Poin-poin penting dari (Pematerian) Ngaji Inspiratif

38302208_2079816305364452_4330572604948611072_n.jpg

Semalam saya mengikuti Grand Launching Ngaji Inspiratif di Freddo Coffe Shop (jl. Merak No. 4). Ada 3 pemateri yang membawakan masing-masing pesan dengan tema inti mengenai kemerdekaan, yaitu kang Choqi, pak Ismir Kamili, Ustaz Elvandi. Di postingan ini saya hanya akan menuliskan ulang poin-poin yang dibawakan oleh pak Ismir dan kang El (begitu ia minta dipanggil, karena kalau ustaz katanya belum berjenggot).

Ismir Kamili (Co-Founder Muda Community)

Ada pertanyaan reflektif yang ditanyakan pak Ismir ke audiens tentang “bagaimana sih perasaan terjajah?” Maksudnya beliau meminta kami mengimajinasikan keadaan batin saat ada di masa-masa kelam tersebut. Ada dua peserta baik dari perempuan dan laki-laki yang jawaban intinya lebih mengarah pada geram, terlebih saat kemerdekaan berpendapat mengemukakan opini pribadi dibungkam. Ini mungkin lebih mengarah ke masa-masa orde baru. Continue reading “Poin-poin penting dari (Pematerian) Ngaji Inspiratif”

Advertisements
Poin-poin penting dari (Pematerian) Ngaji Inspiratif

Sharing tentang Menulis Esai

2.jpg

Sudah sedari lama saya ingin berbagi sedikit pengetahuan dan pengalaman tentang (menulis) esai di prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) UPI. Sebagai yang juga lahir di rahim IPAI, apa yang saya anggap perlu untuk ditularkan sebab hal itu memang penting, harus saya lakukan. Saya ingin kultur menulis di IPAI bisa (terus) tumbuh. Namun rencana itu dalam waktu yang lama hanya terus tinggal di dalam kepala hingga akhirnya mulai terealiasi pada akhir tahun 2017, waktu itu acaranya 2 hari 1 malam. Itu pun hasil kerjasama antara IPAI Inspiring Forum, Break Pos (sekarang Kalem.id), BEM HIMA IPAI dan beberapa alumni angkatan 2012. Keinginanan saya untuk secara khusus berbagi secara intens belum kunjung terlaksana.

Rencana ini akhirnya terwujudkan lewat proker BEM HIMA IPAI, bidang Tarbiyah Wa Dakwah (integrasi dua bidang yaitu Syiar Dakwah dan Pendidikan) di biro literasi. Pelatihan Penulisan Esai yang rencananya diselenggarakan sebanyak 4 kali ini dimulai pada hari Jum’at tanggal 3 Agustus kemarin dan saya sebagai pematerinya. Saya agak malu menyebut saya sebagai pemateri sebab materi yang saya sampaikan tidak terlalu bermanfaat sepertinya. Anggaplah saya sebagai yang lebih awal terjun ke dunia tulis menulis esai sharing pengalaman saja agar memberikan perspektif lain kepada para peserta. Continue reading “Sharing tentang Menulis Esai”

Sharing tentang Menulis Esai

Yang Tak Ada Habisnya Dibicarakan

DSC_6250

Bila ada yang tanya pada saya tentang penjelasan siapa yang paling sering direkam di ponsel, jawabannya yaitu pembicaraan pak Aam. Ini untuk kalangan dosen maupun pembicara-pembicara lain yang saya ikuti sesinya baik di acara pelatihan maupun seminar. Entahlah, saya rasa apa yang disampaikan beliau, suatu saat pasti akan berguna lagi. Satu kali penjelasan darinya teramat kurang, sebab momen yang begitu khusyuk tersebut memang layak buat terus diulang-ulang. Nasihat-nasihatnya yang menyejukkan harus disimpan dengan rapi agar suatu waktu dapat diputar lagi sebagai pengingat juga penyemangat.

Saya tak rajin untuk rutin menghitung berapa jumlah file suara pak Aam yang pernah direkam. Yang jelas sangat banyak. Bahkan saya pada suatu ketika pernah membuat folder khusus berisi rekaman beliau saat kuliah tafsir dan SPAI. Saya melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa itu bukan sebuah hal yang sia-sia. Tindakan itu justru bentuk kesungguhan untuk senantiasa dekat dengan sosoknya meski hanya lewat suara saja. Continue reading “Yang Tak Ada Habisnya Dibicarakan”

Yang Tak Ada Habisnya Dibicarakan

Rencana Perbaikan Diri

Terhitung sudah hampir 8 bulan saya menanggalkan status mahasiswa (jenjang S1). Tidak ada yang spesial. Saya melaluinya dengan tidak maksimal juga. Banyak kesempatan-kesempatan bagus yang dilewatkan begitu saja selama kuliah. Namun di sini saya ingin mengucap syukur kepada Allah yang telah menganugerahi pembelajaran-pembelajaran berharga saat menempuh studi di perguruan tinggi.

