. Pak Acep Zam-zam Noor, kang Rendy Jean Satria, dan kang Faisal Syahreza puisi-puisinya membersamai proses saya belajar menulis puisi. Meskipun belakangan untuk kang Faisal sendiri lebih banyak menulis prosa. Kehadiran ketiganya dalam satu seminar jangan sampai dilewatkan. Lagi pula di hari itu saya sedang sangat santai. Daripada malas-malasan, mending saya hadir di seminar itu. Continue reading “Menghadiri Seminar tentang Sastra di Era Digital”

Menghadiri Seminar tentang Sastra di Era Digital

Bermain dengan Anak-anak

Bermain dengan anak-anak memang begitu menyenangkan. Mereka menularkan semangat hidup yang luar biasa. Di kepala mereka mungkin hanya satu kata, bermain. Benak mereka secara otomatis terkoneksi dengan kata ini. Saya ralat, ada tambahan kata lain, jajan. Anak-anak juga sangat suka jajan.

Hanya saja tak semua anak beruntung mendapatkan keduanya. Banyak anak-anak yang secara ideal harusnya puas dengan bermain dan barangkali jajan (dengan sewajarnya) tapi tidak punya kesempatan itu. Bisa karena orang tua mereka tidak punya kemapanan secara ekonomi sehingga anak-anak mereka disuruh untuk bantu-bantu pekerjaannya. Dengan begitu waktu untuk bermain bersama teman-teman pun nyaris tak ada. Itu pun berlaku untuk menikmati berbagai jajanan. Uang buat memenuhi kebutuhan pokok makan sehari-hari saja belum pasti, apalagi buat membeli makanan-makanan ringan yang dijajakan para pedagang di sekitar sekolah dan di warung-warung dekat rumah. Continue reading “Bermain dengan Anak-anak”

Bermain dengan Anak-anak

Cerita Tentang Kecintaan Saya Pada Puisi

Saya biasanya menyampaikan ini kepada siapa saja yang bertanya tentang awal mula ketertarikan saya pada puisi. Sebab hal ini memang penting untuk saya sampaikan. Meskipun sebenarnya jarang juga ada yang bertanya kepada saya mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi minat saya pada puisi. Lagipula saya ini siapa di jagat perpuisian ini? Hanya anak kemarin pagi, eh sore, yang akhir-akhir ini sedang jatuh hati pada puisi. Saya ingin berbagi kisah kasmaran biasa saja ini kepada yang barangkali ingin tahu.

Akan tetapi bila ada yang mengikuti jurnal-jurnal saya di Tumblr (irfanilmy.tumblr.com) atau podcast saya, tentang hal ini sudah saya sampaikan lebih dari satu kali. Saya mulai mencintai puisi lantaran seorang kakak kelas di Madrasah Tsanawiyah sekitar 12 tahun lalu. Memori masa silam tersebut ternyata sangat ampuh untuk memberikan dorongan tak pernah surut agar saya terus berpuisi, mengakrabi diksi-diksi. Untunglah waktu itu saya mengikuti kekaguman pada sang kakak kelas yang punya buku catatan khusus berisi puisi-puisi dengan tanpa menunda-nunda juga untuk langsung membuatnya sendiri. Bila tidak seperti itu, sekarang mungkin saya tidak akan setertarik ini kepada puisi. Continue reading “Cerita Tentang Kecintaan Saya Pada Puisi”

Cerita Tentang Kecintaan Saya Pada Puisi

Meneladani Sikap Mencintai Ilmu dari Seorang Dosen Filsafat

Kata pak Syamsu menjelang Jumatan kemarin (28/12/18) ketika kuliah Filsafat Ilmu pertemuan terakhir bilang kalau filsafat itu kebingungan yang menyenangkan. Sama dengan menikah, katanya. Pernikahan itu sebuah penderitaan yang nyata. Tapi kalau sudah terlanjur menceburkan diri di dalamnya bakal terasa nikmat dan ketagihan, lanjut beliau.

Bagi bapak iya, lah bagi saya? Saya masih ada di titik bingungnya, menyenangkan dari mempelajarinya belum dirasakan. Jelas atuh. Baca buku-buku filsafatnya juga jarang. Kalau boleh jujur, baca 1 buku filsafat sampai selesai pun belum pernah. Ini merembet ke diskusi pastinya. Kalaupun berdiskusi, pasti banyak bengongnya dan enggak tuk-tek kayak permainan bulu tangkis itu. Banyak melesetnya. Dan skor saya terus-terusan 0. Menyedihkan. Continue reading “Meneladani Sikap Mencintai Ilmu dari Seorang Dosen Filsafat”

Meneladani Sikap Mencintai Ilmu dari Seorang Dosen Filsafat

Mengagumi-Nya

Orang-orang pada suka senja, tergugah pada sesuatu yang indah-indah, termasuk manusia berparas cantik dan ganteng. Orang-orang takjub pada pemandangan yang indah. Orang-orang menikmati pesona laut dan tempat-tempat yang memancarkan kenyamanan saat dipandang.

Saya suka senja, saya cenderung pada perempuan yang cantik, saya amat betah menyaksikan deburan ombak di laut, saya nyaman dengan belaian angin semilir yang hadir saat gerah singgah. Tapi saya seringkali hanya berhenti di sana. Saya tidak meneruskan kekaguman terhadap kondisi alam yang memunculkan sensasi keindahan itu kepada penciptanya. Padahal di balik penciptaan alam ini beserta kerumitan, kompleksitas, serta apa pun yang mungkin terjadi di dalamnya ada Yang Segala Maha di sana. Continue reading “Mengagumi-Nya”

Mengagumi-Nya

Mabuk Kata-kata

P_20181226_220113 (1).jpg

Ternyata begini rasanya mabuk, sensasinya aneh. Jangan bayangkan saya hilang akal sebab minum minuman terlarang. Masa mahasiswa PAI terjerumus pada yang gitu-gitu. Tidak, saya tidak sedang mabuk oleh alkohol. Saya mabuk kata-kata. Saya mungkin sedang terpilih oleh puisi untuk menuliskan mereka, membumikan mereka ke khalayak. Dan saya tentu bersyukur atas anugerah ini.

Hampir setiap hari saya membaca puisi, membaca ulasan tentang puisi, mendengarkan musikalisasi puisi, mencari tahu informasi banyak penyair yang pengalamannya berpuisi serta kiprah mereka terhadap masyarakat dan sastra amat banyak. Continue reading “Mabuk Kata-kata”

Mabuk Kata-kata