Teruntuk Pahlawan: Guru-guru Teladan

20160108_202520.jpg
Ibu, guru PAI di SMA sekaligus Ustadzah di Pondok. Bapak guru di Pondok. 

Membuka media sosial, mata ini disuguhi dengan berbagai kata-kata dan gambar-gambar yang berisi ucapan selamat hari guru. Saya jadi tiba-tiba bersemangat sekaligus bercampur haru. Bagi saya pribadi, ucapan selamat hari guru berarti selamat hari bapak, selamat hari mamah, selamat hari teteh, selamat hari kakek, selamat hari uwa, dan selamat hari saya sendiri. Yang saya selamati barusan karena mereka adalah guru-guru. Orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, memberi pencerahan di hampir sepanjang hidupnya. Saya mungkin yang masih belum sah mendapat predikat pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Membicarakan tentang jasa-jasa guru tak ubahnya seperti membincangkan aliran air di sungai, dari hulu ke hilir. Tidak akan ada ujungnya. Kalaupun berakhir di lautan luas, air itu akan kembali menuju hulu lalu mengalir lagi ke hilir dan arusnya berakumulasi di tempat yang lapang. Begitu seterusnya menjadi satu perputaran tanpa henti yang secara teori dinamakan siklus hidrologi. Continue reading “Teruntuk Pahlawan: Guru-guru Teladan”

Pemuda yang Kembali ke Desa

sip.jpg
Berfoto bersama setelah wawancara dan melakukan permaianan

Ini adalah catatan saya tentang  pengalaman serta refleksi setelah mengikuti sebuah acara yang diinisiasi Indonesia Youth Inspiration (IYI) Bandung bernama Muda Balik Desa. Apa itu IYI? Silakan dikepoin sendiri di IG nya @idyouthins!

Saya menuliskan ini karena merasa kegiatan Muda Balik Desa memberikan pengaruh positif bagi diri saya. Sayang kalau sensasinya hanya dirasakan oleh diri sendiri. Langsung saja ya. Selamat membaca!

Hari Pertama

Meeting point  untuk berangkat ke lokasi telah disepakati ketika gathering  seminggu sebelumnya yaitu di depan Telkom University. Kami berangkat dari sana dengan sebuah angkot. Sementara para panitia naik motor dengan beberapa pertimbangan. Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya perjalanan bersesak-sesak ria di angkot berakhir juga. Continue reading “Pemuda yang Kembali ke Desa”

Lari dari Kenyataan

run2-dunialari.com-as.jpg

Hari ini hari minggu. Tidak ada yang spesial sebenarnya buat saya di hari ini. Biasa-biasa saja. Saya hanya terjerat dalam perangkap bernama bosan. Mungkin karena aktivitas setiap hari terlalu monoton. Tiap hari hanya nonton. Televisi maksudnya. Pagi-pagi tuyul dan mbak Yul. Dilanjut Jinny oh Jinny dan FTV. Selebihnya berita dan talkshow di Net atau Metro TV.

Setelah saya menulis beberapa kalimat untuk sebuah postingan di blog sembari mendengarkan MP3 Dygta, saya merasa begitu jenuh. Ada perasaan yang tak mampu saya jelaskan. Sebuah perasaan yang berakumulasi dari kecewa, sesal, khawatir, minder, dan perasaan negatif lain. Ketika seseorang sedang ada di titik itu, pilihan melarikan diri sangat tergantung dengan dirinya sendiri. Lari ke lembah curam bernama kemaksiatan atau maraton ke ruang-ruang kemanfaatan. Saya memilih untuk minggat dari jebakan perasaan ini. Tapi tetap masih gamang. Continue reading “Lari dari Kenyataan”

Mendamaikan Tradisi dan Modernisasi

IMG-20161111-WA0002.jpg

Kemarin siang saya berkesempatan mengikuti acara seminar kebudayaan yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana UPI. Seminar bertajuk “Menunggang Tradisi Menggapai Modernisasi” ini menghadirkan dua pembicara yang terdiri dari unsur budayawan dan sejarawan.  Pembicara pertama adalah Bapak Yoyo C. Durachman dan pembicara kedua, adalah sejarawan muda kondang, mas J.J. Rizal.

Awalnya saya tidak berencana mengikuti acara ini karena bentrok dengan kemungkinan mengurus surat izin kegiatan mengikuti Indonesian Youth Dream. Namun, setelah tahu bahwa surat izinnya belum jadi, saya banting kemudi untuk segera mengikuti acara ini. Berhubung hari hujan, dan kalau pulang juga akan tidak efektif melakukan kegiatan apa, akhirnya saya mengontak kakak kelas—yang juga panitia—untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan untuk mendaftar atau tidak. Continue reading “Mendamaikan Tradisi dan Modernisasi”

Yang Datang Bersama Hujan

Tarlton Original Oil Painting Abstract Rain art ebay 004i (1).jpg

Di luar sedang hujan. Hati-hati, jangan sampai terhisap dalam pusaran muslihat yang datang bersamanya. Orang-orang biasa memanggilnya kenangan. Siapa yang pertama kali mengaitkan antara hujan dan kenangan, saya tidak terlalu peduli. Biarlah itu selalu jadi misteri sampai kelak kita tua renta. Biarlah pertanyaan itu dijawab oleh anak cucu. Biar ada pertanyaan yang terus menghantui benak mereka. Benak saya juga tentunya.

Beberapa menit lalu (ketika saya mulai mengetik tulisan ini) saya habis baca postingan terbaru di blog yang sering sekali saya kunjungi. Selain karena pemiliknya orang yang memiliki pemikiran otentik, saya suka dengan gaya menulisnya. Sederhana tapi tetap mampu membuat saya terbius dan ingin kembali lagi dan lagi menyeruput manisnya kalimat demi kalimat yang tersaji di tulisannya. Apa judul tulisan yang saya baca barusan, itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting kamu selesai membaca racauan saya. He.    Continue reading “Yang Datang Bersama Hujan”

Belajar dari Banyak Orang

1477869763336.jpgAkhir-akhir ini saya begitu suka mengikuti beragam acara. Tentu yang tema acaranya bersesuaian dengan arah kesukaan saya. Hal-hal yang berkaitan tentang tulis-menulis, pengabdian, leadership, entrepreneur, dan beberapa hal lain selalu mengundang percik antusiasme di benak saya untuk berkesempatan jadi pesertanya. Saya banyak belajar dari orang-orang yang sedari muda berpikiran jauh melampaui umurnya. Kalau iri dibolehkan, saya akan memilih sifat itu atas kekaguman saya terhadap keunggulan yang mereka miliki. Tapi itu tetap tak diizinkan. Dengan nada yang kurang lebih sama, paling banter hal itu mestinya jadi cambukan untuk memperbaiki kapasitas diri. Continue reading “Belajar dari Banyak Orang”

Sepotong Senja Untuk Pacarku

cerpen yang memikat. saya belum paham dengan apa yang dimaksud cerpen ini. tapi biarlah. supaya ada alasan bagi saya untuk membaca kembali dan kembali cerpen ini. rasa-rasanya hati saya berbunga-bunga ketika membacanya. dan ingin selalu merasakan ketika itu.

Dunia Sukab

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam…

View original post 1,703 more words