Kesempatan belajar bersama pemuda-pemuda terpilih dari berbagai daerah (kebanyakan di prodi saya dari Jawa Barat) ini tidak semua orang-orang bisa mengalaminya. Maka saya bertanggung jawab untuk minimal memberikan apa yang telah didapat—walau sedikit—ke masyarakat (terutama anak muda) di lingkungan saya. Kalau belum mampu memberi harta, setidaknya pemikiran dan tenaga. Jika belum mampu menyumbang keduanya, paling tidak saya menjauhkan diri dari menjadi duri dalam daging bagi mereka. Masa orang terpelajar bersikap tidak adil dalam hidupnya dengan merugikan banyak pihak. Kan tidak elok. Continue reading “Rencana Perbaikan Diri”

Rencana Perbaikan Diri

Kecaman

gettyimages-77931908.jpg

Aku mengutuk keabaianku pada hal-hal buruk yang terjadi di sekitar. Orang-orang yang kelaparan, kekacauan-kekacauan dalam skala kecil dan besar, kezaliman diri sendiri dan penguasa, dan keegoisan yang terus dilanggengkan sengaja tidak dilirik sebab dianggap tak menarik. Sementara kenyamanan dan kemewahan amat menggoda untuk tak bosan diupayakan. Bodoh. Tak bisa membedakan mana yang buruk dan baik. Mana yang harus dijadikan cara pandang dan yang jangan oleh seorang manusia.

Hidup tanpa memikirkan masyarakat tidak layak disebut hidup. Tak berlebihan kukira. Sebab hidup punya fitrah buat bersinggungan dengan bukan hanya diri sendiri. Kebutuhan ruhani dan jasadiyah selama di bumi mustahil  terpenuhi tanpa peran serta tangan orang lain.

Jadi, masih betahkah dengan nyaman yang menjebak berjuluk individualis? Fokus hanya pada tentang “aku” dan selalu tutup mata serta pura-pura tuli ihwal “mereka”. Jalan pikiran yang tidak boleh terus dikembangbiakkan apalagi ditularkan. Bisa celaka dunia oleh orang-orang yang terjangkiti virus macam ini.

Aku mengecam segala tingkah, tatapan sinis, dan bahkan keengganan untuk tahu permasalahan orang-orang lemah dengan kebutuhan buat diperhatikan.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 13 Maret 2018

Sumber gambar: Fortune.com

 

Kecaman

Menulis Esai Itu, Sulit

Membaca esai yang ditulis orang lain selalu menjadi hal menarik bagiku. Kebiasaan yang terasa mulai menyenangkan saat dimulai sejak awal-awal kuliah ini lahir secara bertahap. Setelah menemukan perasaan nyaman tersendiri saat membacanya dan mendapatkan energi tertentu bahwa aku harus menulis esai lebih baik dari yang telah dibaca, aku pun ingin terus lagi dan lagi menyesap manisnya gagasan serta cara mereka menulis.

Tak ingat tepatnya berapa kali aku meminta esai kepada para juara serta 10 besar finalis dari berbagai lomba menulis esai—dengan berbagai tipikal baik ilmiah maupun popular—lewat media sosial semacam facebook maupun twitter. Padahal aku tak mengenal mereka. Continue reading “Menulis Esai Itu, Sulit”

Menulis Esai Itu, Sulit

Pertemuan Perdana Akademi Prestasi

Rencana hari kemarin untuk kumpul perdana bagi mentee Akademi Prestasi akhirnya terlaksana. Dari empat orang itu, sebagaimana saya sebut di jurnal sebelumnya, Ade enggak bisa ikut karena ada kuliah. Tapi tak masalah. Kami semalam merencanakan untuk mengadakan kumpul ini di Warung Jadul, samping FPTK UPI. Selain tempatnya enakeun, terlebih dekat juga.

Sekitar jam 11-an kami berempat (saya, Fay, Hennika, Risna) caw ke lokasi target. Agak molor (cukup) banyak dari rencana sebelumnya, jam 10.30-an.

Setibanya di sana kami langsung memesan makanan dan minuman. Saya sendiri memang lapar pisan soalnya pagi tadi baru makan tahu Sumedang dan 2 buah lontong. Penyakit saya, kalau belum makan nasi, berarti siap-siap saja harus bertahan atas perut yang berontak membuat serangan sakit yang luar biasa. Continue reading “Pertemuan Perdana Akademi Prestasi”

Pertemuan Perdana Akademi Prestasi