Menghasilkan Tulisan Bagus Itu Butuh Keseriusan

Benar, bahwa menulis itu gampang. Tapi menulis dengan kualitas bagus, itu yang sulit. Kalau menghasilkan tulisan-tulisan oke itu gampang, kang Eka Kurniawan mungkin enggak akan berlama-lama nyelesain novel O selama 8 tahun. Saya tidak mengatakan tulisan yang digarap dalam tempo sesingkat-singkatnya jelek lho yah. Ini soal keseriusan dan kekhusyukan saja. Continue reading “Menghasilkan Tulisan Bagus Itu Butuh Keseriusan”

Advertisements
Menghasilkan Tulisan Bagus Itu Butuh Keseriusan

Permintaan untuk Membicarakan Esai

Beberapa menit lalu ada salah seorang pengurus LEPPIM (UKM Penelitian di kampus saya) mengirim pesan via whatsapp. Yang bersangkutan menanyakan kesediaan saya untuk menjadi pengisi acara sharing di UKM tersebut pada hari Kamis lusa. Saya sempat ketemu dan ngobrol dengan doi waktu makan di warung nasi dekat kosan. Doi juga sesama alumnus Pelatihan Pemimpin Bangsa (PPB), tepatnya di tahun lalu. Sementara saya sendiri alumnus PPB tahun 2014. Langsung connect lah saat ketemu, kenalan, dan ngobrol teh. Continue reading “Permintaan untuk Membicarakan Esai”

Permintaan untuk Membicarakan Esai

Belajar Filsafat

P_20181202_214433.jpg

Belajar Filsafat itu menyenangkan. Apalagi buat saya yang menyenangi puisi, menguasai Filsafat akan sangat bermanfaat dalam membantu memproses banyak hal di pikiran sebagai bahan menulis puisi itu sendiri. Filsafat yang memang upaya untuk mencintai kebijaksanaan dengan instrumen akal dan cakupan objek alam semesta dan seluruh isinya ini membutuhkan kesungguhan. Dan kesungguhan ini tentu diperlukan untuk mendekati seluruh cabang ilmu sebenarnya.

Andai kita sungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh fokus dan kemampuan dalam menekuni sesuatu, niscaya keberhasilan itu akan berdamai dengan kita. Sebagaimana pepatah Arab yang terkenal itu, man jadda wa jadaSing saha jalma anu soson-soson, tangtu bakal tinemu jeung kasuksesan.  Continue reading “Belajar Filsafat”

Belajar Filsafat

Panggilan untuk Terus Berpuisi

ws-rendra.jpg

Menulis puisi itu mudah. Anak SD juga sangat bisa melakukannya saat ditugaskan guru bahasa Indonesia waktu jam pelajaran berlangsung. Mudah dengan catatan kita mengabaikan kualitas dari puisi yang dihasilkan. Menulis puisi sama dengan nonton televisi, makan pagi, membaca novel, mengerjakan tugas kuliah, mendengarkan podcast, dan pekerjaan sehari-hari lainnya. Hal yang penting untuk dipunya hanyalah kemauan. Mau atau tidak untuk bergerak melakukannya.

Tapi kan persoalannya bukan itu. Menghasilkan puisi baguslah yang tidak mudah. Nah, standar bagus kemudian jadi pertanyaan berikutnya. Siapa yang berhak mengatakan puisi ini bagus dan tidak bagus? Para kritikus yang secara khusus mengkritisi puisi itu ada, tapi medium publikasi puisi pada saat ini pun tidak cuma dalam bentuk buku dan koran saja, ada banyak platform lain yang bisa jadi panggung bagi para penikmat puisi untuk menyajikan puisinya. Celakanya, tidak ada proses kurasi yang ketat di sini. Para aktivis platform tersebutlah yang jadi kritikusnya. Sebut saja misalnya di media sosial Instagram. Continue reading “Panggilan untuk Terus Berpuisi”

Panggilan untuk Terus Berpuisi

Pikiran yang Dangkal

Saat SMA saking polosnya saya, dulu saya bermimpi bisa menghabiskan sisa hidup di Arab sana. Saya pikir di sana Islam bisa dipelajari dengan sebaik-baiknya karena asal agama itu dari sana. Saya jengah dengan kebingungan atas betapa banyaknya corak pemikiran Islam yang ditemui. Ada yang seperti ini, seperti itu. Ada yang menganggap kelompoknya paling benar dan menyalahkan secara total kelompok lain. Jalan pintasnya barangkali memang belajar Islam langsung dari tempatnya berasal. Saya pun yakin pikiran macam itu terbersit pula di kepala-kepala orang lain dengan lintas usia yang berbeda. Continue reading “Pikiran yang Dangkal”

Pikiran yang Dangkal

Macet Bikin Podcast

podcast-img.jpg

Sudah sangat lama saya tidak rekaman lagi dan menambah episode baru di podcast Teman Duduk. Apakah saya merasa berdosa? Jelas. Setidaknya perasaan itu terhadap diri sendiri karena mangkir dari kerja-kerja istiqomah alias bersetia pada sesuatu. Terakhir itu saat saya ngobrol santai sama bang Iqbal di acara launching buku Bertumbuh di Rabbani Dipatiukur. Dan sebenarnya episode itu karena di-share sama bang Iqbal, jadi banyak yang nge-play-nya. Harusnya saya menindaklanjuti apresiasi dari pendengar dengan terus memproduksi obrolan-obrolan positif lainnya.

Belakangan saya cukup intens mendengarkan podcast-podcast menarik yang saya temui baik dari line square podcast Indonesia maupun aplikasi podcast lain. Dorongan untuk kembali berkarya lewat podcast untuk berbagi apa pun kian menguat. Tapi saya harus ngomongin naon? Ini pertanyaan yang tidak layak ditanyakan sih. Continue reading “Macet Bikin Podcast”

Macet Bikin Podcast

Merasa Kurang Itu Menyakitkan

SuperiorityComplex.png

Merasa kurang itu penting dalam hal-hal tertentu. Saya sedang merasa sangat kurang dalam hal produktivitas berpikir. Saat mengetahui ada kawan yang secara pemikiran menarik, punya sisi berbeda dari kebanyakan, dan itu terlihat dari tulisan-tulisan atau secara langsung saya ketahui lewat diskusi ke diskusi, kemerasakurangan tadi benar-benar terasa betul.

Itu baru kawan saya. Belum lagi orang-orang yang saya temui di dunia internet. Saya biasanya mengkonsumsi produk pikiran dan menikmati cara mereka berpikir dari podcast dan blog-blog yang ditemui saat secara acak saya mencari konten-konten thoyib bersifat pribadi di internet. Continue reading “Merasa Kurang Itu Menyakitkan”

Merasa Kurang Itu Menyakitkan